Menganyam Ketupat, Merawat Warisan Banjar
Aulia salah satu pegawai FUGO Hotel Banjarmasin bersama rekannya bersyukur mendapat guru handal membuat anyaman ketupat. Keduanya dibimbing pengrajin Kampung Ketupat Sungai Baru. (Foto - Olpah Sari).
Suara daun nipah yang disilangkan terdengar lirih di Lobbi utama di FUGO Hotel Banjarmasin, Rabu siang (22/04/2026).
Di tempat itu, pegawai hotel, tamu, hingga komunitas lokal duduk melingkar, mencoba satu hal yang tampak sederhana menganyam ketupat. Namun, di tangan para pemula, janur yang lentur justru menjadi ujian kesabaran.
Beberapa kali anyaman terlepas. Ada yang terlalu kencang hingga daun patah, ada pula yang longgar hingga bentuknya tak beraturan.
Tawa kecil pecah, diselingi upaya mengulang dari awal. Dari proses itulah, makna kegiatan ini perlahan terasa merawat tradisi bukan perkara instan.
“Wah ulun ngulang lagi ini, ngalih-ngalih nyaman hehehe.Tapi ini effort nya luar biasa hingga bisa bikin ketupat ala Idul Fitri,” ujar Aulia, salah satu pegawai FUGO Hotel Banjarmasin, yang antusias belajar membuat anyaman ketupat.
Ditemani Karen, serta teman-temannya yang lain dan tamu undangan spesial kegiatan “Kartini Berdaya, Bumi Terjaga”, perempuan muda cantik pun berulang kali membuat anyaman ketupat. Namun karena baru pertama kami memcoba ia pun tak sempurna membuat ketupatnya.

Experience and Culture Manager FUGO Hotel Banjarmasin, Meggie Carla Jacobus, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar aktivitas kreatif, melainkan bagian dari upaya menjaga budaya sekaligus lingkungan.
“Momentum ini kami hadirkan untuk merefleksikan peran perempuan sekaligus mengajak masyarakat menjaga bumi melalui langkah nyata,” ujarnya.
Kegiatan diawali dengan workshop pembuatan ketupat dari pucuk daun nipah tradisi khas Banjar yang sarat nilai. Bagi peserta, ini bukan hanya belajar teknik, tetapi juga memahami filosofi di balik anyaman yang diwariskan turun-temurun.
“Workshop ini juga menjadi sarana mengenalkan kembali kearifan lokal kepada generasi muda,” kata Meggie.
Dalam prosesnya, peserta yang dipandu Asliani, pengrajin sekaligus penggiat pariwisata diajak memahami setiap tahap dari melilitkan janur dengan arah berlawanan, menyilangkan pola atas-bawah, hingga mengunci dan merapikan anyaman. Sederhana secara teori, namun menuntut ketelitian tinggi dalam praktik.
Maya, General Manager FUGO Hotel Banjarmasin, mengaku baru menyadari betapa rumitnya membuat ketupat.
“Ternyata tidak mudah. Harus sabar dan teliti. Tapi justru di situ serunya, jadi lebih menghargai tradisi,” ujarnya.

Kegiatan ini turut melibatkan pengrajin dari Pokdarwis Kampung Ketupat Sungai Baru yang menjadi penjaga keterampilan anyaman ketupat Banjar. Kehadiran mereka menjadi jembatan pengetahuan antara generasi lama dan baru.
Selain workshop, FUGO Hotel juga menghadirkan pameran produk UMKM berbasis eco-green. Beragam produk ramah lingkungan ditampilkan mulai dari fesyen hingga olahan kreatif berbahan berkelanjutan yang mengedepankan pengurangan limbah dan nilai ekonomi.
Tak berhenti di situ, hotel juga meluncurkan alat pres botol sebagai bagian dari komitmen menuju gerakan nol sampah. Inisiatif ini lahir dari keprihatinan terhadap persoalan plastik di Banjarmasin.
“Kami berupaya mengolah dan memanfaatkan kembali limbah plastik,” ujar Meggie.
Ia menambahkan, pihaknya juga menggandeng KF One Tartar Desk Program dalam strategi pemberdayaan pengrajin lokal dan pengelolaan sampah, termasuk pemanfaatan eko-enzim dari limbah organik.
Dukungan datang dari pemerintah. Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kota Banjarmasin, Apriansyah, menilai kegiatan ini sebagai langkah konkret mengangkat potensi budaya lokal sekaligus memperkuat pariwisata berbasis kearifan lokal.(Olpah Sari).

