Menanam Benih Kebajikan di Hati Buah Hati

0
BUAH HATI

Foto Ilustrasi - Kasih sayang dan nilai kebajikan dimulai dari asuhan seorang ibu. (Foto - Dok Economic Travelling.Com).

Oleh: Abdul Munir

Ada sebuah adagium klasik dari tokoh kependudukan Haryono Suyono yang patut kita renungkan kembali keluarga adalah tempat paling layak bagi kemanusiaan untuk tumbuh bermartabat dan memberikan manfaat.

Namun, di tengah riuh rendah perayaan Hari Kartini, kita sering kali terjebak pada simbolisme kebaya dan seremoni, hingga kita alpa bahwa emansipasi sejati bermula dari meja makan dan ruang tamu.

Perempuan, dalam narasi domestik yang usang, kerap diposisikan sebagai sosok yang harus bangun sebelum mata suami terbuka dan baru boleh terlelap setelah dapur sunyi.

Padahal, peran perempuan dan keluarga jauh melampaui urusan domestikasi. Di pundak merekalah, kualitas peradaban sedang dipertaruhkan melalui pendidikan karakter anak sejak dini.

Sering kali kita mengurut dada melihat remaja yang tumbuh menjadi pribadi yang asing dari nilai agama dan sosial. Mereka membangkang, merusak, dan tersesat dalam rimba penyimpangan.

Kita lantas menghakimi mereka seolah-olah kejahatan itu adalah bawaan lahir. Padahal, manusia lahir dengan fitrah yang suci, putih tanpa noktah. Lingkungan sosial, tekanan ekonomi, dan carut-marut budayalah yang perlahan-lahan mengukir wajah kejahatan pada diri mereka.

Imam Ali pernah bertutur dengan sangat puitis kepada putranya, hati yang muda ibarat tanah perawan. Apa pun benih yang kita taburkan, itulah yang akan ia terima.

Sebelum tanah itu mengeras, sebelum pikiran dipenuhi sampah informasi, di sanalah kesempatan emas untuk mendidik. Hafizh Syirazi, pujangga besar Iran, pun melukiskan bahwa cinta sejati bukanlah sesuatu yang baru dikembangkan di dunia, melainkan bekal yang sudah kita bawa dari “sana”.

Islam dan para pemikir realis sepakat bahwa manusia hadir dengan watak rohani yang sehat. Dosa dan kerusakan hanyalah “penyakit” yang datang dari luar.

Bertrand Russel, filsuf yang tajam itu, mengingatkan bahwa dorongan buruk hanya bisa dicegah dengan pendidikan yang presisi. Tanpa komitmen orang tua di usia dini, kejahatan hanya akan diam menunggu saat “polisi” moral dalam diri anak sedang lengah.

Setiap kebiasaan buruk yang dipupuk di masa kecil akan menjadi rintangan abadi bagi kebaikan di masa depan. Russel menekankan bahwa jika fondasi kebiasaan pertama kokoh, ia akan merasuk menjadi naluri.

Sebaliknya, kebiasaan baru yang dipaksakan saat dewasa jarang bisa menandingi cengkeraman kesan masa kecil. Itulah mengapa nilai kejujuran bahkan dalam urusan sekecil candaan,harus ditanamkan sejak usia dini. Dusta kecil adalah pintu gerbang menuju kebohongan besar yang menghancurkan.

Masri Singarimbun pernah mencatat bahwa struktur sosial masyarakat kita cenderung mendukung fertilitas yang tinggi. Namun, kuantitas tanpa kualitas adalah kerapuhan.

Sel-sel otak anak yang sedang subur harus segera diisi dengan keteladanan orang tua sebagai benteng pertahanan dari intervensi luar yang merusak.

Ending pesannya jelas jangan tinggalkan generasi kita dalam keadaan lemah. Karena mendidik anak bukan sekadar memberi mereka fasilitas, melainkan memastikan “tanah perawan” di hati mereka menumbuhkan pohon kebajikan yang akarnya menghujam ke bumi dan buahnya memberi manfaat bagi sesama.

Penulis adalah Budayawan & Akademisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!