Jangan Lama-Lama! Pelepasan Haji Harus Ringkas

0
WAMEN HAJI & UMRAH

Wakil Menteri Haji dan Umrah , Dahnil Anzar Simanjuntak berbincang akrab dengan jemaah haji pertama Indonesia yang berangkat ke tanah suci. (Foto - Humas Kementerian Haji & Umrah).

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, melontarkan peringatan tegas kepada pemerintah daerah, untuk hentikan kebiasaan seremonial panjang dalam pelepasan jemaah calon haji.

Ia menilai tradisi yang berlarut-larut justru berisiko menggerus kebugaran jemaah sebelum menempuh perjalanan ibadah yang menuntut fisik prima.

“Jangan lama-lama. Ringkas saja. Jangan sampai jemaah kelelahan hanya karena menunggu acara seremonial,” tegas Dahnil, Rabu (22/04/2026) di Jakarta, seperti dilansir laman Kementerian Haji dan Umrah.

Menurutnya, pola pelepasan yang berulang dari tingkat daerah hingga embarkasi tidak lagi relevan jika berdampak pada kesehatan.

Apalagi, komposisi jemaah Indonesia didominasi kelompok rentan, lanjut usia, risiko tinggi, hingga penyandang disabilitas.

 

Kloter terakhir Jemaah Haji Indonesia tahun lalu  saat di  Madinah. (Foto-MCH Indonesia 2025).

Bagi mereka, waktu istirahat bukan sekadar kebutuhan, melainkan faktor penentu kesiapan menjalankan ibadah di Tanah Suci.

“Ini bukan soal seremoni, ini soal keselamatan dan kesiapan jemaah,” ujarnya menekankan.

Peringatan itu datang beriringan dengan dimulainya operasional haji 1447 H/2026 M. Sebanyak 391 jemaah kloter pertama Embarkasi Pondok Gede (JKG 1) telah diberangkatkan menuju Madinah melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Rabu dini hari.

Keberangkatan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian panjang layanan haji tahun ini yang, menurut pemerintah, harus berorientasi penuh pada kenyamanan jemaah, bukan kemeriahan seremoni.

Dahnil juga mengingatkan pemerintah daerah untuk tidak menjadikan pelepasan haji sebagai ajang simbolik yang berlebihan.

Ia meminta seluruh rangkaian kegiatan disederhanakan dan disesuaikan dengan jadwal keberangkatan agar tidak memicu kelelahan sejak awal.

“Fokus kita jelas: jemaah berangkat dalam kondisi sehat, tenang, dan siap ibadah. Bukan lelah sebelum sampai,” katanya.

Ia menegaskan, kualitas penyelenggaraan haji tidak hanya diuji di Tanah Suci, tetapi sejak langkah pertama jemaah meninggalkan rumah.

Karena itu, koordinasi antara daerah dan panitia penyelenggara haji dinilai krusial untuk memastikan setiap proses berjalan efisien dan manusiawi.

Dengan nada tegas, pemerintah mengirim pesan jelas kurangi seremoni, tambah kepedulian. Sebab bagi jemaah, perjalanan ini bukan sekadar keberangkatan melainkan awal dari ibadah yang membutuhkan kondisi fisik dan mental terbaik.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!