Rombak Birokrasi,Yamin Eksekusi “Kanker” Pola Lama!
Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR saat memberikan arahan kepada Birokrat yang dilantik.(Foto - Media Center Banjarmasin).
Wali Kota Banjarmasin, HM Yamin, mengirimkan sinyal keras kepada seluruh jajaran birokrasi, bahwa Era zona nyaman telah berakhir.
Dalam pelantikan dan pengambilan sumpah ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Aula Kayuh Baimbai, Kamis (16/04/2026), Yamin menegaskan bahwa pergeseran jabatan ini adalah operasi besar untuk membedah pola kerja yang tidak produktif.
“Pelantikan ini bukan seremoni kaleng-kaleng. Saya instruksikan bunuh pola lama! Birokrasi kita harus beralih menjadi mesin yang lebih cepat, responsif, dan tanpa jarak dengan masyarakat,” tegas Yamin dengan nada lugas.
Bagi Yamin, sumpah jabatan bukan sekadar pembacaan teks, melainkan pakta integritas yang harus dibayar dengan hasil nyata. Ia menyoroti bayang-bayang pola kerja konvensional yang masih menjadi parasit bagi percepatan kinerja Pemerintah Kota Banjarmasin.
Kepala BKPSDM, Totok Agus Daryanto, yang juga baru saja dikukuhkan dalam nomenklatur baru menjelaskan bahwa agenda ini adalah langkah taktis penyesuaian organisasi.
Selain perubahan struktur di tubuh BKPSDM dan Diskominfo, pelantikan ini mencakup ratusan pejabat administrator, pengawas, hingga pengukuhan CPNS menjadi PNS.
Sejumlah nama strategis kini menduduki posisi kunci, di antaranya Hendra (Sekretaris Satpol PP), Yul Poliatma Rachmanu (Penanaman Modal), dan Ariffian Noor Subhani (Dinas Pendidikan).
Penguatan internal juga dilakukan di tubuh BKPSDM melalui Rahmasari dan Hj. Ellis Surialda, sementara sektor informatika diperkuat oleh tokoh seperti Ibnul Qayyim Islamy dan Satria Yudha Lesmana.
Kejar Target: Tidak Ada Kursi Kosong
Meski ratusan pejabat telah dilantik, Pemkot Banjarmasin mengakui masih adanya celah pada beberapa jabatan strategis yang kosong. Namun, birokrasi tidak akan dibiarkan lumpuh.
“Arahan Wali Kota sangat jelas jangan ada jeda. Begitu rekomendasi turun, eksekusi pemerataan jabatan langsung kami lakukan. Roda pemerintahan harus melesat tanpa hambatan struktural,” timpal Totok Agus Daryanto.
Yamin menekankan bahwa perubahan struktur ini harus berdampak langsung ke “akar rumput”. Salah satu isu yang ia garis bawahi adalah tata kelola sampah.
Ia menuntut para pejabat baru tidak hanya duduk di balik meja, tetapi turun memberikan edukasi pemilahan sampah langsung ke sumbernya.
Transformasi ini adalah janji politik yang sedang diwujudkan Banjarmasin yang tidak hanya besar secara infrastruktur, tapi juga lincah dan bersih secara birokrasi.(Ridzky Husna).
