Bedah Total Banjarmasin Mengakhiri Era Pejabat “Asal Bapak Senang”

0
WALIKOTA MODERN

Foto Ilustrasi - Era kepemimpinan Yamin-Ananda yang dibutuhkan adalah ASN dan Pejabat yang berkinerja baik, tangguh serta adaptif. (Foto - Dok Risanta).

Oleh: Muhammad Risanta

Pelantikan ratusan pejabat di Aula Kayuh Baimbai baru-baru ini bukanlah sekadar seremonial rotasi kursi yang lazim kita saksikan.

Bagi mata yang tajam, ini adalah sebuah “pembedahan jantung” birokrasi. Wali Kota Banjarmasin, HM Yamin, sedang mengirimkan pesan tanpa kompromi, era pejabat penikmat fasilitas yang hanya pandai berucap “asal bapak senang” telah tamat.

Ini adalah upaya amputasi massal terhadap mentalitas lamban yang selama ini menjadi parasit dalam tubuh pemerintahan.

Secara akademis, langkah strategis Yamin merupakan manifestasi dari Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership). Dia tidak lagi sekadar mengelola administrasi, melainkan sedang merekayasa ulang Budaya Organisasi Pemerintah Kota Banjarmasin.

Dalam disiplin ilmu manajemen, budaya adalah “ruh” dari setiap gerak. Selama ini, birokrasi kita seringkali terjebak dalam Status Quo Bias, sebuah kondisi nyaman yang membuat inovasi mati kutu.

Yamin memecahkan kebekuan itu dengan paksa, menuntut perubahan dari budaya formalitas menuju budaya berbasis kinerja (Performance-Based Culture).

Namun, mengubah struktur jauh lebih mudah daripada mengubah Perilaku Organisasi. Nah disinilah  tantangan terberatnya.

Pejabat yang baru dilantik harus menyadari bahwa jabatan bukan sekadar prestise, melainkan tanggung jawab moral. Secara psikologi organisasi, instruksi Wali Kota untuk “meninggalkan pola lama” adalah desakan agar ASN keluar dari inersia.

Tidak boleh ada lagi distorsi informasi atau laporan fiktif demi menyenangkan atasan. Rakyat tidak butuh laporan indah di atas kertas, rakyat butuh aksi nyata di lapangan.

Dari perspektif Manajemen Operasional, restrukturisasi ini adalah upaya penghapusan bottleneck (hambatan arus). Perubahan nomenklatur di berbagai SKPD, mulai dari BKPSDM hingga Diskominfo, harus bermuara pada efisiensi layanan.

Dalam teori Lean Management, setiap langkah birokrasi yang tidak memberikan nilai tambah bagi masyarakat harus dipangkas.

Itulah mengapa isu sampah dan pelayanan dasar ditekankan oleh Wali Kota, karena di situlah efektivitas operasional sebuah kota diuji secara nyata.

Sebagai penulis, saya berpendapat sudah saatnya seluruh ASN dan pejabat yang baru saja mengambil sumpah Satu spirit untuk Banjarmasin adalah harga mati. Jangan jadikan instruksi Wali Kota sebagai angin lalu.

Inilah saatnya menyinkronkan visi pimpinan dengan eksekusi di akar rumput. Tidak ada tempat bagi mereka yang masih memelihara mentalitas birokrat kuno yang kaku dan tertutup.

Jika bedah total ini berhasil, Banjarmasin akan lahir kembali dengan wajah birokrasi yang lincah (agile) dan transparan.

Namun, jika para pejabat di bawahnya tetap bersikap pasif dan hanya menunggu perintah, maka momentum emas ini akan menguap menjadi sekadar catatan sejarah perpindahan kursi.

Pilihannya hanya dua, yakni berakselerasi dengan napas perubahan Yamin, atau tereliminasi oleh tuntutan zaman yang semakin bergerak dinamis.

Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia & Akademisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!