Selepas Lebaran, Menakar Disiplin dari Hal yang Sederhana

0
RISANTA BICARA

Foto Ilustrasi - Dok Risanta.

Catatan Ringan Muhammad Risanta

Lebaran selalu punya cara sendiri untuk membuat kita berhenti sejenak. Menarik napas lebih panjang, pulang ke akar, lalu kembali dengan perasaan yang setidaknya lebih ringan.

Tapi seperti semua jeda, selalu ada satu momen yang menentukan adalah hari pertama kembali bekerja.Apakah dia ASN, pegawai swasta atau seperti kami Jurnalis yang tak ada libur untuk peliputan.

Di momen ini kita akan tahu bagaimana disiplin diuji. Bukan dalam bentuk yang rumit, melainkan hal-hal sederhana,datang tepat waktu, membuka meja kerja, merespons tugas yang menunggu, dan menyapa pekerjaan dengan kesadaran penuh.

Kami menilai langkah Sekretaris Daerah Kalimantan Selatan, Muhammad Syarifuddin, yang langsung melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah SKPD pascaapel perdana, bisa dibaca sebagai simbol.

Bukan semata ingin mencari siapa yang absen, melainkan memastikan satu hal apakah organisasi ini benar-benar “bangun” setelah libur panjang.

Sebagai akademisi, kami melihat disiplin kerja pascalebaran bukan sekadar persoalan individu. Ini adalah refleksi dari budaya organisasi.

Karena pada dasarnya, perilaku pegawai tidak lahir dari ruang kosong. Perilaku itu dibentuk, dipelihara, bahkan, dalam banyak kasus, ditoleransi oleh sistem yang lebih besar.

Budaya organisasi yang sehat tidak hanya bicara aturan, tetapi kebiasaan. Tentang bagaimana nilai-nilai kerja dihidupkan sehari-hari.

 

Sekdaprov Kalsel HM Syarifuddin didamping sejumlah pejabat lainnya keliling sidak ke sejumlah instansi. (Foto – Dok Biro Adpim Kalsel).

Apakah ketepatan waktu menjadi kesadaran bersama, atau hanya sekadar formalitas di atas kertas. Apakah pelayanan dipandang sebagai kewajiban administratif, atau sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Di sisi lain, dari sudut pandang perilaku organisasi, momen pascalebaran adalah fase transisi. Ada perubahan ritme, ada adaptasi psikologis. Wajar jika tidak semua orang langsung kembali ke performa terbaiknya.

Jadi tak berlebihan kalau disinilah organisasi seharusnya hadir,bukan hanya menuntut, tetapi juga mengelola proses perubahan itu.

Disiplin tidak cukup ditegakkan dengan sidak. Ia perlu ditumbuhkan.

Caranya?
Pertama, dengan keteladanan. Pemimpin yang hadir lebih awal, bekerja lebih rapi, dan melayani dengan sungguh-sungguh akan menciptakan efek yang jauh lebih kuat daripada sekadar instruksi.

Kedua, dengan sistem yang jelas. Target kerja yang terukur, evaluasi yang konsisten, dan konsekuensi yang adil akan membuat disiplin tidak lagi bergantung pada suasana hati.

Ketiga, dengan makna. Pegawai yang memahami mengapa pekerjaannya penting, tentunya bagi organisasi dan masyarakat, yang cenderung memiliki komitmen yang lebih kuat. Mereka tidak bekerja karena diawasi, tetapi karena merasa bertanggung jawab.

Sebagai jurnalis, kami juga melihat ada ekspektasi publik yang tidak pernah ikut libur. Masyarakat tetap butuh layanan, tetap punya urusan, tetap menunggu respons. Pada fase ini, menegaskan bahwa disiplin birokrasi bukan lagi urusan internal, melainkan menyangkut kepercayaan.

Sidak yang dilakukan pemerintah tentu penting. Karena sejatinya memberi pesan bahwa tidak ada toleransi terhadap kemalasan yang berlarut.

Tapi yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah itu. Apakah disiplin menjadi budaya, atau hanya reaksi sesaat karena pengawasan.

Menurut pandangan kami sederhannya  pascalebaran seharusnya menjadi momentum kecil untuk memulai ulang. Bukan sekadar kembali bekerja, tetapi kembali dengan kesadaran yang lebih utuh.

Karena disiplin, dalam bentuk paling sederhana, adalah cara kita menghargai waktu, pekerjaan, dan kepercayaan yang diberikan.

Dan mungkin, di situlah ukuran paling jujur dari sebuah organisasi,
bukan saat dia diawasi, tetapi saat dia memilih untuk tetap tertib meski tidak ada yang melihat. Selamat bekerja dan semangat pagi !.

Penulis adalah Seorang Jurnalis Senior CNN Indonesia dan Akademisi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!