Jawa Timur, Surga Kuliner dari Malang hingga Batu

0
SYAHRI MALANG

Penulis bersama istri saat menelusuri kota Malang dan Batu, sembari menikmati sedapnya kuliner Jawa Timuran. (Foto - Syahri).


Oleh Syahriyanto Ruslan, Jurnalis Radio Elshinta Jakarta

Ada satu hal yang selalu membuat perjalanan terasa lebih hidup yakni makanan.

Bagi saya dan istri, berburu kuliner bukan sekadar mengisi perut, tetapi cara paling jujur untuk mengenal sebuah daerah.

Dan di momen Lebaran kali ini, langkah kami membawa cerita itu ke Kota Malang dan Kota Batu, dua kota berhawa sejuk yang seperti tak pernah kehabisan kejutan rasa.

Sejak hari pertama Lebaran hingga penghujung libur panjang, kami menyusuri sudut-sudut kota, mengikuti aroma yang kadang lebih tajam daripada penunjuk arah.

Jawa Timur memang bukan sekadar tujuan wisata, tetapi adalah panggung besar bernama “surga kuliner” julukan yang terasa sangat layak.

 

Penulis saat berburu kuliner Sop Kikil Sapi di Kota Batu, Malang. (Foto – Syahri).

Di sini, rasa tidak pernah setengah-setengah. Gurihnya tegas, pedasnya berani, dan petis—bumbu hitam pekat khas pesisir yang hadir seperti tanda tangan yang tak bisa ditiru.

Dari Surabaya hingga pelosok Madura, setiap sajian seperti menyimpan cerita panjang tentang sejarah, percampuran budaya, dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Nama-nama legendaris pun bertebaran. Ada Rawon Nguling dengan kuah hitam kluwek yang dalam dan misterius, lalu Rujak Cingur yang unik dengan perpaduan sayur, buah, dan irisan cingur bersiram petis.

Belum lagi Lontong Balap yang sederhana namun penuh karakter, serta Pecel Madiun dengan bumbu kacang harum daun jeruk yang begitu khas.

Namun, perjalanan kami kali ini menemukan satu cerita kecil yang justru membekas lebih dalam semangkuk sop kikil sapi di sudut Malang.

Sore itu, udara mulai turun dingin. Kami melangkah ke sebuah tempat sederhana yang cukup dikenal para pencinta kuliner malam adalah Kikil Sapi Pak Pri.

Sepintas sederhana dan tidak ada kemewahan di sana. Hanya kursi seadanya, lampu yang temaram, dan antrean yang diam-diam menjadi bukti kelezatan.

 

Meskipun di pinggir jalan soal rasa jajanan Jawa Timur memang tiada tandingnya. (Foto – Syahri).

Semangkuk sop kikil datang dengan kuah merah kental, beraroma rempah yang langsung menguar. Kikilnyalembut, nyaris seperti jelly seakan meleleh di lidah, seru anak-anakku yang ikut berburu kuliner.

Hangatnya kuah berpadu dengan pedasnya sambal, menciptakan sensasi yang bukan hanya menghangatkan tubuh, tetapi juga menghadirkan rasa pulang yang sederhana.

Di meja sebelah, obrolan keluarga lain terdengar riuh. Ada yang menambah daun bawang, ada yang menambah sambal, semua larut dalam cara mereka masing-masing menikmati.

Lebaran di Malang Jawa Timur, membuat saya sadar, kuliner bukan hanya tentang rasa, tetapi tentang momen yang mengikatnya.

Alternatif lain seperti Dapur Ibu Ima dan Kikil Barokah Bu Didi juga menawarkan pengalaman serupa sederhana, hangat, dan jujur. Setiap tempat punya sentuhan sendiri, namun semuanya bertemu pada satu hal tentang kelezatan yang lahir dari tradisi.

Sejatinya kalau mau jujur Jawa Timur itu mengajarkan bahwa makanan bukan sekadar hasil olahan dapur. Makana  adalah narasi panjang tentang tanah yang subur, laut yang kaya, dan masyarakat yang menjaga rasa sebagai identitas.

Perjalanan kami di Malang dan Batu mungkin akan berakhir, tetapi cerita tentang rasa itu tidak. Ia akan tinggal, seperti aroma rempah yang melekat di ingatan.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa Jawa Timur layak disebut surga kuliner, karena setiap suapan bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menceritakan sesuatu.Jika ada waktu kami kembali kesini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!