Akselerasi Bank Kalsel, Dari BPD ke Bank Devisa

0
RISANTA BANK KALSEL

Oleh: Muhammad Risanta
Jurnalis Senior CNN Indonesia – Akademisi

Langit Banjarmasin cerah dan aroma lebaran masih menyelimuti ketika tulisan ringan ini kami buat.

Tulisan sederhana ini hanyalah sebagai salah satu goresan dan sudut pandang berbeda kami, ketika Banua bangga memiliki bank daerah mumpuni, berkelas di era kepimpinan Fachrudin.

Di tengah lanskap industri keuangan yang bergerak cepat dan semakin kompetitif, transformasi bukan lagi sekadar jargon korporasi. Sejatinya transformasi itu adalah kebutuhan strategis.

Dalam konteks ini, langkah Bank Kalsel memasuki fase akselerasi menuju bank devisa menjadi menarik untuk dibaca,bukan hanya sebagai agenda bisnis, tetapi juga sebagai fenomena ekonomi daerah.

Sebagai jurnalis, kami pribadi melihat transformasi Bank Kalsel sebagai narasi tentang keberanian membaca perubahan. Bank ini tidak lagi berdiri dalam zona nyaman sebagai bank pembangunan daerah (BPD), melainkan mulai menempatkan diri dalam peta persaingan yang lebih luas.

 

Foto Ilustrasi – Dok Redaksi Economic Travelling.Com.

Di usia ke-62, langkah ini menunjukkan satu hal penting adalah kesadaran bahwa masa depan perbankan tidak memberi ruang bagi stagnasi.

Namun sebagai akademisi, kami memandang akselerasi ini harus dibaca lebih dalam sebagai proses struktural yang membutuhkan kesiapan menyeluruh.

Transformasi menuju bank devisa bukan hanya soal ekspansi layanan, tetapi tentang kesiapan sistem, tata kelola, dan kapasitas kelembagaan dalam menghadapi kompleksitas transaksi global.

Perjalanan panjang Bank Kalsel sejak 1964 menjadi fondasi yang tidak bisa diabaikan. Dari fase ekspansi jaringan, bertahan dalam tekanan ekonomi, hingga memasuki era digital, bank ini menunjukkan pola adaptasi yang relatif konsisten. Transformasi hari ini adalah kelanjutan logis dari proses tersebut.

Digitalisasi menjadi titik masuk yang paling kasatmata. Kehadiran layanan seperti AKSEL by Bank Kalsel menunjukkan pergeseran orientasi dari layanan berbasis kantor ke ekosistem berbasis teknologi.

Ini bukan sekadar inovasi, tetapi juga strategi bertahan di tengah disrupsi yang didorong oleh fintech dan perubahan perilaku nasabah.

Dari perspektif akademik, digitalisasi ini memiliki implikasi luas. Ia menurunkan biaya transaksi, meningkatkan efisiensi operasional, sekaligus memperluas jangkauan layanan.

Namun di saat yang sama, ia juga menuntut kesiapan sumber daya manusia dan sistem keamanan yang lebih kuat.

Di sisi lain, ekspansi inklusi keuangan melalui jaringan agen menjadi langkah yang tidak kalah strategis. Bank Kalsel tidak hanya memperluas pasar, tetapi juga memperdalam penetrasi layanan ke masyarakat yang selama ini berada di pinggiran sistem keuangan formal.

 

Foto Ilustrasi – Dua calon nasabah Bank Kalsel sedang berkonsultasi dengan petugas Customer Servis Bank Kalsel. (Foto – Tim Redaksi Economic Travellng.Com).

Sebagai jurnalis, kami melihat ini sebagai cerita tentang kedekatan. Bank Kalsel tidak sekadar hadir sebagai institusi, tetapi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat “sahabat Urang Banua”.

Kedekatan inilah menjadi modal sosial yang sangat kuat, terutama di tengah kompetisi dengan bank besar dan platform digital nasional.

Namun sebagai akademisi, kami juga menilai kedekatan tersebut harus diikuti dengan penguatan kapasitas. Modal sosial tanpa dukungan sistem yang kuat hanya akan menjadi keunggulan sementara.

Catatan penting adalah untuk naik kelas menjadi bank devisa, Bank Kalsel membutuhkan fondasi yang lebih kokoh, terutama dalam hal permodalan, manajemen risiko, dan tata kelola berbasis prinsip kehati-hatian.

Peran Bank Kalsel dalam mendukung UMKM melalui KUR Super Mikro juga patut dicatat. Dalam perspektif ekonomi regional, ini bukan sekadar pembiayaan, tetapi intervensi strategis.

UMKM adalah tulang punggung ekonomi daerah. Ketika sektor ini tumbuh, maka dampaknya akan terasa pada peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, dan stabilitas ekonomi lokal.

Dalam kontek inilah Bank Kalsel berperan sebagai katalis atau menghubungkan kebijakan pemerintah, kebutuhan masyarakat, dan mekanisme pembiayaan.

Namun tantangan ke depan tidak bisa dipandang ringan. Status bank devisa menuntut standar yang lebih tinggi, termasuk kemampuan mengelola transaksi lintas negara, kepatuhan terhadap regulasi internasional, serta kesiapan menghadapi volatilitas ekonomi global.

Dari sudut pandang jurnalistik, ini adalah fase paling krusial, ketika sebuah institusi diuji bukan hanya oleh ambisinya, tetapi oleh konsistensi langkahnya.

Dari sudut pandang akademik, ini adalah momentum untuk memastikan bahwa transformasi tidak berhenti pada permukaan, melainkan menyentuh aspek fundamental organisasi.

Bank Kalsel saat ini berada di persimpangan penting. Ia harus mampu menjaga identitasnya sebagai bank daerah yang dekat dengan masyarakat, sekaligus membangun kapasitas sebagai institusi yang kompetitif di tingkat nasional dan internasional.

Jika akselerasi ini dijalankan dengan disiplin strategi dan konsistensi kebijakan, maka target menjadi bank devisa bukan sekadar mimpi. Sebab ini bisa menjadi realitas.

Jika memandang ke depan keberhasilan Bank Kalsel tidak hanya diukur dari status yang disematkan, tetapi dari seberapa besar kontribusinya terhadap masyarakat. Sebab bank yang kuat bukan hanya bank yang besar, tetapi bank yang relevan hadir, dibutuhkan, dan dipercaya.Happy Milad Bank Kalsel !.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!