Kereta, Imajinasi, dan Mudik yang Berubah Wajah

0
RISANTA KERETA API

Foto Ilustrasi - Dok Risanta.

Oleh : Muhammad Risanta

Mudik lebaran, bagi kami pribadi, selalu punya dua wajah. Dua wajah ini adalah tentang rindu dan perjalanan.

Namun Lebaran tahun ini, ada satu lapisan baru yang diam-diam mengubah cara kita memaknai perjalanan itu sendiri adalah sebuah imajinasi.

Kami menaiki kereta dari Stasiun Gambir, Jakarta sebuah simpul perjalanan yang biasanya identik dengan langkah tergesa, wajah lelah, dan koper yang ditarik setengah berlari.

Tapi kali ini berbeda. Begitu kaki menapak, kami seperti memasuki ruang yang tidak sepenuhnya stasiun, melainkan panggung visual yang hidup.

Instalasi bertema Pelangi di Mars menyambut dengan warna-warna yang berani, robot-robot kecil yang tampak bersahabat, dan sudut-sudut yang mengundang orang berhenti sejenak lalu berfoto, tertawa, atau sekadar mengagumi.

Anak-anak terlihat paling jujur menikmati. Mata mereka berbinar, seolah perjalanan mudik bukan lagi rutinitas tahunan, melainkan petualangan.Ini sesuatu yang lebih besar dari sekadar dekorasi melainkan transformasi.

Konon ini adalah kolaborasi antara Kementerian Ekonomi Kreatif, PT Kereta Api Indonesia (Persero), dan Mahakarya Pictures bukan hanya soal promosi film.

 

Rangkaian gerbong kereta semakin indah dengan visual menarik dengan tema Pelangi di Mars. (Foto – Humas Kementerian Ekonomi Kreatif).

Keren, menurut kami ini juga cara baru negara dan industri membaca perilaku masyarakat, yang menegaskan bahwa perjalanan bukan lagi sekadar berpindah dari titik A ke titik B, tetapi pengalaman yang bisa dirasakan, diingat, bahkan diceritakan kembali.

Sebagai seorang jurnalis yang juga kerap memimpin perjalanan wisata, saya melihat ini sebagai langkah penting dalam ekosistem pariwisata. Moda transportasi kini tidak lagi netral tetapi sudah menjadi medium cerita.

Di salah satu rangkaian KA Argo Dwipangga, livery bertema film itu tampil mencolok. Warna cerah membungkus badan kereta, menghadirkan karakter-karakter yang seolah ikut bepergian bersama penumpang. Kereta tidak lagi sekadar besi panjang yang melaju di rel tetapi sejatinya sudah berubah menjadi kanvas berjalan.

Kami kebetulan bersama Jurnalis Syahriyanto Ruslan, duduk di dekat jendela, memperhatikan keluarga kecil di seberang. Seorang anak menunjuk ke arah luar, lalu ke badan kereta, lalu ke ibunya, bercerita dengan bahasa yang mungkin hanya ia sendiri yang sepenuhnya mengerti. Tapi satu hal jelas anak ini sedang bahagia.

Pernyataan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif , Irene Umar tentang pentingnya membuka ruang promosi bagi karya kreatif terasa konkret di sini. Apa yang sebelumnya hanya bisa kita lihat di layar bioskop, kini hadir dalam perjalanan sehari-hari. Ini bukan sekadar promosi, ini demokratisasi pengalaman kreatif.

 

Kementerian Ekonomi Kreatif berkolaborasi dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan Mahakarya Pictures menghadirkan livery kereta serta seni instalasi stasiun yang terinspirasi dari film Pelangi di Mars. (Foto – Humas Kementerian Ekonomi Kreatif).

Sebagai bagian dari Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI), kami melihat sinergi lintas sektor ini sebagai fondasi penting. Ketika Kementerian Pariwisata dan Kementerian Ekonomi Kreatif serta  PT Kereta Api Indonesia (Persero) bergerak dalam frekuensi yang sama, hasilnya bukan hanya kenyamanan fisik tetapi juga pengalaman emosional.

Mudik lebaran 2026 menjadi lebih dari sekadar tradisi. Karena menjadi ruang rekreasi, ruang edukasi, bahkan ruang imajinasi.

Produser film, Dendi Reynando, mungkin benar bahwa film anak di Indonesia masih terbatas. Namun justru di sinilah kita melihat bagaimana sebuah karya tidak harus berhenti di layar. Ia bisa menjelma menjadi pengalaman kolektif, menyusup ke ruang publik, dan hidup bersama masyarakat.

Sementara itu, langkah Bobby Rasyidin yang membuka kereta sebagai ruang kreatif menunjukkan bahwa BUMN tidak lagi sekadar operator layanan, tetapi juga kurator pengalaman.

Sebagai seorang tour leader, kami selalu percaya bahwa perjalanan terbaik adalah yang meninggalkan kesan. Dan tahun ini, kami melihat bagaimana negara, industri, dan kreativitas bekerja bersama untuk menciptakan kesan indah itu, bahkan sebelum penumpang tiba di kampung halaman.

Kereta melaju, membelah malam. Di luar jendela, lampu-lampu kota perlahan menjauh. Di dalam, percakapan, tawa, dan imajinasi tetap tinggal.

Mudik, akhirnya, bukan hanya tentang pulang semata.
Tetapi adalah  tentang bagaimana perjalanan itu sendiri berubah, menjadi lebih hidup, lebih berwarna, dan diam-diam, lebih manusiawi.

*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia, Humas DPP ASPPI & Tour Leader

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!