Mimbar Perlawanan dari Banua

0
BEDAH BUKU DMDI

Foto Ilustrasi -

Oleh: Muhammad Risanta

Ramadhan selalu menghadirkan ruang perenungan. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kadang kita lupa bahwa sejarah bangsa ini tidak hanya dibangun oleh para jenderal atau elite politik di pusat kekuasaan.

Di daerah-daerah, terutama di Kalimantan Selatan, yang oleh masyarakatnya akrab disebut Banua,perjuangan juga lahir dari mimbar-mimbar pengajian, dari langgar kecil di kampung-kampung, dan dari pesan para tuan guru yang mengajarkan ilmu sekaligus keberanian.

Karena itu, ketika membaca buku karya akademisi Banua, Drs. Wajidi Amberi, M.Pd berjudul “Mimbar Perlawanan: Pendidikan Islam, Tuan Guru, & Fondasi Nasionalisme di Kalimantan Selatan”, saya seperti diajak membuka kembali lembaran sejarah yang lama tersimpan di rak ingatan kolektif masyarakat.

Buku ini tidak sekadar karya akademik. Ia adalah upaya menyalakan kembali ingatan sejarah tentang bagaimana ulama Banua membangun peradaban, menanamkan pendidikan, sekaligus menjadi bagian dari gerakan perlawanan terhadap kolonialisme.

 

Ketua Umum DMDI Kalsel H Ibnu Sina beserta pengurus dan peserta Bedah Buku Mimbar Perlawanan. (Foto – DMDI).

Ulama sebagai Pilar Peradaban Banjar

Sejarah Kalimantan Selatan tidak bisa dipisahkan dari peran ulama. Salah satu tokoh besar yang sering disebut sebagai fondasi intelektual masyarakat Banjar adalah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Ulama yang hidup pada abad ke-18 ini bukan hanya dikenal sebagai ahli fiqih, tetapi juga sebagai arsitek pendidikan Islam di Banua. Karyanya yang monumental, Sabilal Muhtadin, hingga kini masih menjadi rujukan penting dalam tradisi keilmuan Islam di Nusantara.

Arsyad al-Banjari adalah contoh bagaimana ulama tidak hanya menjadi guru agama, tetapi juga pembentuk peradaban. Ia mendidik murid-murid yang kelak menjadi penyebar ilmu di berbagai wilayah Kalimantan bahkan hingga ke Semenanjung Melayu.

Selain beliau, sejarah Banua juga mencatat nama besar Syekh Muhammad Nafis al-Banjari yang dikenal melalui karya tasawufnya Al-Durr al-Nafis. Kitab ini menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian tasawuf di dunia Melayu.

Jejak intelektual para ulama Banjar ini menunjukkan bahwa Kalimantan Selatan pernah menjadi salah satu pusat perkembangan ilmu Islam di kawasan Nusantara.

Dari Mimbar Dakwah ke Medan Perjuangan

Yang menarik dari buku Wajidi Amberi adalah bagaimana ia memotret relasi antara pendidikan Islam dan semangat nasionalisme.

Di Banua, ulama tidak hanya mengajar di langgar atau pesantren. Mereka juga menjadi motor sosial yang membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap penjajahan.

Dalam sejarah perjuangan Banjar, misalnya, kita mengenal tokoh seperti Pangeran Antasari dalam peristiwa Perang Banjar. Meski Antasari dikenal sebagai pemimpin politik dan militer, dukungan moral dan spiritual dari para ulama memainkan peran penting dalam membangun semangat perlawanan rakyat.

Tradisi ini kemudian berlanjut pada abad ke-20 ketika para tuan guru dan santri mulai membangun organisasi pendidikan dan pergerakan yang menumbuhkan kesadaran kebangsaan.

Buku Mimbar Perlawanan memperlihatkan bahwa pendidikan Islam di Banua tidak pernah berdiri di ruang kosong. Ia selalu berkelindan dengan dinamika sosial, politik, dan perjuangan masyarakat.Karenanya saya pun mengapresiasi tulisan-tulisan dari tangan seorang Wajidi Amberi, yang dikenal pula sebagai salah satu tokoh intelektual di Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kalsel.

 

Presiden Dunia Melayu Dunia Islam, Tuan Yang Terutama Tun Seri Setia Dr H Mohd Ali Bin Mohd Rustam, saat mengunjungi Banjarmasin dalam rangkaian pelantikan Pengurus Dunia Melayu Dunia Islam Kalsel, yang dipimpin H Ibnu Sina (Kala itu Wali Kota Banjarmasin.).

Pentingnya Mendokumentasikan Sejarah Ulama

Sebagai seorang jurnalis yang cukup lama menekuni dunia penulisan termasuk sejarah sosial dan keagamaan, saya melihat buku seperti ini memiliki nilai penting yang melampaui sekadar kajian akademik.

Mengangkat kiprah ulama Kalimantan Selatan dalam bentuk buku berarti menyelamatkan warisan intelektual, spiritual, dan sejarah perjuangan mereka agar tidak hilang ditelan zaman.

Buku menjadi arsip permanen yang mencatat pemikiran, karya tulis, serta jejak dakwah para ulama. Tanpa dokumentasi yang serius, sejarah peradaban Islam di Banua berisiko hanya menjadi cerita lisan yang perlahan memudar.

Di sisi lain, kisah hidup para ulama juga menyimpan teladan moral yang sangat berharga. Kesabaran mereka dalam mendidik umat, integritas dalam menjaga nilai-nilai agama, serta keberanian dalam menghadapi ketidakadilan merupakan pelajaran penting bagi generasi muda.

Inilah yang menjadikan buku karya Wajidi Amberi relevan untuk dibaca hari ini.

Merawat Ingatan Banua

Dalam perspektif akademik, buku seperti Mimbar Perlawanan juga membantu memperkaya literatur tentang perkembangan ilmu fiqih dan tasawuf di Kalimantan.

Karena dari pandangan saya ini membuka ruang bagi mahasiswa, peneliti, dan pembaca umum untuk memahami bagaimana ulama Banjar mampu mengintegrasikan ajaran Islam dengan budaya lokal. Dari sinilah lahir karakter Islam Banjar yang dikenal moderat, inklusif, dan kental dengan kearifan lokal.

Di tengah derasnya arus globalisasi pemikiran keagamaan, warisan intelektual ini menjadi sangat penting untuk dijaga.

Peran DMDI Mendorong Tradisi Literasi

Upaya menggali kembali jejak ulama Banua tentu tidak bisa berdiri sendiri. Di sinilah peran organisasi seperti Dunia Melayu Dunia Islam atau DMDI menjadi penting.

Di Kalimantan Selatan, DMDI dibawah kepemimpinan H Ibnu Sina, tidak hanya aktif dalam kegiatan sosial dan budaya, tetapi juga mendorong tumbuhnya tradisi literasi dan penulisan sejarah.

Kegiatan bedah buku, diskusi intelektual, hingga dorongan kepada penulis-penulis muda untuk menulis tentang sejarah dan budaya Banua merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi.

Literasi sejarah adalah cara paling efektif untuk menjaga identitas sebuah masyarakat.

Jika generasi muda Banua mulai menulis kembali kisah para tuan guru, sejarah pesantren, dan jejak ulama dalam perjuangan bangsa, maka warisan intelektual itu tidak akan pernah hilang.

Endingnya  buku Mimbar Perlawanan mengingatkan kita bahwa mimbar tidak selalu berarti panggung ceramah. Dalam sejarah Banua, mimbar juga berarti ruang perlawanan atau tempat lahirnya gagasan, pendidikan, dan kesadaran kebangsaan.

Ulama Banjar telah menunjukkan bahwa ilmu dan iman bisa berjalan berdampingan dengan perjuangan sosial.

Dan melalui buku ini, mimbar itu seolah kembali menyala dan menerangi ingatan kita tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai-nilai apa yang harus terus kita jaga.

Bagi saya, buku karya Wajidi Amberi bukan hanya sebuah kajian sejarah. Ia adalah pengingat bahwa di balik perjalanan bangsa ini, selalu ada suara para ulama yang setia menjaga cahaya peradaban.

Penulis adalah Seorang Jurnalis-Akademisi serta Humas DMDI Kalsel.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!