Menggali Jejak Ulama Pejuang Banua

0
BEDAH BUKU DMDI UTAMA

Bedah buku menjadi momentum penting untuk mengangkat kembali sejarah perjuangan ulama dan santri di Banua yang selama ini belum banyak dikenal luas.(Foto - DMDI Kalsel).

DMDI Kalsel Bedah Buku “Mimbar Perlawanan” di Penghujung Ramadhan

Suasana Ramadhan di Banjarmasin dimaknai dengan cara yang berbeda oleh Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kalimantan Selatan. Bukan sekadar berbuka puasa bersama, organisasi ini mengajak publik menelusuri kembali jejak perjuangan ulama dan santri Banua melalui kegiatan bedah buku “Mimbar Perlawanan: Pendidikan Islam, Tuan Guru, & Fondasi Nasionalisme di Kalimantan Selatan” karya Drs. Wajidi Amberi, M.Pd.

Kegiatan yang digelar di Sekretariat ISFO, Komplek Graha Dharma Praja Permai, Banjarmasin, Minggu petang (15/3/2026) itu menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Prof. Dr. H. A. Hafiz Anshari, MA sebagai pembahas utama.

Terdapat sederet tokoh lainnya di Banua seperti Dr Dharma, Ustaz Ahmad Rizqon, Ustadz H Rusdiansyah, Hesly Julianto, Fathurrahman,Dr Saukani, Jurnalis Senior Hasan Zainuddin (Paman Anum) dan Syahriyanto Ruslan (Radio Elshinta Jakarta) dan tokoh lainnya.

Ketua DMDI Kalimantan Selatan yang juga Presiden ISFO, H. Ibnu Sina, mengatakan bahwa bedah buku ini menjadi momentum penting untuk mengangkat kembali sejarah perjuangan ulama dan santri di Banua yang selama ini belum banyak dikenal luas.

Menurutnya, buku karya Wajidi Amberi membuka ruang baru untuk memahami bagaimana pendidikan Islam, peran para tuan guru, hingga jaringan santri turut membangun fondasi nasionalisme di Kalimantan Selatan.

“Melalui buku ini kita menemukan banyak sekali informasi tentang tokoh-tokoh lokal yang kiprahnya luar biasa. Mereka sangat layak diangkat sebagai pahlawan di tingkat provinsi bahkan nasional,” ujar Ibnu Sina.

 

Ketua DMDI Kalsel H Ibnu Sina dan pengurus lainnya serta tokoh Banua yang menghadiri Bedah Buku dan Buka Puasa Bersama DMDI Kalsel. (Foto – DMDI Kalsel).

Ia mencontohkan keberadaan organisasi Musyawaratut Talibin yang aktif pada era 1940-an. Organisasi yang berisi para pelajar dan santri tersebut memiliki pengaruh cukup besar dalam membangun kesadaran perjuangan, hingga akhirnya dibubarkan oleh pemerintah kolonial karena dianggap berpotensi memicu perlawanan.

Bagi Ibnu Sina, momentum Ramadhan juga mengandung pesan penting tentang spirit perjuangan. Ia mengingatkan bahwa sejarah Islam dan bangsa Indonesia mencatat sejumlah peristiwa besar yang terjadi pada bulan suci tersebut.

“Perang Badar terjadi saat umat Islam sedang berpuasa. Bahkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia juga berlangsung pada 9 Ramadhan. Artinya, puasa bukan alasan untuk melemah, tetapi justru menjadi sumber kekuatan spiritual dan moral,” tegasnya.

Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari tokoh Banua, sekaligus Jurnalis Senior Radio Elshinta Jakarta, Syahriyanto Ruslan. Ia menilai bedah buku yang digelar DMDI menjadi langkah penting dalam upaya menggali kembali khazanah sejarah lokal Kalimantan Selatan.

Menurutnya, karya akademik seperti buku yang ditulis Wajidi Amberi memiliki peran strategis dalam memperkaya literatur sejarah daerah sekaligus membuka ruang diskusi publik.

“Melalui buku ini publik menemukan banyak sekali informasi tentang tokoh-tokoh lokal yang kiprahnya luar biasa. Mereka sangat layak diangkat sebagai pahlawan di tingkat provinsi bahkan nasional,” ujar Syahriyanto Ruslan.

Ia menambahkan, apa yang dilakukan DMDI merupakan langkah strategis untuk menggali sejarah dan budaya Banua melalui tulisan para akademisi dan tokoh penting daerah.

“Kegiatan seperti ini penting untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat. Sejarah tidak boleh hanya disimpan dalam cerita lisan, tetapi juga dituliskan secara ilmiah agar bisa diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Selain diskusi intelektual, kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian program DMDI Kalimantan Selatan yang telah dirancang sejak Rapat Kerja Nasional sebelumnya. Organisasi ini juga aktif menjalankan berbagai kegiatan sosial, termasuk aksi kebersihan masjid setiap hari Jumat.

Ibnu Sina menambahkan bahwa seluruh jalannya diskusi dalam bedah buku tersebut akan didokumentasikan dan dikodifikasi sebagai catatan sejarah organisasi.

“Ini bukan sekadar acara seremonial. Kami ingin memastikan bahwa diskusi ini menjadi bagian dari dokumentasi sejarah DMDI dan bisa menjadi referensi bagi generasi mendatang,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Ketua Umum DMDI Indonesia, H. Said Aldi Al Idrus, SE., MM., serta Presiden DMDI Internasional, T.Y.T Tun Seri Setia Dr. H.M. Ali Rustam.

“Semoga kegiatan ini menjadi kontribusi nyata dari Kalimantan Selatan bagi penguatan jaringan dunia Melayu dan dunia Islam,” pungkasnya.(Muhammad Irfani).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!