Fenomena Gelandangan, Pengemis, dan Manusia Gerobak di Penghujung Ramadan

0
MANUSIA GEROBAK

Foto Ilustrasi AI - Dok Hasdi Suryadi.

Oleh: Hasdi Suryadi

Bulan Ramadan selalu identik dengan suasana religius, meningkatnya kepedulian sosial, serta semangat berbagi. Di berbagai kota, masyarakat berlomba-lomba menunaikan sedekah, zakat, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya.

Namun di tengah semangat tersebut, muncul fenomena yang hampir selalu berulang setiap tahun, yakni meningkatnya jumlah gelandangan, pengemis, dan manusia gerobak di berbagai sudut Kota Banjarmasin.

Di persimpangan jalan, kawasan pertokoan, hingga pusat perbelanjaan, mereka terlihat berdiri di lampu merah, berjalan dari satu warung ke warung lain, atau mendorong gerobak berisi barang-barang seadanya yang menjadi simbol kehidupan di jalanan.

Fenomena ini bukanlah hal baru. Setiap Ramadan, terutama ketika memasuki sepuluh hari terakhir hingga menjelang Idulfitri, jumlah mereka cenderung meningkat.

Kehadiran mereka menghadirkan kontras yang mencolok. Di satu sisi, masyarakat tengah disibukkan dengan persiapan menyambut hari kemenangan. Di sisi lain, ada kelompok masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di tengah keterbatasan.

Dari perspektif ekonomi, meningkatnya jumlah pengemis dan manusia gerobak pada akhir Ramadan seringkali dipengaruhi faktor musiman. Bulan suci menciptakan peluang ekonomi tersendiri bagi mereka yang menggantungkan hidup dari belas kasihan orang lain.

Tingginya tingkat sedekah masyarakat membuat aktivitas mengemis dianggap lebih “menguntungkan” dibandingkan hari-hari biasa. Bahkan tidak sedikit yang datang dari daerah lain untuk mencoba peruntungan di kota selama Ramadan.

Namun di balik fenomena musiman tersebut, kita tidak dapat menutup mata bahwa persoalan ini juga mencerminkan masalah struktural yang lebih dalam.

Kemiskinan, ketimpangan ekonomi, terbatasnya lapangan pekerjaan, serta rendahnya akses pendidikan menjadi faktor yang turut melatarbelakangi munculnya fenomena ini. Sebagian dari mereka memang terpaksa turun ke jalan karena tidak memiliki pilihan lain untuk bertahan hidup. Sementara sebagian lainnya menjadikan aktivitas tersebut sebagai strategi bertahan hidup yang telah berlangsung lama.

Fenomena manusia gerobak juga menarik untuk dicermati. Mereka biasanya membawa gerobak yang berisi pakaian, barang bekas, hingga perlengkapan rumah tangga sederhana yang sekaligus menjadi tempat tinggal.

Pada malam hari, trotoar atau kolong jembatan berubah menjadi ruang istirahat sementara. Kondisi ini memperlihatkan betapa rapuhnya jaring pengaman sosial bagi kelompok masyarakat paling rentan.

Di sisi lain, fenomena ini juga menghadirkan dilema moral bagi masyarakat. Ajaran agama mendorong umat untuk berbagi dan membantu sesama, terlebih di bulan Ramadan yang penuh keberkahan.

Sedekah diyakini sebagai amal yang pahalanya dilipatgandakan. Namun pemberian uang secara langsung di jalan seringkali dinilai justru memperkuat praktik mengemis dan tidak menyentuh akar persoalan kemiskinan.

Karena itu, pendekatan terhadap persoalan ini tidak cukup hanya melalui penertiban atau larangan semata. Pemerintah daerah perlu menghadirkan solusi yang lebih komprehensif melalui program pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, serta penyediaan tempat penampungan sementara bagi kelompok rentan.

Selain itu, penyaluran zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga resmi dapat menjadi cara yang lebih terarah agar bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Ramadan sejatinya bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga momentum refleksi sosial. Kehadiran gelandangan, pengemis, dan manusia gerobak di penghujung Ramadan seharusnya menjadi cermin bahwa masih ada kesenjangan yang perlu diperbaiki.

Di balik gemerlap persiapan Idulfitri, terdapat realitas kehidupan yang mengingatkan bahwa perjuangan melawan kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Pada akhirnya, keberkahan Ramadan tidak hanya diukur dari banyaknya sedekah yang diberikan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat dan negara mampu menghadirkan keadilan sosial bagi mereka yang paling lemah.

Jika Ramadan mampu menumbuhkan kepedulian yang berkelanjutan, maka fenomena manusia gerobak dan pengemis tidak lagi sekadar menjadi pemandangan musiman, melainkan panggilan moral untuk membangun masyarakat yang lebih berdaya dan bermartabat.

Penulis adalah Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin & Akuntan Publik.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!