Pariwisata Tak Bisa Terbang Sendiri

0
RISANTA PENERBANGAN PARIWISATA

Foto Ilustrasi - Penulis di sudut Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar Bali. (Foto - Risanta).

Oleh: Muhammad Risanta

Bali kembali menjadi ruang bercermin bagi pariwisata Indonesia. Di pulau inilah geliat, harapan, sekaligus persoalan industri pariwisata nasional tampak paling mengemuka.Hal ini menggoda saya untuk menuturkan dari perspekstif Jurnalis dan penggiat pariwisata nasional.

Ketika PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) hadir dalam dialog bersama pemerintah dan pelaku industri, yang muncul bukan sekadar paparan optimisme, melainkan pengakuan jujur bahwa pariwisata Indonesia masih berjalan dengan napas tersengal.

Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyebut tiga tantangan utama yakni konektivitas, infrastruktur–akomodasi, serta pengembangan destinasi dan promosi. Tiga hal ini terdengar klise, tapi justru karena terlalu sering disebut tanpa diselesaikan, ia menjadi persoalan struktural yang menahun.

Maya Watono, seperti dilansir detik.com menyebut keterbatasan armada domestik, minimnya penerbangan langsung internasional, dan belum optimalnya insentif rute sebagai penghambat daya saing. Pernyataan ini jujur, tetapi juga menyingkap persoalan mendasar, tentang kebijakan pariwisata Indonesia masih terpisah dari kebijakan transportasi udara.

Pariwisata Indonesia sejatinya tidak kekurangan cerita. Ia justru kelebihan janji. Konektivitas adalah contoh paling gamblang. Indonesia menjual keindahan yang berjauhan, tetapi menyediakan jalan yang berliku. Wisatawan mancanegara masih harus “berjuang” untuk mencapai destinasi di luar Bali.

Penerbangan langsung terbatas, armada domestik tak sebanding dengan luas wilayah, sementara insentif rute internasional masih diperlakukan sebagai beban, bukan investasi jangka panjang. Akibatnya, banyak destinasi unggulan tumbuh dalam sunyi, indah, tapi sepi.

Masalahnya bukan semata jumlah pesawat. Yang lebih krusial adalah keberanian membaca ulang logika bisnis pariwisata. Konektivitas tidak boleh hanya dihitung dari load factor, tetapi dari efek gandanya, ke hotel hidup, UMKM bergerak, lapangan kerja tumbuh, dan daerah punya alasan untuk membangun.

 

Foto Ilustrasi -Penumpang di Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru semakin tahun semakin meningkat. (foto – Risanta).

Infrastruktur dan akomodasi pun tak kalah pelik. Kita rajin membangun bandara, tetapi kerap lupa bahwa bandara hanyalah pintu. Jalan menuju destinasi, transportasi publik, sanitasi, hingga tata kota sering tertinggal.

Akibatnya, sudah pasti pengalaman wisata berhenti di foto, tak berlanjut menjadi kenangan yang ingin diulang. Pariwisata lalu menjadi kunjungan sekali datang, bukan hubungan jangka panjang.

Sementara itu, promosi masih terjebak pada slogan. Kita pandai mengemas “wonderful”, tetapi kurang serius memastikan “comfortable”.

Di era wisatawan berpengalaman, promosi tanpa kesiapan hanya akan melahirkan ekspektasi yang tak terpenuhi. Dan kita tahu wisatawan yang kecewa adalah promotor paling jujur, sayangnya, dalam arti negatif.

Tak berlebihan jika dari sini peran InJourney menjadi menarik, sekaligus menentukan. Sebagai holding BUMN aviasi dan pariwisata, InJourney berada di simpul strategis antara negara dan pasar.

 

Pesona Bali dan Desa Penglipuran Desa terbersih di duinia. (Foto – Biro Komunikasi Kemenpar).

Sesungguhnya lembaga ini tidak cukup hanya menjadi operator aset, tetapi perlu berani menjadi orkestrator ekosistem. Menghubungkan maskapai dengan daerah, bandara dengan destinasi, promosi dengan kesiapan lapangan.

Solusinya tidak perlu revolusioner, tetapi harus konsisten. Insentif rute harus diperlakukan sebagai kebijakan pembangunan, bukan sekadar stimulus bisnis.

Promosi mesti berbasis kesiapan destinasi, bukan semata potensi. Infrastruktur harus dirancang dari sudut pandang wisatawan, bukan sekadar proyek fisik.

Pariwisata Indonesia tak kekurangan aktor, tetapi sering kehilangan dirigen. Bali hari ini memberi pesan sederhana sejatinya juga pariwisata tidak bisa terbang sendiri. Ia butuh landasan yang kokoh, peta arah yang jelas, dan kemauan untuk mendengar suara lapangan.

Jika tidak, kita akan terus mengulang paradoks yang sama,negeri indah yang sulit dijangkau, kaya potensi tapi miskin pengalaman.

Dan pada akhirnya, wisatawan dunia bukan mencari yang paling indah. Mereka mencari yang paling mudah dicintai.

  • Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia & Humas DPP Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!