Belajar Mengelola Risiko Sejak Bangku Kuliah
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) OJK, Ogi Prastomiyono saat memberikan kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Jember. (Foto - Humas OJK).
Bagi banyak anak muda, asuransi sering terdengar seperti urusan orang tua, rumit, mahal, dan jauh dari kehidupan sehari-hari.
Padahal, justru di usia muda risiko keuangan mulai terbentuk dari biaya kesehatan, kecelakaan, hingga ketidakpastian pekerjaan.
“Risiko adalah bagian dari hidup. Yang sering terlupakan adalah kesiapan menghadapinya,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) OJK, Ogi Prastomiyono saat memberikan kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Jember.
Ia menekankan, asuransi bukan soal rasa takut, melainkan strategi. Dengan asuransi, kerugian finansial akibat risiko bisa dialihkan, sehingga rencana hidup kuliah, karier, bahkan mimpi masa depan tidak runtuh hanya karena satu kejadian tak terduga.
Namun data menunjukkan tantangan besar. Kurang dari separuh masyarakat Indonesia memahami produk asuransi, dan lebih sedikit lagi yang benar-benar menggunakannya.
Di kalangan generasi muda, asuransi sering kalah prioritas dibanding gawai baru atau gaya hidup.
Padahal, fase muda adalah waktu terbaik membangun ketahanan finansial. Premi lebih murah, risiko kesehatan lebih rendah, dan waktu masih panjang untuk menyiapkan perlindungan jangka panjang.
Rektor Universitas Jember, Iwan Taruna, menyebut konsep manajemen risiko sebenarnya dekat dengan kehidupan mahasiswa.
“Setiap keputusan punya risiko. Yang membedakan adalah apakah kita sadar dan siap mengelolanya,” katanya.
Melalui diskusi panel bersama pelaku industri, mahasiswa diperkenalkan pada wajah baru asuransi, yang lebih digital, lebih inklusif, dan relevan dengan kebutuhan generasi muda, mulai dari perlindungan kesehatan, kecelakaan, hingga asuransi berbasis syariah.
Kolaborasi UNEJ dengan industri asuransi, termasuk program Beasiswa Harry Dyah bagi mahasiswa yang meneliti asuransi jiwa, menjadi contoh bahwa literasi keuangan tidak berhenti hanya di ruang kelas, tetapi terhubung langsung dengan dunia nyata.
Bagi OJK, edukasi asuransi kepada generasi muda bukan sekadar program sosialisasi, melainkan investasi jangka panjang. Sebab ketahanan ekonomi nasional, pada akhirnya, ditentukan oleh seberapa siap generasi mudanya mengelola risiko hari ini.(Olpah Sari).
