Banjarmasin Dikepung Banjir, Sungai Lumbah Jadi Sorotan
Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR menerobos Sungai Lumbah yang dipenuhi tumbuhan dan anak sungai yang tersumbat.(Foto- Tim Diskominfotik Banjarmasin).
Banjarmasin kembali dikepung banjir. Di sejumlah titik, genangan muncul meski hujan turun kurang dari dua jam.
Salah satu lokasi yang kembali disorot adalah Sungai Lumbah, anak sungai di Kecamatan Banjarmasin Timur yang berfungsi sebagai jalur drainase kawasan permukiman padat.
Wali Kota Banjarmasin H. M. Yamin HR meninjau langsung aksi bersih-bersih sungai di Jalan Mahatkasan, Komplek Permata Hijau Ujung, Kelurahan Kuripan, Senin (16/02/2026).
Pemerintah kota menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir.
Namun, data teknis menunjukkan persoalan Sungai Lumbah tidak sederhana. Panjang sungai ini diperkirakan sekitar 1,8 kilometer, dengan lebar efektif yang di beberapa segmen menyempit hingga 3–4 meter akibat sedimentasi dan bangunan di bantaran.
Padahal, dalam kondisi ideal, lebar aliran membutuhkan ruang minimal 6–8 meter agar mampu menampung limpasan air hujan kawasan sekitarnya.
Dokumen perencanaan drainase kota mencatat, lebih dari 60 persen saluran sekunder dan tersier di Banjarmasin Timur mengalami pendangkalan, dengan tingkat sedimentasi rata-rata 20–40 sentimeter.

Akibatnya, kapasitas tampung air berkurang signifikan, terutama saat hujan bersamaan dengan pasang sungai.
Sungai Lumbah sendiri menjadi muara aliran air dari sedikitnya empat kawasan permukiman padat, dengan kepadatan penduduk mencapai lebih dari 10 ribu jiwa per kilometer persegi.
Ketika hujan turun dengan intensitas menengah.sekitar 20–30 milimeter per jam, air permukaan tidak lagi tertampung oleh sistem drainase yang ada.
Aksi bersih sungai yang dilakukan petugas gabungan meliputi pengangkatan sampah rumah tangga dan pembersihan sedimentasi ringan. Namun pengerukan dilakukan terbatas, tanpa alat berat, sehingga hanya menyentuh lapisan atas.
Data internal dinas teknis menunjukkan, untuk memulihkan fungsi Sungai Lumbah secara optimal, diperlukan pengerukan sedimentasi hingga lebih dari 1.500 meter kubik material lumpur.
Persoalan lain adalah bangunan di sempadan sungai. Dari pemetaan lapangan, terdapat puluhan bangunan permanen dan semi permanen yang berdiri kurang dari tiga meter dari bibir sungai, melanggar ketentuan sempadan minimal. Kondisi ini mempersempit alur air sekaligus menyulitkan upaya normalisasi.
Warga bantaran sungai merasakan dampaknya secara langsung.
“Dulu air cepat surut. Sekarang hujan satu jam, bisa tergenang setengah hari,” kata Bani seorang warga Kuripan.
Menurutnya, banjir kini datang lebih sering bisa 6 hingga 8 kali dalam setahun, meningkat dibanding lima tahun lalu.
Sejumlah kalangan menilai, tanpa audit menyeluruh terhadap lebih dari 120 kilometer jaringan sungai dan drainase kota, penanganan banjir akan terus bersifat reaktif.
Normalisasi sungai membutuhkan anggaran besar dan kebijakan tegas, termasuk penertiban bangunan di bantaran serta pengendalian alih fungsi lahan.
Bagi Pemerintah Kota Banjarmasin, Sungai Lumbah kini menjadi indikator krisis tata air Kota Seribu Sungai.
Selama pemulihan sungai hanya dilakukan melalui aksi bersih-bersih insidental, sementara persoalan kapasitas, tata ruang, dan sedimentasi dibiarkan menumpuk, banjir tampaknya masih akan menjadi rutinitas tahunan warga Banjarmasin.(Tim Redaksi).
