Ramadan, Sepi Wisata, Ramai Rupiah
Ridzky Husna adalah Jurnalis Economic Travelling.Com.
Oleh: Ridzky Husna
Jurnalis, EconomicTravelling.com
Ramadan kerap disangka sebagai musim wisata sepi. Memang, gelombang wisatawan ke objek-objek utama seperti destinasi alam atau taman hiburan cenderung menurun.
Namun tahukah kita justru di balik itu, bulan suci justru menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi lokal di banyak kawasan.
Menurut studi ekonomi, efek Ramadan terhadap pola konsumsi di Indonesia menunjukkan peningkatan konsumsi 12,7%–18,9% dibanding bulan biasa, menjadi pendorong permintaan terhadap makanan, minuman, dan layanan lokal yang khas Ramadan.
Secara makro, proyeksi perputaran uang selama momen Ramadan dan Idulfitri di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp140,7 triliun pada 2025, meskipun terdapat penurunan dari tahun sebelumnya.
Ini mencakup berbagai aktivitas konsumsi masyarakat seperti pembelian takjil, kebutuhan berbuka puasa, busana Lebaran, serta perjalanan mudik.
Tingkat perputaran ekonomi ini juga terasa di level kota. Contohnya, pasar wadai Ramadan di Banjarmasin mencatat transaksi sekitar Rp12,3 miliar selama 28 hari pelaksanaan Ramadan 2025.
Begitu pula di Banyuwangi, pasar kuliner Ramadan mampu menghasilkan hampir Rp1 miliar dari perputaran ekonomi UMKM lokal pada pekan pertama bulan puasa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan semata soal puasa dan ibadah dalam arti ritual, tetapi juga momentum ekonomi bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
Bazar takjil, pasar Ramadan, layanan katering sahur berbuka, hingga UMKM busana Muslim menjadi ujung tombak perputaran uang di banyak daerah.
Selain itu, pemerintah Indonesia juga menyiapkan paket stimulus sekitar Rp12,83 triliun (~US$765 juta) pada kuartal pertama 2026 untuk mendorong konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri, yang meliputi diskon transportasi, tarif tol, serta bantuan sosial, yang turut memperkuat momentum permintaan domestik.
Ramadan begitu membuka wajah lain pariwisata, ketika destinasi besar melambat, ekonomi lokal justru berdenyut kuat.
Wisatawan yang datang seringkali bukan sekadar tamu, mereka menjadi bagian dari pasar lokal yang hidup, memberikan dampak nyata bagi usaha kecil, pedagang pasar, dan komunitas setempat.
Jadi selanjutnya mengalir ke narasi perjalanan dan pengalaman di destinasi Ramadan yang memberikan kesan. Perjalanan Wisata dan spiritual indah di bulan Ramadan.

