Jangan Tergesa Mempublikasikan Sesuatu yang Belum Dipahami
Aris Prasetyo Wakil Kepala Desk Ekonomi dan Bisnis KOMPAS, saat diskusi dalam Capacity Building Jurnalis Tahun 2026, yang diselenggarakan Oleh Bank Indonesia Kalsel.(Foto - Olpah Sari).
Salah satu kekeliruan paling mendasar dalam praktik penyebaran informasi hari ini adalah kecenderungan untuk langsung mengunggah, mengirim, dan mempublikasikan sesuatu yang sebenarnya belum sepenuhnya dipahami.
Informasi beredar begitu cepat, sementara proses berpikir justru tertinggal.
“Ini yang harus dihindari,” ujar Aris Prasetyo Wakil Kepala Desk Ekonomi dan Bisnis KOMPAS, saat diskusi dalam Capacity Building Jurnalis Tahun 2026, yang diselenggarakan Oleh Bank Indonesia Kalsel.
Menurut pria yang mengawali karir jurnalistik sejak tahun 2007, kecepatan tidak boleh mengalahkan pemahaman. Sebelum sebuah informasi disampaikan ke publik, jurnalis dan pengelola informasi perlu berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri, apa sebenarnya makna informasi ini?
Pertanyaan berikutnya tidak kalah penting, apakah informasi ini memang perlu disampaikan ke publik? Tidak semua hal yang bisa disebarkan harus disebarkan. Ada banyak informasi yang benar, tetapi tidak penting. Ada pula yang penting, tetapi cara penyampaiannya harus dipikirkan dengan matang.
“Bentuknya seperti apa, dampaknya bagaimana, dan urgensinya apa, semua itu harus dipertimbangkan,” katanya.
Prinsip ini menjadi bagian dari proses penyaringan informasi sebelum dipublikasikan, agar publik tidak dibanjiri oleh hal-hal yang justru menyesatkan atau membingungkan.
Ia menekankan, ruang publik seharusnya diisi oleh informasi yang relevan dan memberi nilai tambah, bukan sekadar reaksi spontan atau dorongan untuk menjadi yang tercepat.
Karena itu, diskusi tentang penting atau tidaknya sebuah informasi untuk disampaikan menjadi krusial dalam praktik jurnalisme hari ini.
Menurut dia, membiasakan diri bertanya sebelum mempublikasikan adalah cara sederhana untuk menjaga kualitas informasi. Bukan dengan memperbanyak pertanyaan yang berserakan, melainkan dengan menata pertanyaan yang tepat, agar publik mendapatkan pemahaman, bukan sekadar paparan.(Olpah Sari).
