Generasi Muda Hancur karena Bong

0
JAUHI NARKOBA

Foto Ilustrasi - Kampanye Anti Narkoba di kalangan anak muda. (Foto - Tim Redaksi Economic Travelling.Com).

Ditulis oleh: Suriyati

Bong mungkin hanya dianggap benda kecil oleh sebagian orang. Alat isap. Aksesori. Bahkan, oleh sebagian anak muda, ia kerap diposisikan sebagai bagian dari gaya hidup. Padahal, dari benda kecil itulah banyak cerita besar tentang masa depan yang runtuh bermula.

Di sudut-sudut kota, termasuk di Banjarmasin, kisahnya hampir selalu sama. Remaja yang awalnya “sekadar coba-coba”, lalu perlahan kehilangan arah. Sekolah ditinggalkan, emosi tak terkendali, hubungan keluarga retak. Bong tidak datang sendirian ia membawa kebiasaan, ketergantungan, dan pelarian dari masalah yang tak pernah benar-benar selesai.

Yang sering luput disadari, kerusakan itu tidak terjadi seketika. Ia berjalan pelan. Nilai rapor menurun. Disiplin mengendur. Kepercayaan orang tua hilang. Lalu, tanpa terasa, mimpi-mimpi sederhana,lulus sekolah, bekerja layak, membanggakan keluarga,menghilang satu per satu.

Fenomena ini bukan sekadar cerita personal. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan bahwa jutaan penduduk Indonesia pernah terpapar narkotika, dengan kelompok usia produktif dan pelajar menjadi salah satu yang paling rentan.

Jenis ganja dan turunannya yang sering dikonsumsi menggunakan bong, masih termasuk yang paling banyak disalahgunakan. Angka-angka ini menegaskan satu hal yakni persoalan ini sistemik, bukan kasus terpisah.

Namun, kita kerap tergesa menyalahkan generasi muda. Mereka dicap lemah, tidak tahan banting, mudah terpengaruh. Padahal, banyak dari mereka tumbuh di tengah tekanan yang tidak kecil, tuntutan prestasi, perbandingan di media sosial, kondisi ekonomi keluarga, hingga minimnya ruang aman untuk bercerita. Dalam situasi seperti itu, bong sering tampil sebagai jalan pintas menenangkan, melupakan, meski hanya sesaat.

Masalahnya, sesaat itu mahal harganya.

Bong bukan hanya merusak tubuh, tetapi juga cara berpikir. Ia mengikis motivasi, menumpulkan kepekaan, membuat masa depan terasa tidak penting. Ketika kebiasaan ini mengakar, generasi muda kehilangan daya juang. Mereka tidak lagi berencana, hanya bertahan dari satu hari ke hari berikutnya.

Dampaknya tidak berhenti pada individu. Keluarga ikut menanggung beban emosional dan ekonomi. Sekolah kehilangan murid yang seharusnya berkembang. Lingkungan kehilangan potensi. Kota kehilangan generasi penerus yang semestinya menjadi tulang punggung pembangunan.

Karena itu, persoalan bong tidak bisa diselesaikan dengan marah, stigma, atau hukuman semata. Pendekatan represif tanpa pencegahan hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.

Langkah preventif harus dimulai dari hal-hal paling dasar namun sering diabaikan. Keluarga perlu hadir, bukan sekadar mengawasi. Mendengar tanpa menghakimi sering kali lebih efektif daripada ceramah panjang.

Sekolah harus menjadi ruang aman, bukan hanya tempat mengejar nilai, tetapi juga tempat membicarakan tekanan hidup, kesehatan mental, dan risiko penyalahgunaan narkotika secara jujur dan realistis.

Di tingkat komunitas dan pemerintah, solusi cerdas berarti memperbanyak alternatif positif. Seperti kegiatan seni, olahraga, kewirausahaan muda, ruang kreatif, dan program pengembangan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja. Anak muda yang merasa punya tujuan dan ruang berekspresi jauh lebih kecil kemungkinannya mencari pelarian yang merusak.

Penegakan hukum tetap penting, tetapi harus berjalan seiring dengan rehabilitasi dan pendampingan. Anak muda yang sudah terlanjur terpapar tidak selalu butuh penjara, banyak dari mereka justru membutuhkan kesempatan kedua untuk kembali berdiri.

Generasi muda tidak hancur karena mereka ingin hancur. Banyak dari mereka tersesat karena tidak tahu harus berjalan ke mana. Bong hanya mempercepat kehancuran itu.

Menyelamatkan mereka berarti menyelamatkan masa depan kota ini dan itu bukan tugas satu pihak saja. Ini tanggung jawab bersama, orang tua, sekolah, lingkungan, pemerintah, dan masyarakat luas. Karena setiap mimpi yang habis di balik asap yang menipu adalah kehilangan yang terlalu mahal untuk kita biarkan berulang.

 

Penulis adalah Pemerhati Sosial Tinggal di Banjarmasin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!