PPWK dan Tugas Merawat Kebangsaan di Kota Seribu Sungai
Tim PPWK yang diketuai Bambang Budiyanto terus eksis sebagai ruang perawatan ingatan kolektif masyarakat Banjar dalam bingkai Indonesia. (Foto - PPWK).
Di Kalimantan Selatan, wawasan kebangsaan tidak lahir di ruang hampa. Tetapi tumbuh dari sejarah sungai, perdagangan, dakwah, dan tradisi sosial masyarakat Banjar yang sejak lama hidup dalam keterbukaan. Banjarmasin, sebagai kota sungai dan simpul perjumpaan, menyimpan modal sosial kebangsaan yang kuat.
Namun, perubahan zaman dan dinamika politik belakangan membuat modal itu tak selalu terawat. Di titik inilah Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) Kalsel menemukan urgensinya.
PPWK semestinya dipahami bukan sekadar sebagai lembaga edukasi formal, tetapi sebagai ruang perawatan ingatan kolektif masyarakat Banjar dalam bingkai Indonesia. Ia hadir untuk memastikan bahwa identitas lokal tidak terlepas dari komitmen kebangsaan, dan sebaliknya, nasionalisme tidak tercerabut dari akar budaya daerah.
Ditarik dari sejarah masyarakat Banjar memiliki tradisi religius dan sosial yang kuat, seperti pengajian, haul, gotong royong, dan solidaritas komunal. Nilai-nilai ini sejatinya sejalan dengan spirit Pancasila. Namun, di era media sosial dan politik elektoral yang keras, nilai tersebut rentan dipersempit menjadi identitas eksklusif.
PPWK Kalsel berperan penting sebagai ruang dialektika, yang menjelaskan bahwa religiusitas Banjar tidak bertentangan dengan kebinekaan Indonesia, bahwa kesalehan sosial justru menemukan maknanya ketika berpihak pada persatuan, toleransi, dan keadilan. Pendidikan kebangsaan di Banjarmasin tidak cukup berbasis teks, tetapi harus bertumpu pada narasi lokal yang dipahami warga.Tentu untuk hal ini kita sangat sepakat.

Peran PPWK Bagi Warga, Dari Sungai ke Ruang Publik
Bagi warga Banjarmasin, PPWK idealnya menjadi tempat belajar lintas generasi,pelajar, mahasiswa, tokoh agama, pemuda kampung, komunitas sungai, hingga aparatur. PPWK membantu warga memahami bahwa cinta tanah air bukan jargon negara, melainkan sikap sehari-hari, yang menjaga sungai sebagai ruang hidup bersama, menghormati perbedaan, dan menolak kekerasan atas nama identitas.
Dalam konteks kota yang terus berkembang, PPWK juga berperan sebagai penjaga etika kebangsaan di ruang publik. Modernisasi tidak boleh memutus nilai gotong royong dan empati sosial yang menjadi ciri masyarakat Banjar. PPWK mengajarkan bahwa menjadi warga kota modern tidak berarti kehilangan rasa kebangsaan.
Mengapa PPWK Kian Relevan?
Fenomena menurunnya spirit cinta tanah air di Kalsel tidak terlepas dari tiga hal. Pertama, disrupsi informasi digital yang sering menyederhanakan persoalan kebangsaan menjadi hitam-putih. Kedua, polarisasi politik yang menyisakan luka sosial hingga ke tingkat kampung. Ketiga, perubahan rezim yang kadang membuat nasionalisme dipersepsikan sebagai milik kekuasaan, bukan milik bersama.
PPWK dibutuhkan untuk menormalkan kembali nasionalisme sebagai nilai warga, bukan alat politik.Sejatinya menegaskan bahwa Indonesia lebih besar dari siklus lima tahunan, dan Kalsel adalah bagian penting dari perjalanan bangsa itu.

Agar efektif, PPWK Kalsel harus bergerak melampaui pola seremonial. Pendidikan wawasan kebangsaan perlu dikemas sebagai gerakan kultural diskusi publik di kampung, kelas kebangsaan berbasis sejarah lokal, dialog lintas iman, hingga kolaborasi dengan komunitas sungai dan pemuda kreatif Banjarmasin.Salah satunya dengan Kampung Merah Putih atau Kamaratih.
PPWK juga perlu menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam merawat kohesi sosial. Jadi bukan sekadar pelaksana program, tetapi ruang refleksi kebijakan yang mendengar suara warga.
Di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan, menurut sebagian kawan-kawan penggiat, PPWK adalah ikhtiar menjaga Indonesia tetap hidup di tingkat lokal. Keberadaannya memastikan bahwa nasionalisme tidak mengambang di langit simbol, tetapi berpijak di tanah Banjar, yakni di sungai, kampung, rumah ibadah, dan ruang publik.
Dalam dunia yang cepat berubah, PPWK mengingatkan kita bahwa cinta tanah air bukan warisan otomatis, melainkan kesadaran yang harus terus dirawat, diajarkan, dan dialami bersama.(Muhammad Risanta).

