Jukung Kecil dan Hintalu Bahampap, Cerita Hangat di Tengah Banjir Banjar

0
HINTALU BAHAMPAP

Foto Ilustrasi - Seorang warga berkeliling membagikan makanan gratis kepada warga terdampak banjir di kawasan Keliling Benteng,Kabupaten Banjar. (Foto - Redaksi).

Air masih menggenang di Desa Keliling Benteng, sebuah kawasan di perbatasan Kecamatan Martapura Barat dan Sungai Tabuk. Banjir membuat akses darat nyaris terputus, menyisakan jalur air sebagai satu-satunya jalan penghubung antar rumah.

Namun, di balik kondisi yang serba terbatas itu, harapan justru bergerak pelan diayuh dengan dayung sebuah jukung kecil. Setiap hari, seorang pria yang akrab disapa Guru Ayut menyusuri genangan air, mendatangi rumah-rumah warga yang terdampak banjir.

Tanpa rompi relawan atau atribut resmi, ia membawa sesuatu yang jauh lebih bermakna makanan hangat untuk dibagikan. Aksinya sederhana, tetapi sarat ketulusan mengantar sepiring nasi dan lauk ke tangan warga yang tak sempat memasak di tengah bencana.

Video Guru Ayut yang membagikan makanan dari atas jukung itu kemudian viral di media sosial. Warganet tersentuh, bukan hanya karena perjuangannya melawan arus banjir, tetapi juga karena detail kecil yang jarang diperhatikan:,makanan yang dibagikan selalu hangat. Di tengah kondisi darurat, kehangatan itu terasa seperti pelukan,menenangkan, menguatkan.

Salah satu menu yang kerap dibagikan adalah Hintalu Bahampap, masakan khas Banjar yang telah lama menjadi bagian dari tradisi dapur masyarakat Kalimantan Selatan.

Hidangan ini berupa telur bebek atau ayam yang dimasak utuh dalam kuah santan kental, dipadukan dengan iwak karing, belimbing wuluh, serta rempah-rempah seperti serai, lengkuas, cabai, dan bawang. Rasanya gurih, pedas, dan sedikit asam—rasa rumah yang akrab bagi lidah warga Banjar.

Bagi para penerima, Hintalu Bahampap bukan sekadar lauk. Di tengah rumah yang tergenang air dan aktivitas yang lumpuh, semangkuk masakan tradisional itu menghadirkan rasa normalitas. Hal ini mengingatkan bahwa kehidupan tetap berjalan, bahwa ada tangan-tangan yang peduli dan hati yang mau berbagi.

Kisah Guru Ayut menjadi potret kecil dari solidaritas besar masyarakat saat bencana. Tanpa sorotan, tanpa hitung-hitungan, ia memilih bergerak. Jukung kecil itu mungkin tak mampu mengeringkan banjir, tetapi cukup untuk mengantarkan harapan, berasal dari dapur sederhana menuju rumah-rumah yang terendam.

Di Desa Keliling Benteng, di antara arus air dan langit mendung, Hintalu Bahampap yang hangat dan jukung yang terus bergerak menjadi bukti di balik banjir, selalu ada kemanusiaan yang menguatkan.(M.Irfani).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!