Di Antara Lapar, Lumpur, dan Keterbatasan di Sumatera
di Posko Dapur Umum Tagana di Aceh, Jali anggota Tagana Kalsel bersama salah satu Tim Tagana Perempuan daerah lainnya menyiapkan sejumlah logistik bantuan untuk korban banjir di Aceh Tamiang.(Foto-Dok Jali).
Perjuangan Tim Tagana Kalsel di Sumatera
Keterbatasan tak pernah menjadi alasan untuk berhenti menolong. Itulah yang ditunjukkan Tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kalimantan Selatan saat diterjunkan ke sejumlah wilayah terdampak banjir di Sumatera.
Di tengah minimnya air bersih, kondisi medan yang berat, hingga hari-hari tanpa mandi, semangat para relawan tetap menyala demi satu tujuan, memastikan para penyintas tidak kehilangan harapan.
Di Aceh Tamiang, dapur umum menjadi pusat denyut kemanusiaan. Sejak pagi hingga malam, asap tipis dari tungku-tungku masak tak pernah benar-benar hilang. Di sanalah Tim Tagana Kalsel berjibaku menyiapkan dan mendistribusikan ribuan bungkus makanan setiap harinya. Keterbatasan air bersih membuat aktivitas sehari-hari serba sulit, namun hal itu tak menyurutkan langkah mereka untuk terus memasak demi para pengungsi di mana pun.
Jali, salah satu relawan Tagana Kalsel, mengaku terenyuh melihat langsung kondisi para korban banjir. Anak-anak, lansia, dan ibu-ibu bertahan di tenda pengungsian dengan segala keterbatasan.
“Kami mungkin tidak mandi beberapa hari karena air bersih sangat terbatas. Tapi itu bukan masalah bagi kami,” ujar Jali. “Yang terpenting bagi kami, warga yang mengungsi jangan sampai kelaparan.”

Baginya dan rekan-rekan yang bertugas di dapur umum, memastikan makanan tersedia tiga kali sehari telah menjadi tugas kemanusiaan yang tak boleh terhenti. Bersama relawan lain, Jali rutin menyiapkan makanan pagi, siang, dan malam, meski tubuh mulai lelah dan kondisi lapangan serba darurat.
“Ada rasa capek, pasti. Tapi kami merasa lega dan bahagia kalau melihat makanan itu sudah sampai ke tangan warga. Senyum mereka itu yang menguatkan kami,” ucapnya.
Sementara itu, di wilayah Padang, Sumatera Barat, tim Tagana Kalsel lainnya menghadapi tantangan berbeda. Lumpur tebal, akses sulit, dan kawasan terjal menjadi medan perjuangan saat mereka membangun hunian sementara bagi warga terdampak banjir.
Setiap papan yang dipasang dan setiap rangka yang ditegakkan adalah upaya mengembalikan rasa aman bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal.
Komandan Tagana Kalsel, H. Ahmadi, menegaskan bahwa seluruh personel tetap berkomitmen memberikan bantuan terbaik, baik tenaga, pikiran, maupun pergerakan di lapangan.
“Dalam kondisi apa pun, kami pastikan tim Tagana Kalsel tetap bersemangat. Kami hadir untuk membantu warga yang terdampak banjir, baik di Aceh Tamiang maupun di Padang,” tegas H. Ahmadi.

Mewakili Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, pria yang sehari-hari menjabat sebagai Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Penanggulangan Bencana (PB) Dinas Sosial Kalsel ini menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi para relawan.
“Saya sangat berterima kasih dan bangga atas dedikasi luar biasa seluruh Tim Tagana Kalsel. Mereka bekerja tanpa mengenal lelah, di tengah keterbatasan, demi kemanusiaan. Ini adalah bentuk pengabdian yang sesungguhnya,” ujarnya.
Menurut H. Ahmadi, kehadiran Tagana Kalsel di wilayah terdampak bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi juga membawa pesan solidaritas dari Banua untuk saudara-saudara di Sumatera.
“Kami ingin warga terdampak tahu bahwa mereka tidak sendiri,” tambahnya.
Kisah Tagana Kalsel di Sumatera bukan hanya tentang dapur umum atau hunian sementara. Ini adalah cerita tentang empati, ketulusan, dan keberanian untuk tetap hadir di saat paling sulit. Di antara lapar, lumpur, dan keterbatasan, para relawan memilih berdiri di garis depan, menjadi tangan yang memberi, dan hati yang menguatkan.(Muhammad Irfani).

