Kopi Banjar Rasa yang Tidak Pernah Tergesa
Foto Ilustrasi - Kopi Banjar tetap melegenda dan disuka siapa saja.
Kopi Banjar tidak pernah terburu-buru. Kopi ini tumbuh perlahan di lereng Pegunungan Meratus, di desa-desa seperti Tanuhi dan Loksado (Hulu Sungai Selatan), Hantakan dan Haruyan (Hulu Sungai Tengah). Di sana, kopi menyerap hujan tropis, tanah hutan, dan kesunyian alam seperti masyarakat Banjar yang menjalaninya tanpa gegap gempita.
Berbeda dengan sentra kopi besar di Jawa atau Sumatra, kopi di Kalimantan Selatan lahir sebagai kopi rakyat. Ia tidak dibesarkan oleh perkebunan kolonial berskala luas, melainkan oleh kebun-kebun kecil milik keluarga yang menanam kopi sebagai tanaman sela, berdampingan dengan karet, lada, dan tanaman hutan lainnya.Inilah yang sedikit membuat Kalimantan Selatan menjadi beda dari segi prosesnya.
Jejak Sejarah Kopi di Banua
Sejarah mencatat kopi mulai masuk ke Kalimantan Selatan pada abad ke-19, mengikuti jalur perdagangan kolonial Hindia Belanda. Arsip kolonial menyebut wilayah Afdeeling Kandangan, Barabai, dan Amuntai sebagai daerah yang memiliki potensi tanaman keras, termasuk kopi.
Namun medan Pegunungan Meratus yang berat, keterbatasan akses, dan dominasi transportasi sungai membuat Belanda tidak mengembangkan kopi Banua sebagai komoditas ekspor utama.

Akibatnya, bisa dibayangkan kopi tumbuh secara organik, tanpa target produksi, tanpa tekanan pasar global. Dari situ pula karakter kopi Banjar terbentuk, sederhana, tahan lama, dan membumi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Selatan, produksi kopi perkebunan rakyat pada 2024 tercatat sekitar 0,9 ribu ton atau sekitar 900 ton. Angka ini memang relatif kecil jika dibandingkan provinsi penghasil kopi utama di Indonesia.
Sementara itu, data pemerintah daerah menunjukkan luas areal perkebunan kopi di Kalimantan Selatan sekitar 2.625 hektare. Sebagian besar berada di kawasan Pegunungan Meratus dan wilayah hulu sungai, dengan jenis kopi yang dominan adalah robusta, disusul liberika dalam skala terbatas.
Kondisi ini menggambarkan dua hal sekaligus, yakni keterbatasan skala produksi, namun juga peluang besar untuk pengembangan berbasis kualitas, identitas daerah, dan keberlanjutan.
Dalam kehidupan masyarakat Banjar, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah jeda. Di warung-warung pinggir sungai atau pasar, kopi menjadi medium pertemuan, tempat orang berbagi cerita, berdebat pelan, atau sekadar diam bersama.
Kopi Banjar diseduh pekat, pahit, dengan tingkat keasaman rendah. Ia diminum bersama pisang goreng, singkong rebus, atau wadai tradisional. Tidak ada klaim rasa kompleks, tidak ada standar cupping. Yang ada hanyalah rasa yang dikenali lidah sejak lama.Setidaknya potret ini ditemui bagi mereka penikmat sejati kopi Banua.

Kebangkitan UMKM Kopi Banjar
Dalam satu dekade terakhir, kopi Banjar memasuki fase baru. Sejumlah UMKM kopi lokal mulai mengolah biji kopi Meratus menjadi kopi sangrai dan bubuk kemasan dengan pendekatan modern, tanpa meninggalkan akar tradisi.
UMKM tersebut tersebar di berbagai wilayah seperti :
Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah
Desa-desa seperti Loksado, Tanuhi, Hantakan, Haruyan, Batu Tangga menjadi sentra produksi dan budidaya kopi rakyat.
Banjarbaru dan Banjarmasin
Menjadi pusat pengemasan, branding, distribusi, dan pemasaran kopi Banjar. Banyak UMKM rumahan tumbuh di wilayah ini.
Tanah Bumbu dan Kotabaru
Mulai mengembangkan kopi robusta lokal dan produk turunan untuk pasar regional.
Kopi Banjar kini dipasarkan melalui warung tradisional, toko oleh-oleh, festival UMKM, marketplace digital, media sosial, hingga kemitraan dengan kafe dan hotel lokal.
Meski menunjukkan geliat positif, kopi Banjar masih menghadapi sejumlah tantangan: skala produksi kecil, produktivitas yang belum stabil, keterbatasan pengolahan pascapanen, serta akses logistik dari kawasan pegunungan.
Namun peluangnya juga jelas. Dengan penguatan hilirisasi UMKM, pendampingan petani, branding “Kopi Meratus” atau “Kopi Banua”, serta dukungan kebijakan daerah, kopi Banjar berpotensi menjadi komoditas ekonomi kreatif berbasis budaya dan lingkungan.
Kopi Banjar mengajarkan bahwa yang paling berharga bukanlah rasa yang paling kompleks, melainkan rasa yang paling dikenali. Ia adalah pengingat bahwa identitas tidak selalu perlu dibuktikan dengan angka besar atau panggung global.
Cukup dijalani. Diseduh perlahan. Dan diingat, dari generasi ke generasi.(Muhammad Irfani).

