Singgah di Surabaya, Selangkah Lagi Razak ke Sekumpul
Abdul Razak berdiri di depan pintu gerbang Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur. (Foto- Dok Pribadi).
Perjalanan itu belum usai, meski ribuan kilometer telah ditinggalkan di belakang. Abdul Razak, seorang jemaah Sekumpul asal Serdang Bedagai, Sumatera Utara, kini berhenti sejenak di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Di hadapannya masih ada laut yang harus diseberangi. Di hatinya, Sekumpul Martapura kian dekat.
Sejak 1 Desember 2025, Razak memulai perjalanan panjang menuju Haul Tuan Guru Haji Muhammad Zaini Abdul Ghani, Abah Guru Sekumpul. Ia tidak naik pesawat, bukan pula bus antarkota.
Razak memilih sepeda motor tua yang telah dimodifikasi, setia menemaninya menembus dinginnya pagi Sumatera, panasnya siang di lintas Jawa, dan malam-malam panjang di jalan raya.
Hari demi hari dilalui dengan sabar. Angin, hujan, dan rasa lelah menjadi teman seperjalanan. Namun semua itu terasa ringan dibandingkan rindu yang ia pendam pada Sekumpul. Rindu pada majelis, rindu pada jutaan jemaah, rindu pada suasana haul yang selalu menggetarkan hati.
Di Tanjung Perak, Surabaya, rindu itu sempat tertahan. Razak tiba sejak malam sebelumnya, namun kapal menuju Banjarmasin belum juga berlayar. Ia pun mengirim pesan singkat kepada sahabat-sahabatnya.
“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillah ulun sudah di pelabuhan sejak dari kemarin malam. Hanya kemarin tidak ada jadwal penyeberangan ke Banjarmasin. Katanya hari ini dengan pemberangkatan pertama jam 13.00 waktu Surabaya. Doakanlah mudahan kawa berangkat sesuai jadwal.”

Harapan itu belum sepenuhnya terjawab. Tiga puluh menit kemudian, kabar baru datang. Jadwal penyeberangan diundur menjadi pukul 18.00 waktu Surabaya. Menunggu kembali menjadi bagian dari perjalanan spiritual itu.
Meski demikian, Razak tak kehilangan semangat. Ia mengaku sangat rindu Sekumpul Martapura. Kerinduan itu telah lama dipendam, sejak niat berangkat tumbuh di hatinya. Bertemu jutaan jemaah haul menjadi impian yang sebentar lagi terwujud.
Di Surabaya, Razak tak merasa sendirian. Ia bertemu orang-orang Banjar di perantauan. Kabar perjuangannya yang sempat viral tahun lalu saat berangkat naik sepeda, dan kini mengulang perjalanan dengan motor tua, membuat banyak orang menyambutnya dengan antusias. Sapaan hangat datang silih berganti.

Bahkan sejumlah porter pelabuhan dan warga sekitar turut menunjukkan kepedulian. Makanan dan minuman diberikan dengan tulus. Sederhana, namun penuh makna. Di pelabuhan yang sibuk itu, Razak merasakan kehangatan persaudaraan yang tak pernah ia rencanakan, tetapi selalu hadir di setiap persinggahan.
Bagi Razak, perjalanan ini bukan tentang jarak, bukan pula tentang tantangan fisik. Ini adalah perjalanan hati. Tentang niat, tentang cinta kepada guru, dan tentang keyakinan bahwa setiap langkah menuju Sekumpul selalu diberkahi.
Kini ia hanya tinggal menunggu kapal. Laut Jawa menjadi batas terakhir sebelum tanah Banua menyambutnya. Selangkah lagi, Razak akan sampai di Sekumpul. Dan ketika itu terjadi, semua lelah akan luruh dalam satu kalimat yang selalu ia genggam sepanjang perjalanan: rindu yang akhirnya sampai.(M.Irfani).
