REDD+ Suntik Rp50 Miliar Kalsel Kebut Pemulihan Lahan Kritis

0
PENANAMAN POHON DISHUT

Kepala Dishut Kalsel Fathimatuzzahra menegaskan seluruh penanaman ditargetkan rampung pada akhir Desember. (Foto-MC Kalsel).

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mempercepat pemulihan lahan kritis melalui implementasi program REDD+ yang didukung pendanaan internasional lebih dari Rp50 miliar. Langkah ini menjadi bukti keseriusan Kalsel menjawab tekanan degradasi hutan sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai penerima kepercayaan global dalam pengelolaan lingkungan.

Pendanaan senilai 3,4 juta dolar AS tersebut disalurkan melalui BPDLH dan diarahkan untuk rehabilitasi lahan, pengamanan kawasan hutan, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, serta penguatan Program Kampung Iklim. Evaluasi global atas perbaikan tata kelola lingkungan Kalsel dalam beberapa tahun terakhir menjadi landasan utama pemberian dukungan ini.

Gubernur Kalsel H Muhidin, melalui Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Mursidah Amini, menegaskan bahwa kepercayaan internasional ini mengharuskan Kalsel bekerja lebih ketat, lebih transparan, dan lebih cepat.

Ia menyoroti pentingnya pengawasan terpadu serta sistem monitoring yang kuat agar setiap dana yang diterima menghasilkan dampak nyata di lapangan.

“Kita harus memastikan pelaksanaan kegiatan berjalan efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Ini bukan sekadar program, tetapi mandat kepercayaan yang harus dijaga,” ucapnya.

Keseriusan tersebut tercermin dari pola kerja teknis yang sudah disiapkan. Dari total 300 hektare lahan milik Pemprov, 100 hektare ditetapkan sebagai lokasi penanaman tahap pertama. Area ini dibagi menjadi empat blok yang ditanami jenis berbeda, mulai dari buah-buahan seperti matoa, manggis, cempedak, dan alpukat, hingga tanaman ulin seluas sekitar 28 hektare serta eucalyptus di blok lainnya. Setiap blok dipisahkan jalur inspeksi yang sekaligus berfungsi sebagai sekat bakar, memperkuat sistem pencegahan karhutla.

Kepala Dishut Kalsel Fathimatuzzahra menegaskan seluruh penanaman ditargetkan rampung pada akhir Desember. Ia memastikan bahwa program ini bukan pekerjaan seremonial, melainkan bagian dari strategi jangka panjang Kalsel dalam memulihkan ekosistem yang rusak.

“Sejak 2016 hingga 2025, kami telah merealisasikan penanaman di lebih dari 160 ribu hektare. REDD+ hadir untuk memperkuat upaya yang sudah dilakukan secara konsisten,” tegasnya.

Program penanaman ini tidak hanya berfokus pada rehabilitasi ekologis, tetapi juga manfaat ekonomi jangka panjang. Tanaman buah diperkirakan mulai berproduksi dalam empat tahun, sementara ulin disiapkan sebagai penyangga ekosistem dan elemen konservasi.

Dengan pengelolaan berbasis data, pendanaan terverifikasi, serta rekam jejak perbaikan lingkungan yang kuat, Kalsel menegaskan diri sebagai provinsi yang serius dan progresif dalam mengatasi lahan kritis. Pemerintah daerah menargetkan pemulihan berjalan lebih cepat dan lebih terukur, sejalan dengan tuntutan global terhadap aksi iklim yang nyata.(Olpah Sari).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!