Gowes Menjelajah Lembah Kahung Jantung Meratus

0
LEMBAH KAHUNG BIKE

Anggota Komunitas Anak Bike Baik dalam ekspedisi Lembah Kahung, 22 Nopember 2025.

Pagi baru saja merekah ketika suara mesin kelotok menggetarkan udara Dermaga Tiwingan. Embun masih menempel di daun-daun, sementara Waduk Riam Kanan memantulkan langit biru yang mulai terbuka. Di atas kelotok besar yang disiapkan khusus, deretan sepeda terikat rapi.

Anggota Komunitas Anak Bike Baik duduk berjejer, sebagian tersenyum menahan antusiasme, sebagian lain menyiapkan kamera untuk merekam petualangan yang sudah berbulan-bulan mereka rencanakan.

Perjalanan menuju Lembah Kahung bukan perjalanan sembarangan. Dari dermaga hingga Desa Balengean, kelotok harus menempuh dua jam lebih perjalanan air. Angin berdesir lembut membawa aroma hutan dan tanah basah.

Di kiri kanan, pulau-pulau kecil muncul seperti bongkahan zamrud yang terapung. Sementara itu, suara percikan air di buritan menjadi musik latar yang memandu rombongan memasuki wilayah yang semakin lama semakin sepi dari jejak manusia.

Ketika kelotok merapat di Balengean, rombongan disambut suasana desa yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota. Balengean hanyalah titik kecil di peta Banjar, namun bagi para goweser hari itu ia berubah menjadi pintu gerbang menuju salah satu lembah paling indah dan tersembunyi di Kalimantan Selatan.

 

Komunitas Anak Bike Baik saat berada di kelotok dari Dermaga Tiwingan menuju Dermaga Desa Balengean, pintu gerbang menuju Lembah Kahung. (Foto-Israul Huda).

Tanah di Balengean masih dingin ketika roda pertama menyentuh permukaannya. Begitu merapatkan helm dan mengunci pedal, rombongan mulai menyusuri jalur yang memanjang ke arah hutan tropis. Dan sejak itulah, Lembah Kahung seakan membuka pintunya dengan cara paling elegan, melalui bisikan pepohonan, aroma tanah basah, dan cahaya matahari yang jatuh dalam pola-pola eksotis di atas tanah.

Di kawasan yang merupakan bagian dari Pegunungan Meratus ini, kehidupan berlangsung dengan ritme yang berbeda. Ratusan spesies flora dan fauna hidup dalam harmoni yang jarang terlihat di tempat lain. Salah seorang perwakilan komunitas, Israul Huda, menyebut perjalanan ke Kahung sebagai pengalaman yang membesarkan hati.

“Kami gowes di rumahnya beruang madu, monyet merah, monyet hitam, dan banyak burung langka. Ini bukan sekadar olahraga, ini penghormatan kepada alam,” ujarnya sambil memandang kanopi hutan yang bergerak pelan tertiup angin.

Vegetasi raksasa adalah ciri khas di sini. Pohon binuang, meranti, dan beringin tumbuh dengan ukuran yang membuat para goweser terdiam sejenak. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah Pohon Binuang Laki, menjulang kokoh seakan telah berdiri ratusan tahun. Di bawah bayangnya, rombongan berhenti untuk sekadar meneguk air, mengatur napas, atau memotret pemandangan yang begitu besar hingga kamera terasa tak cukup.

 

Israul Huda memimpin rombongan menembus kawasan lembah Kahung, Aranio nan eksotis. (Foto-Israul Huda).

Rute gowes memasuki Kahung menawarkan kombinasi medan yang ideal bagi para pencinta petualangan. Sesekali jalur melewati tepi sungai berair jernih. Kadang melalui tanah yang naik turun, licin di beberapa titik, dengan akar-akar pohon yang menjulur seperti anak tangga alami.

“Alam seperti menyodorkan tantangan kecil yang justru memacu adrenalin.Maka tak salah kalau ekspedisi gowes kali ini seperti menembus sisi lain raksasa hutan Meratus, sungguh eksotis dan mendamaikan hati,” ucap Reifa, Ketua Perkumpulan Himpunan Pramuwisata Indonesia (PHPI) Kalsel.

Namun perjalanan ini bukan hanya soal fisik, melainkan dialog personal para goweser dengan alam. Bunyi air yang memantul di bebatuan, suara burung yang bersahutan dari kejauhan, hingga dedaunan yang jatuh tanpa suara, seolah membentuk orkestra rimba yang hanya bisa didengar oleh mereka yang benar-benar hadir.

Beberapa kilometer dari jalur utama, suara gemuruh halus mulai terdengar. Rombongan memperlambat kayuhan, menebak dari mana datangnya. Dan tak lama kemudian, mereka menemukan sebuah air terjun tersembunyi, jatuh dari dinding batu yang gelap dan kokoh. Kabut air yang halus menyentuh wajah, memberi sensasi dingin yang menyegarkan setelah berjam-jam mengayuh.

Di sisi bebatuan dekat air terjun, ada kehidupan lain yang tak kalah gigih. Pacat. Makhluk kecil namun sangat gigih itu menjadi penguji konsentrasi sekaligus sumber tawa. Beberapa anggota rombongan mendapati betis mereka ditempeli pacat kecil yang bergerak lambat namun pasti.

Teriakan kecil bercampur tawa lepas memenuhi area itu. Ada yang memeriksa kaos kaki, ada yang sibuk menepuk paha, ada pula yang mencoba berlari kecil untuk menghindar. Pacat-pacat itu seperti pengingat bahwa keindahan alam selalu datang dengan harga kecil yang harus dibayar.

Meski begitu, air terjun menjadi titik rehat ideal. Beberapa goweser duduk di atas batu, menikmati suara alam, sebagian lain merendam kaki di air yang mengalir dingin. Rasa letih berubah menjadi rasa damai. Alam yang utuh selalu punya cara meredam kebisingan batin.

 

Penulis saat berada di bawah pohon raksasa “Binuang” Lembah Kahung. (Foto – Risanta).

Hari merambat turun. Cahaya matahari menyelinap di balik pepohonan, menghasilkan pola keemasan yang jatuh di jalur tanah. Rombongan kembali mengayuh pedal menuju Balengean. Perlahan, hutan meredup dalam warna hijau kebiruan, sementara suara serangga mulai menggantikan nyanyian burung.

Ketika kembali naik ke kelotok, rombongan membawa lebih dari sekadar foto atau rekaman video. Mereka membawa pengalaman yang menempel jauh lebih dalam, rasa syukur atas alam yang masih bertahan, rasa kagum terhadap kekuatan Meratus, dan rasa kecil namun bahagia di tengah raksasa hijau yang menjulang tinggi.

Perjalanan dua jam kembali ke Dermaga Tiwingan terasa lebih sunyi. Beberapa tertidur, beberapa memandang jauh ke arah bukit-bukit yang mulai dilapisi kabut tipis. Mesin kelotok bergetar, mengantar mereka pulang dengan cara paling sederhana dan jujur, membawa mereka kembali setelah membuat mereka jatuh cinta pada alam yang tidak meminta apa pun selain dihormati.

Ekspedisi Gowes Komunitas Anak Bike Baik ke Lembah Kahung bukan sekadar perjalanan olahraga. Ini adalah perjalanan batin, perjalanan ekologis, perjalanan kebudayaan. Sebuah jeda dari rutinitas, sebuah upacara kecil untuk merayakan keberadaan alam yang masih bertahan di jantung Kalimantan Selatan.

Dan seperti semua petualangan yang benar-benar berarti, perjalanan ini bukan tentang berapa jauh mereka kayuh, tetapi seberapa dalam mereka menyerap setiap momen di sepanjang jalur Meratus yang megah.(Risanta).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!