Glamping Klotok di Banjarmasin Wisata Baru, Nilai Ekonomi Baru

0
KLOTOK GLAMPING

Karikatur Ilustrasi - Tim Redaksi.

Oleh : Muhammad Risanta SE MM

Wacana pengembangan glamping klotok di Banjarmasin layak dibaca sebagai lebih dari sekadar inovasi wisata. Ia adalah gagasan ekonomi berbasis budaya sungai, yang bila dirancang serius dapat membuka rantai nilai baru bagi sektor pariwisata kota.

Di tengah stagnasi produk wisata urban yang cenderung repetitif, konsep bermalam di atas klotok menawarkan diferensiasi kuat, autentik, berbasis kearifan lokal, dan memiliki daya jual premium.

Inti kekuatannya sederhana. Banjarmasin memiliki identitas sungai yang tidak dimiliki kota lain di Indonesia. Namun selama ini, nilai ekonomi dari identitas tersebut belum tergarap maksimal. Susur sungai masih menjadi produk utama, tetapi durasinya pendek, margin ekonomi terbatas, dan kompetisinya tinggi.

Glamping klotok mengubah ruang sungai dari sekadar tempat melintas menjadi ruang tinggal sementara, sebuah upgrade pengalaman wisata yang bernilai ekonomi jauh lebih tinggi.

Jika dikembangkan dengan standar layanan memadai, glamping klotok dapat menciptakan ekosistem ekonomi baru. Pemilik klotok akan menjadi pelaku utama yang terdampak langsung.

Klotok tradisional bisa dimodifikasi dengan standar kenyamanan, instalasi penerangan hemat energi, interior kayu yang rapi, fasilitas tidur minimalis, dan perlengkapan keamanan. Setiap modifikasi berarti pekerjaan bagi pengrajin kayu, penyedia peralatan kapal, dan bengkel perahu lokal.

Tidak berhenti di situ. Aktivitas glamping akan melibatkan, UMKM kuliner untuk kebutuhan konsumsi di atas klotok.Kemudian Pemandu wisata sungai yang memahami narasi budaya Martapura dan Kuin. Seniman lokal untuk pertunjukan skala kecil seperti musik panting atau Madihin.

 

Karikatur Ilustrasi – Wisatawan Mancanegara menikmati malam Glamping di Klotok diatas Sungai Martapura, Banjarmasin ( Foto –  Tim Redaksi.)

Pedagang pasar terapung yang akan mendapat pembelian langsung dari wisatawan. Satu klotok yang beroperasi dapat memberi penghidupan bagi banyak pelaku. Semakin banyak klotok bergabung, semakin kuat efek ekonominya.

Pasar Wisata Premium yang Terkurung

Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata domestik telah mengalami pergeseran, wisatawan urban cenderung mencari pengalaman unik, bukan sekadar destinasi. Konsep staycation dan slow travel pun meningkat. Glamping di perahu berada tepat di simpul tren ini.

Banjarmasin jarang menawarkan layanan wisata premium. Padahal, kelas menengah tumbuh pesat dan permintaan terhadap pengalaman “istimewa namun dekat” makin tinggi. Glamping klotok dapat menjadi pilihan baru di pasar tersebut,menawarkan pengalaman eksklusif yang tidak perlu meninggalkan kota.

Secara fiskal, pemerintah daerah dapat memanfaatkan peluang dari beberapa sisi, Retribusi izin operasional klotok wisata berbasis akomodasi, Paket kerja sama promosi dan branding Kota Sungai, serta peluang event tematik, seperti midnight river dinner, sunset sailing, atau pasar terapung sunrise trip.

Hal terpenting seperti harapan kita semua bagi Kalsel adalah integrasi ke kawasan wisata sungai terpadu yang berpotensi meningkatkan panjang masa tinggal wisatawan.

Dengan masa inap yang lebih panjang, belanja wisatawan akan meningkat. Yang selama ini hanya “susur sungai satu jam” dapat berkembang menjadi paket perjalanan 12–15 jam dengan nilai transaksi berlipat.

Penguatan Identitas Kota Sungai

Dari sudut pandang kebijakan, glamping klotok mampu mempertegas arah pembangunan pariwisata Banjarmasin: berbasis budaya sungai, minim konflik ruang, dan berkelanjutan. Tidak perlu membuka lahan baru, tidak perlu pembangunan permanen yang membebani ekologis. Infrastruktur sungai sudah ada; yang dibutuhkan adalah pengaturan standar keamanan, kenyamanan, dan rute.

Selain itu, inovasi ini dapat menjadi brand differentiator. Kota-kota lain mungkin memiliki glamping, tetapi hanya Banjarmasin yang dapat menawarkan glamping di atas kota air

Tentu saja, setiap peluang ekonomi memiliki konsekuensi. Ada beberapa titik kritis yang perlu diperhatikan sejak awal, yakni standar keselamatan kapal, termasuk APAR, pelampung, stabilitas klotok.Ini pernah dikemukakan sahabat kami Pemerhati Pariwisata, Dr Husni Naparin yang juga anggota Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Kalimantan Selatan dan Dosen UIN Antasari Banjarmasin.

Husni Naparin sempat berdiskusi dengan kami, seandainya bisa direalisasikan paket Glamping di atas kelotok sebagai bagian refresentasi pariwisata Banua, yang perlu diperhatikan adalah kualitas air sungai, khususnya di rute bermalam, pendataan dan sertifikasi operator, agar tidak terjadi eksploitasi berlebihan,Kemudian pengendalian kebisingan agar tidak mengganggu warga bantaran sungai dan terpenting juga pengelolaan limbah, terutama untuk paket menginap.

Jika hal-hal tersebut disiapkan, glamping klotok berpotensi menjadi ikon baru yang bukan hanya berumur sebentar, tetapi menjadi produk unggulan jangka panjang.

Sejatinya gagasan glamping klotok bukan hanya tentang membangun tempat tidur di atas air. Ia adalah inovasi yang menegaskan bahwa ekonomi kreatif tumbuh ketika identitas lokal dipadukan dengan kebutuhan pasar modern. Jika pemerintah daerah, pelaku wisata, dan komunitas sungai bergerak bersama, glamping klotok dapat menjadi katalis untuk menghidupkan kembali ekonomi sungai dan menjadikan Banjarmasin sebagai kota wisata yang memiliki cerita, bukan imitasi.

Di tengah dinamika ekonomi daerah yang membutuhkan inspirasi baru, glamping klotok menawarkan harapan, kecil, mengalir, tetapi bisa memberi dampak besar, seperti sungai itu sendiri.Bangganya punya Banjarmasin, kota seribu Sungai.

Penulis Adalah Ahli Pers Dewan Pers & Akademisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!