Menjaga Netralitas Media di Tengah Arus Perubahan

0
RISANTA DAN NEWS

Oleh: Muhammad Risanta SE MM

Di tengah hiruk-pikuk perubahan zaman, media tetap memegang peran sakral sebagai penuntun arah publik. Ia bukan sekadar penyampai kabar, tetapi juga pengendali suhu ruang sosial agar tidak terjebak dalam panasnya konflik atau euforia politik yang berlebihan. Dalam setiap musim politik Pemilu, Pilpres, maupun Pilkada ujian terbesar media selalu sama, menjaga netralitas, daya kritis, dan keadaban dalam setiap berita.

Netralitas media bukan berarti abai terhadap kebenaran, tetapi justru menjadi sikap yang berakar dari kesadaran etik. Media yang netral bukan yang diam, melainkan yang berimbang dalam menyuarakan berbagai sudut pandang tanpa kehilangan kompas moralnya.

Ketika ruang publik kian gaduh oleh informasi yang dipelintir dan opini yang menyesatkan, media harus hadir sebagai penjernih, bukan penyulut.

Sebuah media yang baik tidak menempatkan dirinya sebagai super power yang merasa paling benar, paling tahu, dan paling berhak menilai. Tugas media adalah membuka ruang dialog, bukan menghakimi.

Menyajikan fakta, bukan mempermainkan persepsi. Di sinilah pentingnya kebijaksanaan redaksi, menerjemahkan kebebasan pers dengan tanggung jawab sosial yang tinggi.

Dalam konteks ini, kebijakan redaksi yang bertumpu pada Kode Etik Jurnalistik, Undang-Undang Pers, UU Penyiaran, hingga Pedoman Media Siber menjadi fondasi utama.

Bukan sekadar aturan di atas kertas, tetapi napas profesionalisme yang menjaga jurnalis tetap berpijak di tanah integritas. Setiap kalimat yang terbit di layar atau di halaman surat kabar adalah hasil pertimbangan etik, bukan sekadar kecepatan.

Media yang kritis bukan berarti garang, dan media yang sejuk bukan berarti tumpul. Kritis berarti tajam pada substansi, tajam pada data, dan tajam pada kepentingan publik, bukan pada kepentingan politik.

Sementara “sejuk” berarti memberi ruang bagi publik untuk mencerna realitas dengan jernih, tidak dengan kemarahan. Di tengah kompetisi opini, media yang inspiratif justru menjadi oase, menghadirkan cerita kebaikan, keteladanan, dan solusi.

Karena itu, dialog publik bertajuk “Pendidikan Politik Bagi Masyarakat: Peran dan Netralitas Media dalam Pemberitaan” yang digelar oleh PWI Kalimantan Selatan bersama Kesbangpol Provinsi, sangat relevan dan strategis.

Forum semacam ini mengingatkan kembali esensi pers sebagai pilar keempat demokrasi yang bekerja bukan untuk kepentingan kekuasaan, melainkan untuk kepentingan rakyat.

Media yang baik tidak hanyut oleh arus perubahan, melainkan berdiri di atasnya, menjadi penuntun arah, bukan korban zaman. Profesionalisme dan netralitas bukan beban, melainkan kehormatan.

Sebab ketika media tetap jernih di tengah riuh, maka bangsa ini akan terus memiliki cermin yang bersih untuk menatap masa depannya.

  • Penulis adalah Ahli Pers Dewan Pers dan Jurnalis CNN Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!