Ada Apa dengan Anak Muda di Bursa Saham?

0
BEI

Foto Ilustrasi - Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia Kalsel, Yuniar, memberikan edukasi investasi sehat untuk saham kepada masyarakat di Banjarmasin.

Oleh: Muhammad Risanta SE MM

Beberapa tahun terakhir, wajah pasar modal Indonesia mengalami metamorfosis menarik. Bursa saham yang dulu identik dengan jas necis para eksekutif dan analis keuangan berusia matang, kini mulai ramai oleh generasi muda, jika ditelisik lebih jauh bahkan banyak di antaranya masih mahasiswa.

Data dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, mayoritas Single Investor Identification (SID) kini justru didominasi oleh anak muda berusia di bawah 30 tahun. Pertanyaannya, ada apa dengan anak muda dan bursa saham?

Fenomena ini tidak muncul tiba-tiba. Pandemi COVID-19 beberapa tahun silam menjadi titik balik besar dalam perilaku ekonomi generasi muda. Ketika mobilitas terbatas dan digitalisasi melonjak, banyak anak muda beralih ke dunia investasi online.

Platform investasi yang mudah diakses melalui gawai, ditambah kampanye inklusi keuangan dari OJK dan BEI, membuat saham tidak lagi terdengar eksklusif.

Investasi kini menjadi bagian dari gaya hidup, bahkan kalau mau jujur ini adalah simbol kesadaran finansial baru. Generasi Z dan milenial melihat investasi bukan hanya sebagai cara “menggandakan uang”, tetapi juga sarana aktualisasi diri dan pembuktian bahwa mereka bisa mandiri secara ekonomi di usia muda.

Namun di balik tren ini, ada juga faktor sosial-psikologis. Anak muda tumbuh di era keterbukaan informasi. Mereka terpapar kisah sukses investor muda di media sosial, mengikuti influencer keuangan, dan terbiasa mempelajari literasi finansial dari konten daring. Pasar modal tidak lagi terasa menakutkan seperti di masa lalu.

 

Foto Ilustrasi – Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalsel, Yuniar, dalam Workshop Wartawan Kalsel yang sebagian besar menaruh minat pada bursa saham dan mereka kebanyakan adalah wartawan muda, di Pasang Dalam Café, Banjarmasin, beberapa waktu lalu. (Foto – Dok Risanta).

Trust dan Rasionalitas Baru dalam Investasi

Menariknya, tingkat trust (kepercayaan) anak muda terhadap pasar modal tergolong tinggi. Survei BEI dan beberapa lembaga riset menunjukkan bahwa lebih dari separuh investor baru dari kalangan muda menganggap saham sebagai instrumen investasi paling “transparan” dan “terukur” dibandingkan dengan instrumen lain seperti crypto atau trading forex.

Kepercayaan ini lahir dari sistem pasar modal yang semakin terbuka dan terintegrasi dengan ekosistem digital. Keterlibatan OJK dan BEI dalam mengedukasi publik, termasuk lewat program “Yuk Nabung Saham”, memperkuat keyakinan bahwa pasar modal bukan sekadar arena spekulasi, melainkan bagian dari ekonomi nasional yang riil.

Namun demikian, trust saja tidak cukup. Masih ada tantangan pada aspek literasi risiko. Banyak anak muda yang masih berorientasi pada keuntungan jangka pendek, dipengaruhi oleh tren saham viral atau rekomendasi tanpa riset. Di sinilah pentingnya transformasi edukasi pasar modal—dari sekadar promosi investasi menjadi pembentukan mindset investor cerdas.

Ke depan, potensi pasar modal Indonesia bagi generasi muda sangat besar. Bonus demografi menjadikan Indonesia memiliki populasi produktif yang masif hingga 2045. Bila arah pertumbuhan ekonomi tetap positif dan inklusi keuangan makin dalam, maka pasar modal akan menjadi ruang strategis bagi anak muda untuk berpartisipasi langsung dalam pembangunan ekonomi nasional.

Digitalisasi juga memainkan peran penting. Aplikasi investasi yang semakin intuitif, keterbukaan data keuangan perusahaan, hingga hadirnya teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam analisis saham, membuat proses belajar dan bertransaksi menjadi jauh lebih mudah. Generasi muda yang terbiasa dengan data, visual, dan efisiensi akan menemukan kenyamanan di dalamnya.

 

Komunitas pasar modal salah satu pendorong signifikan dalam pertumbuhan jumlah investor Pasar Modal Indonesia.Seperti yang dilakukan di Banjarmasin.

Menatap Masa Depan: Dari Spekulan ke Investor Visioner

Yang dibutuhkan kini bukan hanya peningkatan jumlah investor muda, melainkan peningkatan kualitas mental investornya. Anak muda perlu menumbuhkan karakter investor visioner, tentunya yang sabar, berpikir jangka panjang, dan berorientasi nilai, bukan sekadar angka.

Jika generasi muda dapat mengubah semangat “ikut-ikutan” menjadi “percaya dan paham”, pasar modal Indonesia akan melahirkan generasi baru investor nasionalis: yang tidak hanya mengejar cuan, tetapi juga berperan dalam menggerakkan roda ekonomi bangsa.

Bursa saham bukan lagi milik segelintir elite keuangan. Kini, ia telah menjadi panggung bagi generasi muda Indonesia yang ingin menulis bab baru tentang kemandirian ekonomi, keberanian mengambil risiko, dan optimisme terhadap masa depan negeri.

Penulis Adalah Ahli Pers Dewan Pers – Akademisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!