Bahasa Banjar, Pengulangan yang Memikat
Karikatur Ilustrasi - Dok Tim Redaksi.
Oleh : Abd Munir
Bahasa selalu punya karakter khas, dan bahasa Banjar adalah salah satu yang paling unik di antara bahasa-bahasa daerah di Nusantara. Dikenal juga sebagai bahasa Melayu Banjar, bahasa ini memiliki pengaruh luas di wilayah Kalimantan, kecuali Kalimantan Barat. Ciri khas yang paling menonjol dari bahasa Banjar adalah reduplikasi atau pengulangan kata yang menjadi warna tersendiri dalam tuturan sehari-hari.
Dalam pandangan para ahli bahasa, reduplikasi adalah proses pengulangan bunyi atau suku kata, baik secara penuh maupun sebagian. Menurut Alwi dkk (2000), bentuknya bisa berupa perulangan utuh, salin suara, sebagian, atau disertai pengimbuhan.
Fungsi pengulangan ini bermacam-macam, untuk menegaskan makna banyak, menyiratkan kebersamaan, menunjukkan kemiripan, hingga menambah nada permainan dalam tuturan.
Menariknya, pengulangan semacam ini jarang ditemukan dalam bahasa-bahasa besar dunia seperti Inggris, Prancis, Jerman, atau Spanyol. Dalam bahasa-bahasa itu, hanya sedikit contoh alami yang menyerupai reduplikasi, misalnya reread (Inggris) atau bonbon (Prancis). Namun bagi penutur Banjar, pengulangan justru menjadi napas keseharian,ia hidup dan tumbuh bersama bahasa itu sendiri.
Bahasa Banjar terbagi atas dua kelompok utama, Banjar Kuala (Muara) dan Banjar Hulu (Pahuluan). Dialek Banjar Kuala umum digunakan di wilayah Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, dan sebagian Tanah Laut, Tanah Bumbu, serta Kotabaru.
Sementara Banjar Hulu lebih banyak digunakan di daerah Amuntai, Alabio, dan sekitarnya, dengan ciri intonasi cepat, nada tinggi, serta penggunaan huruf hidup yang lebih terbatas,hanya a, i, dan u.
Di Amuntai, logatnya lembut dan mengalun, sedangkan di Kalua justru melenggok tajam dan sulit ditiru. Bahkan, banyak keturunan Banjar di Malaysia masih mempertahankan logat khas ini.
Setiap daerah membawa keunikan sendiri, termasuk dalam reduplikasi. Warga Banjar Hulu, misalnya, sangat gemar mengulang kata dalam percakapan. Pengulangan ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan cara menegaskan makna dan memberi tekanan rasa.
Dalam bahasa Banjar, hampir semua jenis kata bisa diulang,baik kata benda, kerja, sifat, maupun keterangan. Kita mengenal kata kuda-kuda, siku-siku, jalan-jalan, kasasipuan (malu), atau bararamian (bersenang-senang).
Bahkan banyak nama tempat di Kalimantan Selatan yang terbentuk dari pengulangan, Bati-Bati, Asam-Asam, Kait-Kait, Buas-Buas. Begitulah bahasa Banjar, memantulkan keindahan dari pola berulang yang terasa alami di telinga.
Coba dengar percakapan orang Banjar. Mereka dengan ringan menyebut kata-kata seperti kelalatu (sisa pembakaran hutan), babungku, gagicak, geguduh, papundut, atau pepakin. Banyak di antaranya adalah nama kue tradisional, benda, atau istilah khas daerah. Semua itu memperlihatkan kekayaan morfologi yang memikat.
Dari sisi linguistik, reduplikasi juga menunjukkan kreativitas penutur. Ada bentuk seperti baiilangan (saling mengunjungi), bagigimitan (pelan-pelan), papadahan (pemberian nasihat), hingga gagaringan (kurang enak badan). Menariknya, hampir semua kata sifat (adjektiva) dan bilangan (numeralia) pun bisa direduplikasi—gonol-gonol (besar-besar), baratus-ratus (ratusan).
Namun, seiring waktu, kebiasaan ini mulai jarang dipakai generasi muda. Mereka menganggap bentuk-bentuk reduplikasi terdengar kuno, bahkan lucu. Misalnya kata mahahahahar (meraba-raba), terasa janggal di telinga penutur sekarang. Padahal, justru di sanalah kekhasan dan daya pikat bahasa Banjar itu tersimpan,pada keintiman antara bunyi, makna, dan kebiasaan tutur masyarakatnya.
Bahasa Banjar bukan hanya alat komunikasi, tapi juga cermin budaya bahari yang sarat irama, kesantunan, dan permainan kata. Pengulangan dalam bahasa ini bukan tanda kelemahan, melainkan keindahan. Ia merekam cara berpikir masyarakat Banjar yang tenang, mengalun, tapi juga tegas dan berulang untuk meneguhkan makna.
Kini, tugas kita adalah menjaga keunikan itu agar tidak hilang ditelan zaman. Melalui tulisan, media, dan pembelajaran, biarkan bahasa Banua ini terus berkembang dan berkirab di pentas nasional, sebagai bahasa yang sederhana namun memikat, sebagaimana irama pengulangannya yang lembut tapi tak pernah membosankan.

