Bahasa Inggris, Kunci Daya Saing Indonesia di Era Globalisasi

0
DOSEN MUNIR UTAMA

Penulis dalam berbagai kesempatan selalu menekankan pentingnya mahasiswa kompeten menguasai bahasa asing, minimal lancar berbahasa inggris. (Foto - Koleksi Pribadi).

Oleh : Abd Munir, M.Sc.

Globalisasi dan kemajuan teknologi informasi membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Arus informasi lintas negara makin terbuka, sehingga kemampuan berbahasa asing,terutama bahasa Inggris tidak lagi sekadar nilai tambahan, melainkan kebutuhan strategis. Bahasa Inggris kini muncul di pertemuan resmi, media massa, ruang akademik, dan aktivitas sehari-hari sebagai alat yang menjembatani komunikasi internasional.

Bahasa adalah warisan budaya sekaligus sarana komunikasi manusia. Melalui bahasa, pikiran dan perasaan dapat disampaikan, pengetahuan generasi sebelumnya diwariskan, dan kerja sama antarmanusia dibangun. Banyak karya ilmiah, jurnal, dan inovasi teknologi tersedia dalam bahasa Inggris, sehingga tanpa pemahaman yang memadai, akses terhadap peradaban global menjadi terbatas.

Data terkini menunjukkan tantangan serius. Menurut EF English Proficiency Index (EF EPI) 2023, kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia berada di peringkat 79 dari 113 negara , kategori rendah, dengan skor rata-rata 469 (dikutip dari Antara News). Ini menggambarkan kesenjangan antara kebutuhan bahasa Inggris dalam berbagai bidang dan kenyataan penguasaan di masyarakat.

Selain itu, laporan kebijakan Kemendikbud menyebut bahwa dalam rentang 2015–2019, rata-rata nilai ujian nasional bahasa Inggris menurun, tingkat SMP turun sekitar 4,8 % dan SMA sekitar 5,8 %. Data Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) yang berada di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) merilis fakta bahwa fenomena ini menjadi peringatan bahwa metode pembelajaran dan kesiapan infrastruktur pendidikan perlu segera diperbaiki.

 

Penulis bersama para mahasiswa di Kampus STIE Pancasetia. (Foto – Koleksi Pribadi).

UNESCO sendiri menekankan pentingnya pendidikan multibahasa dan keberlangsungan bahasa dalam sistem pendidikan. Melalui program multilingual education, UNESCO menggarisbawahi bahwa kemampuan belajar lebih baik apabila diajarkan dalam bahasa yang dikuasai siswa—yang kemudian diperluas ke bahasa internasional (United Nations + UNESCO). Dalam konteks ini, bahasa Inggris bukan menggantikan bahasa ibu, tetapi menjadi jembatan untuk mengeksplorasi dunia luar.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pemerintah Indonesia melalui Kemendikbud telah merancang kebijakan agar bahasa Inggris mulai diperkenalkan sejak pendidikan dasar. Mulai tahun ajaran 2027/2028, bahasa Inggris direncanakan menjadi mata pelajaran wajib di SD, apabila sekolah telah siap menurut kesiapan lembaga.

Selain itu, program peningkatan kompetensi guru SD dirancang agar pengajar bahasa Inggris minimal bisa berada pada level CEFR A1–A2, dengan target meningkat ke level lebih tinggi secara bertahap ( Sumber BBPMP Provinsi Jawa Timur).

Di tengah peluang dan tantangan itu, kunci sukses belajar bahasa Inggris terletak pada:

Minat dan motivasi diri,

Kedisiplinan latihan sehari-hari,

Metode pengajaran yang interaktif dan kontekstual,

Fasilitas pendukung seperti perpustakaan, media digital, kursus,

Peran guru sebagai fasilitator, bukan sekadar pengajar tradisional.

 

Foto – Ilustrasi , salah seorang wisatawan mancanegara bersama Pemimpin Umum Economic Travelling.Com, Olpah Sari, saat mengunjungi salah satu destinasi wisata di Banjarmasin.

Empat keterampilan dasar bahasa—listening, speaking, reading, dan writing harus dilatih secara terintegrasi dan konsisten. Misalnya, listening melalui menonton program bahasa Inggris atau mendengarkan podcast; speaking dengan dialog praktis, reading melalui artikel atau buku; writing melalui latihan menulis catatan harian atau karya sederhana.

Akhirnya, bahasa Inggris harus dipandang bukan sebagai beban, tetapi sebagai jendela dunia. Ketika generasi muda kita mampu menguasainya dengan baik, mereka akan lebih siap beradaptasi, bersaing, dan memberi kontribusi positif di ranah global.

Di era yang semakin terbuka, penguasaan bahasa Inggris bukan sekadar keunggulan, melainkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat identitas dan daya saing Indonesia di panggung dunia.

*Penulis adalah Budayawan & Dosen STIE Pancasetia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!