Geopark Meratus, Merangkai Jejak Purba, Mengukir Masa Depan Pariwisata Banua

1
TARI DAYAK

Atraksi Tarian Dayak "Burung Meratus" yang mendunia, salah satu bagian tak terpisahkan dari atraksi budaya dalam Geopark Meratus.

Oleh: Muhammad Risanta SE, MM

 Beruntunglah Kalimantan Selatan dianugerahi keindahan dan kekayaan alam yang mempesona. Lebih beruntung jika keindahan ini memberikan dampak luar biasa dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan yang digagas berkesinambungan dari masa ke masa.

Pengakuan UNESCO pada tahun 2025 sebagai Geopark Global adalah sebuah tonggak sejarah. Lebih dari sekadar label, pengakuan ini adalah sebuah undangan. Undangan bagi dunia untuk menyingkap selimut hijau Pegunungan Meratus, jantung peradaban geologi yang menyimpan kisah jutaan tahun. Bagi Kalimantan Selatan, momen ini bukan sekadar euforia, melainkan sebuah amanah berat dan peluang emas untuk merangkai jejak purba menjadi masa depan pariwisata yang berkelanjutan, berkeadilan, dan pro-rakyat.

Korelasi dan Harapan: Sebuah Paradigma Baru

Korelasi antara Geopark Meratus dan pariwisata Kalsel di tahun 2025 sangatlah vital. Jika selama ini pariwisata Kalsel identik dengan wisata sungai, pasar terapung, dan budaya khas Banjar, kehadiran Geopark Meratus menawarkan narasi baru yang lebih kaya dan mendalam.

Ini bukan lagi pariwisata massal yang instan, melainkan pariwisata berbasis minat khusus (niche tourism) seperti geowisata, ekowisata, dan wisata petualangan. Target kunjungan wisatawan pun tidak hanya mengejar kuantitas, melainkan kualitas. Karena tertuju kepada mereka yang tertarik pada ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan konservasi.

 

Salah satu destinasi wisata pegunungan bentangan Geopark Meratus, yang kini tak lagi susah sinyal. (Foto-Olpah Sari).

Harapan yang disematkan sangat tinggi. Dengan pengakuan UNESCO, Kalsel diharapkan dapat menarik wisatawan mancanegara yang mencari pengalaman unik dan otentik. Targetnya adalah peningkatan kunjungan wisatawan hingga 20-30% pada tahun pertama setelah pengakuan, dengan mayoritas berasal dari segmen pasar yang berdaya beli tinggi dan memiliki kesadaran lingkungan. Namun, angka-angka ini tidak akan tercapai tanpa sinergi dan kolaborasi yang kuat dari seluruh elemen masyarakat.

Sinergi Tiga Pilar: Pemerintah, Penggiat, dan Media

Kesuksesan Geopark Meratus sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan sangat bergantung pada peran aktif tiga pilar utama, yakni pemerintah, penggiat pariwisata, dan media.

Pemerintah memegang peran sentral dalam merumuskan kebijakan yang pro-rakyat dan berkelanjutan. Ini mencakup pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan, penyediaan fasilitas yang memadai tanpa merusak alam, serta regulasi yang menjamin keamanan dan kenyamanan wisatawan.

Namun, yang paling krusial adalah kebijakan yang memastikan manfaat ekonomi langsung dirasakan oleh masyarakat lokal. Dana desa harus dialokasikan untuk pengembangan homestay, pelatihan pemandu lokal, dan pengelolaan produk kerajinan.

 

Tour Guide Alex membawa wisatawan mancanegara ke Pasar Terapung Lok Baintan, Kabupaten Banjar, yang menjadi salah satu rute dari Geopark Meratus.

Penggiat pariwisata dan masyarakat lokal adalah garda terdepan. Mereka adalah duta-duta sesungguhnya yang menghidupkan Geopark Meratus. Peran mereka mencakup penyediaan paket wisata yang edukatif, konservasi kearifan lokal seperti seni dan kuliner, serta menjadi tuan rumah yang ramah dan tulus.

Mereka harus menjadi pelaku, bukan hanya penonton, dalam kemajuan pariwisata. Konsep pariwisata pro-rakyat berarti mereka yang berada di lokasi menjadi pemilik dan pengelola, bukan hanya pekerja.

Media, terutama media transmedia, memiliki peran krusial sebagai jembatan informasi. Tugas media bukan hanya melaporkan, melainkan menciptakan narasi. Melalui jurnalistik feature yang mendalam, media harus mengangkat kisah-kisah inspiratif dari warga lokal, keunikan geologi Meratus, dan potensi yang dimilikinya.

Media analitik harus memberikan konteks, mengukur dampak, dan mengawasi implementasi kebijakan, memastikan tidak ada penyimpangan dari prinsip keberlanjutan dan keadilan.

 

Salah satu situs Geopark Meratus, berada di Loksado, Kandangan. Foto saat kunjungan Jurnalis Rusia, Belanda dan Jerman ke Loksasdo beberapa saat lalu.

Merawat Sejarah, Memetik Manfaat

Geopark Meratus menyimpan sejarah purba, cerita tentang lempeng-lempeng bumi yang bertabrakan, dan fosil-fosil yang menjadi saksi bisu evolusi. Mengembangkan pariwisata di sini berarti merawat sejarah itu, bukan mengeksploitasinya. Ini adalah kesempatan bagi kita semua untuk belajar dari masa lalu demi membangun masa depan.

Pengakuan UNESCO adalah awal yang baik. Namun, perjalanan masih panjang. Keberhasilan Geopark Meratus di tahun 2025 tidak akan diukur hanya dari jumlah kunjungan, melainkan seberapa besar kontribusinya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melestarikan budaya, dan menjaga keindahan alamnya.

Jika kita berhasil, Geopark Meratus tidak hanya menjadi destinasi global, tetapi juga simbol peradaban baru yang seimbang antara kemajuan ekonomi dan kelestarian lingkungan.Banggalah kita dengan Geopark Meratus dan Pariwisata berkelanjutan di Banua.

Penulis adalah , Akademisi dan Jurnalis Transmedia Grup (CNN Indonesia – Trans7)

 

 

1 thought on “Geopark Meratus, Merangkai Jejak Purba, Mengukir Masa Depan Pariwisata Banua”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!