Dari Kolong Jembatan Batola ke Harapan Baru
Bupati Barito Kuala H Bahrul Ilmi bertemu pria menggelandang dan bekerja serabutan mencari sampah di bawah salah satu jembatan di Handil Bakti. (Foto - Caption IG Bahrul Ilmi).
Kisah Humanis Bupati Batola Rangkul Pria Pekerja Serabutan
Sabtu siang, (20/9/2025), suasana di kawasan Handil Bakti, Barito Kuala (Batola), tampak biasa saja. Namun di balik lalu lalang kendaraan, ada pemandangan yang menyentuh hati. Seorang pria muda tampak sibuk mengais sampah, memulung sisa barang bekas yang bisa dijual.
Hari-harinya dihabiskan dengan “bahayau”—menerobos sungai kecil di bawah jembatan—demi mencari barang rongsokan. Semua itu dia lakukan untuk satu tujuan sederhana: membeli makan agar bisa bertahan hidup.
Pria asal Banjarmasin ini memilih menggelandang di Batola. Malam hari, emper-emper toko menjadi tempat tidurnya. Tanpa pekerjaan tetap, tanpa keluarga yang mendampingi, ia menjalani hari dengan penuh ketidakpastian.
Pertemuan Tak Terduga
Takdir mempertemukannya dengan Bupati Barito Kuala, H. Bahrul Ilmi, yang kebetulan melintas di kawasan itu bersama sejumlah petugas Pol PP dan ASN lainnya dalam acara bersih-bersih kawasan Handil Bakti. Melihat langsung perjuangan pria muda ini, hati sang bupati tergerak. Bahrul Ilmi mendekatinya, mengajak berbincang, dan mendengar kisah hidup yang penuh getir.
Alih-alih membiarkan, Bupati Bahrul Ilmi justru mengambil langkah berbeda. Ia mengajak pria tersebut untuk bekerja di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Tabing Rimbah, Mandastana.
“Tidak boleh ada yang kehilangan harapan di Batola. Semua orang berhak hidup layak, berhak untuk dimanusiakan,” ujar Bahrul Ilmi terharu.

Dari Pinggiran Menuju Kesempatan
Bagi pria muda ini, tawaran sederhana itu ibarat cahaya baru di tengah gelapnya kehidupan. Dari kolong jembatan, kini terbuka peluang untuk berdiri lebih tegak—bekerja dengan penghasilan pasti, sekaligus memiliki masa depan yang lebih jelas.
Langkah kecil Bupati Bahrul Ilmi ini memberi pesan besar: pemerintah bukan hanya hadir untuk membangun infrastruktur, tetapi juga untuk merangkul mereka yang kerap terpinggirkan.
Cerita ini bukan hanya soal seorang pemulung yang kini mendapat pekerjaan, tapi tentang kepedulian seorang pemimpin. Tentang keberanian untuk menatap mata orang-orang pinggiran dan mengulurkan tangan tanpa sekat.
Di tengah hiruk pikuk pembangunan, Bahrul Ilmi menegaskan bahwa memanusiakan manusia adalah bentuk pembangunan yang paling luhur. Sebab, pada akhirnya, apa arti pembangunan jika masih ada warga yang tidur di emper toko dan mengais sisa untuk hidup?
Inspirasi dari Batola
Kisah ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar kadang berawal dari satu langkah kecil: keberanian untuk peduli. Dari bawah jembatan Handil Bakti, lahirlah harapan baru.
Dan di sanalah, makna kepemimpinan sejati terlihat—saat seorang bupati tidak hanya memimpin dengan kebijakan, tetapi juga dengan hati.(Olpah Sari).

