Pamor Borneo Mengukir Kisah Kalimantan Emas
Kepala Perwakilan BI Kalsel, Fadjar Majardi bersama Sekdaprov Kalsel HM Syarifuddin dan Ketua DPRD Kalsel H Supian HK di sela-sela kegiatan Pamor Borneo 2025. (Foto-Dok Humas Bank Indonesia).
Dari Hilirisasi Hingga UMKM, Mempercepat Pertumbuhan Menuju Episentrum Ekonomi Dunia
Sebuah era baru bagi Kalimantan telah dimulai. Perhelatan Pamor Borneo 2025 resmi dibuka di Banjarmasin, menjadi puncak perayaan HUT Provinsi Kalimantan Selatan ke-75. Lebih dari sekadar ajang seremonial, acara kolaborasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan ini menjadi platform strategis untuk meneguhkan posisi Kalimantan sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.
Mengusung tema “The New Kalimantan: Accelerating Growth through Investment, Trade, and Tourism”, Pamor Borneo merangkul tiga pilar utama, perdagangan yang berdaya saing, investasi bernilai tambah tinggi, dan pariwisata yang berkelanjutan. Tiga pilar ini bukan lagi sekadar wacana, melainkan telah membuahkan hasil nyata bahkan sebelum acara utama dibuka.
Dari pilar perdagangan, penguatan UMKM telah menghasilkan kesepakatan ekspor senilai Rp8,1 miliar dengan perusahaan Singapura dan Letter of Intent (LoI) senilai Rp6,3 miliar dengan perusahaan Thailand.
Senada dengan itu, pilar investasi juga berhasil mengamankan LoI senilai Rp152 miliar dalam ajang World Expo Osaka 2025, serta komitmen investasi Rp12,57 miliar dari perusahaan Singapura untuk proyek pengolahan limbah medis.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa Kalimantan memiliki modal besar untuk menjadi pusat pertumbuhan global. Dia menekankan pentingnya momentum Pamor Borneo untuk mewujudkan transformasi tersebut.
“Dengan potensi energi terbarukan, perdagangan lintas batas, serta keindahan budaya dan alam, Kalimantan siap bersaing di kancah dunia,” ujarnya.

Sejalan dengan hal itu, Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin, menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, forum ini adalah wadah penting untuk memperkenalkan pesona Kalimantan Selatan ke dunia dan membuktikan kesiapan daerah dalam bersaing.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Kalsel, Fadjar Majardi, menyebut Pamor Borneo sebagai sebuah ekosistem nyata yang dapat memperluas akses pasar UMKM, mendorong investasi, serta mengangkat citra budaya Kalimantan di kancah internasional.
Selama empat hari, Pamor Borneo 2025 akan menghadirkan serangkaian kegiatan, mulai dari business matching, showcasing UMKM unggulan, hingga berbagai workshop kreatif yang mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif
Tak hanya itu, forum Borneo Business and Investment Forum (BBIF) 2025 juga digelar untuk membahas upaya hilirisasi sumber daya alam dan mengatasi berbagai tantangan investasi. Rangkaian acara ini semakin diperkaya dengan kunjungan ke Geopark Meratus, yang kini berstatus UNESCO Global Geoparks.
Berbagai capaian pra-event ini menjadi fondasi kokoh sekaligus sinyal optimisme bahwa Pamor Borneo akan menjadi katalis yang mempercepat akselerasi perdagangan, investasi, dan pariwisata Banua di kancah global. Kolaborasi erat antara pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan dapat mewujudkan harapan Kalimantan menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi Indonesia dan mencapai Asta Cita.(Muhammad Irfani).

