Senyapnya Pelosok, Lahir Kisah Ekonomi Baru
Salah satu destinasi wisata pegunungan bentangan Geopark Meratus, yang kini tak lagi susah sinyal. (Foto-Olpah Sari).
Indosat Bukan Sekedar Sinyal Pemerataan Ekonomi
Langit Kotabaru masih mendung, ketika anomali cuaca masih membekap kawasan perbukitan yang mengelilingi kawasan Sarang Tiung, sebuah pemukiman di sisi lain Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Di antara dua lembah terlihat pasangan suami istri, Baharuddin (60) dan Hasnawati (52) membopong bambu berisikan air nira yang baru diambil dari kebun tak jauh dari rumahnya.Keduanya pun bergegas memulai pekerjaan rutinnya sebagai pengrajin gula aren, di tengah udara dingin yang mulai menyentuh kulit.
Tiba-tiba Baharuddin mendengar handphonenya berdering dan langsung mengangkatnya. Dari kejauhan terdengar suara pria bernama Eko, meminta dirinya menyiapkan puluhan paket gula aren.
Baik Baharuddin maupun sang istri langsung bersyukur menadahkan tangan sembari mengusap ke wajah mereka.Bayangan mendapatkan uang terpancar dari kabar yang mereka terima, dari Eko yang belakangan menjadi langganan tetap mereka.
“Alhamdulilah, hari ini gula aren olahan kami ada memesan untuk oleh-oleh buat tamu yang berkunjung ke salah satu perusahaan,” tuturnya sembari membantu sang istri memasak nira untuk dibuat menjadi gula aren.

Warga Desa Sarang Tiung ini mengaku bersyukur, karena tak mesti menjajakan lagi gula arennya keliling kampung dan menitipkan ke warung tetangga maupun kenalannya di kota. Karena sekarang Baharuddin bisa memasarkan langsung hasil olahan gula aren yang masih tradisional secara online.
“Kami bersyukur sinyal jaringan ada sehingga tak mesti bersusah-susah lagi memasarkan gula aren.Produk olahan kami yang menjaga keaslian hasil alam Alhamdulillah mulai dikenal orang,Itu semua karena sekarang kemudahan berkomunikasi lewat handphone dan jaringan yang sangat baik,” ucapnya sambil meniup-niup bara di tungku perapian.
Tak hanya di Kotabaru, nun jauh di sana di kawasan pegunungan Meratus, Camang seorang tokoh muda asal Kandangan terlihat mengarahkan beberapa pemuda yang tengah membawa wisatawan. Dia terlihat juga menghubungi seseorang di ujung kejauhan, untuk menyiapkan bambu-bambu yang akan membawa wisatawan menyusuri Sungai Amandit yang mengalir deras dari pegunungan di kawasan Loksado, Hulu Sungai Selatan.
Camang sendiri adalah salah satu tokoh muda perintis kepariwisataan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk memajukan destinasi wisata Loksado yang terkenal dengan pemandangan alam dan Bamboe Rafting.
“Dulunya disini susah sinyal, kami benar-benar sulit berkomunikasi.Antar kampung satu dengan lainnya pun blank spot sekali.Demikian pula dengan saat membawa tamu wisatawan mesti ke daerah tinggi baru ada sinyal. Namun sekarang jaringan oke disini, salah satunya dari Indosat,” jelas pria yang juga Tour Guide sekaligus Instruktur Kepariwisataan nasional.

Camang pun bersama warga tak mesti pusing lagi berkomunikasi. Karena berada di kawasan terpencil, tapi tak merasa jauh dengan daerah lainnya. Mereka merasa dekat dan nyaman, karena bisa beraktivitas dan memasarkan usaha berkat adanya sinyal kuat,sinyal Indosat.
Sebuah sinyal yang kini menjadi suara, menjadi jalur, dan menjadi kunci untuk membuka pintu dunia yang selama ini terkunci.Kini sebagian warga tak mesti terhenti usahanya di ujung desa, ketika susah sinyal.
Kisah Pasutri Baharuddin dan Hasnawati serta Camang hanyalah satu dari ribuan cerita yang lahir di kawasan jauh.Terlebih Kalimantan Selatan dikenal sebagai provinsi yang memiliki luas dan sebagian besar wilayah sempat blank spot. Kini takdir pun terangkai dalam sebuah transformasi senyap tanpa batas, sinyal membuka lembaran baru ekonomi.
Data dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kalsel pada Juli 2024 menunjukkan bahwa masih ada sekitar 300 desa di Kalsel yang berada dalam kondisi blank spot (tanpa jaringan internet).
Indosat sendiri menyatakan telah mengalokasikan dana untuk mengatasi masalah ini. Proyek Universal Service Obligation (USO), Indosat menjadi salah satu operator yang berpartisipasi dalam proyek USO yang dijalankan oleh pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) untuk membangun BTS di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), termasuk di Kalimantan.
Sejatinya tidak hanya membangun menara BTS, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) merangkai kembali takdir, mengganti kesunyian dengan getaran semangat, dan mengubah isolasi menjadi kolaborasi. Sinyal yang kini mengalir di pelosok adalah bukti nyata bahwa pemerataan ekonomi digital bukan hanya wacana, melainkan sebuah aksi nyata yang mengantarkan mimpi-mimpi di ujung negeri menjadi kenyataan.
Dalam berbagai kesempatan EVP Head Of Circle Kalisumapa Indosat Ooredoo Hutchison, Swandi Tjia, mengungkapkan dukungan jaringan komunikasi yang diberikan Indosat sangat penting bagi daerah terpencil karena berperan sebagai katalisator untuk mengatasi ketimpangan dan mempercepat pembangunan di berbagai sektor.
“Persoalan di Indonesia itu, tanpa konektivitas, daerah terpencil akan semakin tertinggal dalam persaingan global dan nasional.Kontribusi Indosat adalah bagaimana bisa memeratakan ekonomi baru, termasuk ekonomi digital,” ujarnya.
Lebih jauh dia pun menyebutkan jaringan komunikasi adalah fondasi bagi ekonomi digital. Bagi daerah terpencil, akses internet membuka peluang ekonomi yang sebelumnya tidak terbayangkan.Karena UMKM maupun usaha lainnya pun berkembang tumbuh, dengan pemasaran yang efektif dilakukan secara daring ke pelosok Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan.
“Bagi kami adalah bagaimana kehadiran Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) memutus kesenjangkan pendidikan dan menunjang kualitas pendidikan, dengan memastikan anak-anak di daerah terpencil memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing di era digital,” tambahnya.
Hal terpenting lainnya adalah kehadiran jaringan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) diharapkan pula mendorong peningkatan akses layanan kesehatan. Dengan komunikasi memungkinkan praktik telemedicine, di mana pasien di daerah terpencil dapat berkonsultasi dengan dokter dari jarak jauh. Ini sangat vital di wilayah yang sulit dijangkau dan memiliki keterbatasan fasilitas medis, sehingga dapat menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Sementara sebagai wujud komitmen Indosat dalam memperluas akses konektivitas rumah yang lebih inklusif, fleksibel, dan terjangkau mereka meluncurkan HiFi Air. Program merupakan pengembangan dari layanan HiFi berbasis fiber optik yang kini diperluas melalui teknologi seluler. Salah satu tujuannya agar semakin banyak keluarga di Indonesia, termasuk di wilayah terpencil dapat menikmati internet cepat tanpa hambatan geografis.
Indosat HiFi Air sendiri adalah layanan internet rumah nirkabel (tanpa kabel) yang menggunakan teknologi Fixed Wireless Access (FWA). Layanan ini memungkinkan pengguna untuk terhubung ke internet dengan cepat dan mudah, tanpa perlu instalasi kabel fisik.
Indosat HiFi Air menawarkan berbagai pilihan paket internet dengan kuota yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, serta modem WiFi yang dapat dibeli di gerai Indosat.
Dengan menghadirkan internet berkualitas di daerah yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses, Indosat HiFi Air berperan dalam mengurangi kesenjangan digital di Indonesia. Pelosok Indonesia tak senyap lagi, Terima kasih Indosat (Olpah Sari).

