Bukan Sekadar Beras, Diversifikasi Pangan Yess Melawan Inflasi
Foto Ilustrasi - Budidaya Padi Apung salah satu inovasi pilihan mengatasi tantangan iklim dan banjir.(Foto-Humas Bank Kalsel).
Tahukah kita ternyata di saat cadangan beras pemerintah tengah melimpah, harga beras justru melonjak tajam dan memicu tekanan inflasi.Fenomena tak biasa ini menjadi potret buram yang harus dibersihkan pemerintah Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan.
Dalam laporan Seri Analisis Makroekonomi edisi Juli 2025, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), yang dilansir Kabar Baik.Co, terungkap kenaikan harga beras ini dipicu oleh tingginya serapan oleh Perum Bulog untuk mengisi cadangan beras pemerintah, di saat yang sama pasokan gabah mulai menipis usai panen raya April–Mei.
Efek permintaan tinggi dari pemerintah untuk menyerap beras dalam jumlah besar inilah yang kemudian mengganggu keseimbangan pasokan dan harga di pasar.
“Kenaikan ini bisa dijelaskan oleh kombinasi tingginya permintaan, terutama dari Bulog, untuk menambah cadangan beras di gudang serta kenaikan harga gabah setelah berakhirnya panen raya,” tulis tim peneliti LPEM FEB UI dalam laporan yang dirilis Jumat (11/07/2025).
Merujuk data Inflasi bulan Juni 2025, LPEM FEB UI juga menyebutkan adanya tekanan yang meningkat. Inflasi umum tahunan (year-on-year) naik ke 1,87 % dari 1,60 % pada Mei. Secara bulanan, inflasi mencapai 0,19 % setelah sebelumnya mencatatkan deflasi 0,37 %.
Komponen harga bergejolak menjadi pendorong utama, dengan inflasi bulanan melonjak ke 0,77 % dan memberikan andil 0,13% terhadap inflasi umum. Laporan LPEM menyebut bahwa kenaikan harga beras, cabai rawit, bawang merah, dan tomat terjadi akibat faktor cuaca, tertundanya musim panen, peningkatan permintaan, serta gangguan distribusi.

Dikutip dari CNBC.Com, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi sulitnya untuk menurunkan harga beras naik di tengah pasokan beras di dalam negeri yang melimpah. Hal ini disampaikannya dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi IV DPR RI, Kamis (17/07/2025).Dia juga mengaku Bapanas tidak leluasa untuk melakukan stabilisasi banyak pangan karena keterbatasan anggaran. Karena itu dia meminta tambahan anggaran untuk menstabilkan beberapa pangan di masyarakat yang sudah meninggi.
Kendati demikian pemerintah mengeluarkan instruksi pelaksanaan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) selama enam bulan, mulai Juli hingga Desember 2025.
SPHP bukan hanya bertujuan menggerakkan stok beras Bulog, melainkan juga menjadi alat stabilisasi harga di wilayah-wilayah yang tidak mengalami panen. Ia menegaskan bahwa cadangan beras pemerintah (CBP) digunakan untuk bantuan pangan hingga intervensi harga, termasuk jika terjadi bencana.
Bagaimana dengan Kalimantan Selatan ?. Provinsi yang menjadi sentra penyangga ketahanan pangan nasional ikut “tergerus inflasi” karena kenaikan harga beras. Hal ini selaras dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Selatan, yang menjelaskan kenaikan harga beras mendominasi sebagai penyumbang inflasi di Bumi Lambung Mangkurat ini. Beras menjadi pendorong inflasi terbesar dari 5 komoditi lainnya terutama di kota Tanjung dan Kotabaru.
Fakta di lapangan jua membuktikan ternyata harga beras di Kalsel memiliki dampak signifikan terhadap inflasi. Pemicu utamanya lagi-lagi adalah kenaikan harga. Ketergantungan masyarakat Kalsel pada beras lokal membuat fluktuasi harganya sangat terasa dan langsung memengaruhi daya beli.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, kenaikan harga beras konsisten menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi terbesar.Tengok saja tahun 2023 beras salah satu komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi di Kalsel.

Kenaikan harga ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk gagal panen di beberapa daerah penghasil beras lokal dan kenaikan harga bahan bakar. Pada Agustus 2023, inflasi beras tercatat tinggi, mencapai 21,7% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Catatan lainnya adalah meskipun Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah Provinsi Kalsel berupaya mengendalikan inflasi, tahun 2024 beras tetap menjadi perhatian utama.
Hal ini karena beras menjadi komponen terbesar dalam konsumsi rumah tangga, sehingga pergerakan harganya sangat berpengaruh terhadap inflasi secara keseluruhan.
Demikian pula awal tahun 2025, harga beras kembali mengalami kenaikan. Meskipun demikian, pada Juli 2025, beras justru tercatat sebagai salah satu komoditas yang memberikan andil deflasi (penurunan harga) secara yoy. Hal ini menunjukkan dinamika harga yang sangat bergantung pada pasokan dan musim panen, yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Masyarakat Kalsel sendiri sangat terbiasa mengonsumsi beras lokal, dan hanya sebagian kecil yang mengonsumsi beras unggul (beras jawa). Ketergantungan pada beras lokal ini membuat harga beras sangat sensitif terhadap kondisi panen di daerah produsen utama, seperti Kabupaten Banjar dan Batola.
“Pemerintah Provinsi Kalsel dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus berkoordinasi untuk mengatasi masalah ini dengan berbagai cara, mengadakan intervensi pasar dan operasi pasar.Kemudian menguatkan sarana dan prasarana pertanian. Dan terpenting adalah memperkuat rantai pasok dan distribusi beras,” terang Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Fadjar Majardi, dalam berbagai kesempatan di Banjarmasin.

Fadjar Majardi,menekan memperkuat rantai pasok dan distribusi beras, adalah sebuah sebuah upaya yang bertujuan untuk menjaga ketersediaan beras dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat sekaligus memberikan manfaat bagi petani.
Lalu apakah Kalsel larut dengan situasi ini ?.Bukan pekerjaaan gampang namun setidaknya solusi terbarukan muncul dalam sinersitas. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama Bank Indonesia serta stakeholder terkait mulai intensif melakukan strategi diversifikasi pangan untuk menekan inflasi sejak awal tahun 2023.
Pengamat Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat, Prof. Dr. H. Ahmad Yunani, SE., M.Si, mengungkapkan upaya ini merupakan respons terhadap kenaikan harga beras yang terus bergejolak, yang menjadi salah satu pemicu utama inflasi.
“Keragaman pangan kalsel bisa memberikan banyak pilihan sehingga ada alternatif bagi konsumen, tidak terjadi kelangkaan satu pangan kebutuhan masyarakat sehingga tidak terlalu mengganggu harga pangan sampai inflasi,” ujar pria yang sehari-hari adalah Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
Ahmad Yunani menilai pendekatan strategi Diversifikasi Pangan sangat efektif, terutama untuk mengendalikan harga bahan pangan yang seringkali menjadi pemicu utama inflasi.

Hal ini sejalan pula dengan pernyataan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Fadjar Majardi, yang menekankan diversifikasi pangan merupakan strategi kunci yang sangat efektif untuk mengendalikan inflasi, terutama inflasi yang bersumber dari sektor pangan.
Pentingnya pengendalian dari Hulu ke Hilir ini semakin menegaskan bahwa pengendalian inflasi harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari hulu (produksi) hingga hilir (distribusi). Strategi diversifikasi pangan adalah bagian dari upaya di sisi hulu untuk memastikan ketersediaan pasokan.
Disii lain adalah bagaimana Kalsel bisa mengurangi Ketergantungan dan Volatilitas Harga. Diversifikasi pangan dianggap berhasil mengurangi ketergantungan Kalsel pada pasokan dari luar daerah. Ini sangat penting karena pasokan dari luar rentan terhadap biaya transportasi dan faktor cuaca, yang dapat menyebabkan harga berfluktuasi tajam.
“Bank Indonesia aktif bekerja sama dengan pemerintah daerah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk membangun klaster-klaster pertanian. Klaster ini berfokus pada produksi komoditas pangan yang sering menjadi pemicu inflasi, seperti cabai, bawang merah, kopi dan beberapa jenis sayuran,” kata Fadjar Majardi kepada awak media di Banjarbaru, awal Juli 2025.
Bank Indonesia sendiri juga mendorong pemanfaatan teknologi seperti budidaya ikan gabus dan penggunaan bibit unggul padi serta pupuk batubara untuk tanaman cabai juga menjadi bagian dari upaya ini, termasuk budidaya padi apung. Tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas dan hasil panen lokal.
Sekedar diketahui Diversifikasi pangan adalah upaya untuk menganekaragamkan jenis makanan pokok yang dikonsumsi masyarakat, sehingga tidak hanya bergantung pada satu jenis komoditas saja, seperti beras. Strategi ini bukan hanya tentang menyediakan lebih banyak pilihan, tetapi juga tentang memperkuat ketahanan pangan lokal.
Sementara itu Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kalsel Ir Syamsir Rahman memastikan diversifikasi pangan menjadi solusi ampuh untuk mengendalikan inflasi di Kalsel.Pertama karena mengurangi ketergantungan kepada satu komoditas tertentu saja.Kedua dia menekankan pentingnya ketahanan pangan lokal.
“Diversifikasi pangan mendorong produksi dan konsumsi hasil pertanian lokal. Ini berarti Kalsel tidak terlalu bergantung pada pasokan pangan dari daerah lain, yang sering kali dipengaruhi oleh biaya transportasi yang tinggi dan faktor eksternal lainnya. Dengan memperkuat produksi lokal, pasokan menjadi lebih stabil dan harganya lebih mudah dikendalikan,” tegas Syamsir Rahman.

Terakhir Syamsir Rahman pun menyebutkan mengapa saat ini pemerintah daerah terus mendorong masyarakat untuk mengonsumsi alternatif lain atau menanam komoditas tersebut di pekarangan sendiri.Hal ini semata-mata ingin menekan volatilitas harga yang disebabkan oleh pasokan yang tidak stabil.
Kalsel pun juga tengah memberikan “asupan energi” dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sektor pertanian. Strategi ini mendukung petani lokal untuk memproduksi beragam jenis komoditas. Hal ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan di sektor pertanian daerah.
Diversifikasi pangan di Kalsel adalah strategi jangka panjang yang bertujuan untuk mengubah pola konsumsi masyarakat, meningkatkan produksi pangan lokal, dan pada akhirnya, menciptakan stabilitas harga yang berkelanjutan agar inflasi tetap terkendali.
Terbukti strategi diversikasi pangan berhasil dikembangkan sebagai sisi lain keberhasilan Kalsel melalui kolaborasi dan sinergisitas yang kuat lepas dari bekapan inflasi, salah satunya dari komoditas beras.
Tercatat sejumlah petani berhasil mengembangkan diversifikasi pangan, yang membuktikan sekarang tidak lagi bergantung kepada padi sebagai komoditas utama. Inovasi ini menjadi pembuktian bahwa sektor pertanian di Banua memiliki potensi besar untuk lebih tangguh.
Dimulai dari Inovasi Kopi di Lahan Rawa yang dikembangkan. Petani di Desa Hiyung, Kabupaten Tapin, berhasil membudidayakan kopi robusta di lahan rawa. Keberhasilan ini sangat penting karena membuktikan bahwa lahan yang sebelumnya dianggap kurang produktif bisa dimanfaatkan untuk komoditas bernilai tinggi.
Selanjutnya di Kabupaten Tanah Laut, petani milenial sukses mengembangkan jagung unggul lokal varietas JH-37 Katuju. Panen yang melimpah membuktikan bahwa varietas lokal tidak kalah saing dengan varietas lainnya.
Upaya lainnya adalah budidaya padi apung. Sebuah inovasi yang dikembangkan di Hulu Sungai Selatan untuk mengatasi tantangan iklim dan banjir.Demikian pula dengan Desa Hatungun, Kabupaten Tapin yang mantap mengembangkan jahe merah sebagai produk unggulan masa depan Kalsel.
Terakhir Dinas Pertanian Kabupaten Banjar gencar memacu produksi bawang merah untuk menekan inflasi.
Keberhasilan menunjukkan bahwa dengan inovasi, dukungan pemerintah, dan pemanfaatan potensi lokal, Kalsel memiliki peluang besar untuk mewujudkan kemandirian pangan dan menjaga stabilitas ekonomi daerah.Diversifikasi Pangan Yess !.(Olpah Sari).
