Gowes Populer Banget, Ada Yang Tahu Artinya
Salah satu wisatawan bersepeda di depan Siring Menara Pandang, yang menjadi ikon wisata kota Banjarmasin.
Belakangan ini diksi Gowes begitu populer dan menjadi trend bersepeda di kalangan masyarakat luas. Hampir setiap hari, akhir pekan kegiatan gowes menjadi menu orang-orang berolahraga murah meriah lewat kayuhan sepeda.
Tua muda, laki perempuan sangat menyukai kegiatan yang bisa dilakukan pagi hingga sore.Baik di trek datar (jalan raya) hingga kawasan terjal bukit berbatu maupun menjelajah hutan dan pegunungan. So Pasti bersepeda menjadi menu keseharian dilakukan dimana dan kapan saja, termasuk komunitas sepeda mana saja.
Gowes sendiri adalah penyebutan lain dari sebuah kegiatan bersepeda. Bahasa Banjarnya adalah “Batinjak”. Penyebutan gowes lebih sering digunakan orang, karena dinilai lebih simple dan pengucapannya lebih mudah.
Konon dari berbagai literatur Gowes sendiri berasal dari singkatan bahasa Jawa “Genjot West” yang artinya adalah Ayo Dikayuh. Namun ada pula cerita bahwa Gowes itu adalah bahasa gaul dan dulunya merupakan plesetan dari kata “yowes” yang diucapkan oleh Indra Bekti dan Indie Bares dalam program acara ceriwis di Trans TV.

“Gowes itu disebut-sebut sebagai akronim dalam dialek bahasa lokal Yogyakarta yaitu genjot ora genjot wis teles, sementara dalam kamus bahasa Indonesia gowes diartikan bersepeda, dan menggowes. Namun diksi ini justru populer dengan sebutan yang simple dan diakuri semua penggiat olahraga bersepeda,” sebut penggiat sepeda, Syahriyanto Ruslan.
Syahri yang merupakan Jurnalis Radio Elshinta ini, menyebutkan Gowes sendiri adalah diksi dari bahasa Jawa yang artinya Ontel. Dia pun mengutip tulisan menarik dari penulis Puji Rahayu dalam bukunya Romantisme Kereta Angin (Sepeda Onthel) yang dilansir https://new.widyamataram.ac.id/, disebutkan di Yogyakarta Tahun 1970an menjelaskan diksi itu semula untuk menyebut semua benda yang bergerak memutar.Sejalan dengan hadirnya sepeda.

“Istilah itu adalah dideskripsikan atau menggambarkan perangkat transportasi tidak bermesin yang digerakkan oleh tenaga manusia dengan cara mengayuh,” terang pria yang dikenal juga sebagai traveler wisata kuliner.
Perjalanan Gowes sendiri secara tak langsung juga mengangkat pamor tradisi bersepeda di kalangan masyarakat Yogyakarta, yang berbarengan dengan kemunculan komunitas-komunitas sepeda onthel. Uniknya komunitas selalu melengkapi diri dengan atribut pakaian serta menunggang sepeda kuno Eropa, mulai Simplex, Gazelle hingga Raleigh.
“Trend bersepeda memang memang memberikan dampak positif bagi kesehatan dan pariwisata serta membuka peluang usaha. Karena sebagian diantara Goweser mengembangkan usaha, mulai berbisnis sparepart dan asesoris hingga membuka outlet sepeda,” ujar Suriadi, Goweser asal Bank kalsel Cycling Club (BKCC).

Suriadi yang merupakan Kepala Cabang Utama Bank Kalsel, menuturkan bersepeda ditinjau dari kesehatan, memberikan manfaat , seperti membantu menurunkan kadar kolesterol, sehingga risiko terkena penyakit jantung berkurang.Tak hanya itu Bersepeda dapat membantu mengontrol berat badan dan meningkatkan metabolisme serta meningkatkan kekuatan otot.Sebab bersepeda menggunakan semua kelompok otot utama, seperti otot paha, betis, bokong, perut, lengan, dan bahu.
“Sedangkan kalau di tinjau dari sektor pariwisata, bersepeda itu salah satu aktivitas wisata yang dapat dinikmati di berbagai daerah di Indonesia. Bersepeda merupakan bagian dari sport tourism, yaitu kegiatan olahraga di alam terbuka yang juga berfungsi untuk mempromosikan wisata,” ujar pria yang suka traveling dan sport tourism.
Suriadi juga memberikan contoh daerah-daerah yang telah mengembangkan wisata bersepeda. Sebut saja Nusa Tenggar Timur (NTT) yang memilki Golo Loni, dengan jalur sepeda di sepanjang areal persawahan dan agrowisata. Selain itu ada kawasan Danau Singkarak, Sumatera Barat yang terkenal dengan Tour de Singkarak (Kompetisi balap sepeda yang diadakan di sekitar Danau Singkarak).

Gowes wisata yang terkenal lainnya berada di kawasan Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dengan jalur bersepeda di Area Sembalun yang sedikit menanjak dan berbahan dasar batu krikil, memberikan sensasi seru tersendiri bagi Goweser.
“Nah Kalsel ada Tour De Meratus, tentu memberikan dampak bagus bagi pariwisatanya. Yang tentunya selaras dengan tagline Kalsel menjemput dunia, yang bersamaan pula dengan keberadaan Geopark Meratus,” tambahnya lagi.
Gowes sendiri menghilhami sejumlah pesepeda menggelilingi Indonesia dan dunia.Bahkan seorang Goweser asal Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Abdul Razakdemi kecintaan kepada ulama, rela mengayuh sepeda onthel untuk mengikuti Haul Guru Sekumpul di Kalsel, awal Januari 2025 barusan. Bahkan perjalanan religi bersepeda ini dilanjutkan hingga ke Samarinda,Kaltim. (Muhammad Irfani).

