Garut Sentra Kerajinan Kulit Dunia “Piazza Firenze”
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengapreasi produk kulit Garut yang dipadukan dengan fesyen dan mampu mencuri perhatian dunia. (Foto-Biro Komunikasi Kemenpar).
Tak hanya terkenal dengan dodolnya, ternyata Garut juga memiliki potensi besar lainnya yang bisa mendongkrak pariwisata. Salah satunya adalah reputasi Garut sebagai pusat kerajinan kulit di dunia.
Garut merupakan salah satu daerah penghasil kerajinan kulit di Jawa Barat. Konon kerajinan yang satu ini lebih dikenal bila dibandingkan dengan nama Garut-nya sendiri. Di daerah ini beragam hasil olahan dari kulit mulai dari jaket, tas, sepatu, sabuk, topi, dompet hingga hiasan sekalipun ada disini. tersedia di Garut.
Garut juga memiliki daerah khusus, yang terdapat terdapat banyak para pengrajin kulit, yang dikenal dengan Sukaregang. Sukaregang adalah desa yang berada di Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Menyebut nama Sukaregang, orang akan tahu kalau daerah ini menjadi tempat penyamakan kulit sejak tahun 1930-an.Awalnya tempat penyemakan kulit ini cukup sederhana, namun seiring zaman industrinya tak lagi manual. Akan tetapi hingga saat ini terdapat sejumlah pengrajin kulit yang masih bertahan dengan cara tradisional dalam mengolah kulit.
Tahukah kita, ternyata penggunaan kulit di daerah tidak terlepas dengan kondisi geografi Garut yang sebagian besar wilayahnya terletak di dataran tinggi sehingga Garut memiliki suhu yang dingin. Untuk menjaga panas tubuh dan tetap menghangatkan tubuh maka dibutuhkan sebuah pakaian yang bisa menjaga hangat tubuh.

Satu yang membanggakan ternyata industri kulit Garut berada di circle ajang fashion level nasional yakni Fashion Week. Tak hanya produk kulit ini juga merambah ke luar negeri dan mengisi pameran industri kulit yang bergensi di benua Eropa, Lineapelle Leather Fair di Milan Italia.
Kerajinan kulit ini pun diapresiasi Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.Menpar Widiyanti Wardhana berharap sentra kerajinan kulit Piazza Firenze bisa menjadi daya tarik pariwisata dan mendongkrak kunjungan wisatawan di Garut, Jawa Barat.
Hal ini dikemukakan Menpar Widiyanti saat menghadiri “Opening Ceremony Piazza Firenza”, di Gedung Piazza Firenza Garut, Rabu (15/01/2025). Dia pun mengapresiasi kolaborasi yang dilakukan Pendiri Yayasan Poppy Dharsono, Koperasi dan Pemda Garut melalui Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Garut, dalam memperkuat reputasi Garut sebagai pusat kerajinan kulit di dunia.
“Kabupaten Garut telah lama menjadi satu pilihan pariwisata favorit di Indonesia dan terus menunjukkan perkembangan yang positif. Hal ini tercermin dari jumlah wisatawan yang datang dan mengeksplorasi ke Kabupaten Garut ini,” kata Menpar Widiyanti.

Widiyanti menjelaskan, hingga November 2024 jumlah wisatawan nusantara yang tercatat datang ke Jawa Barat mencapai 150 juta kunjungan, dan dari jumlah tersebut Kabupaten Garut menyumbang 3,3 juta kunjungan wisatawan. Angka tersebut menggambarkan potensi perkembangan ekonomi yang besar.
Sentra Kerajinan Kulit Piazza Firenze menurut Menpar Widiyanti tidak hanya dirancang sebagai ruang publik modern, namun juga sebagai destinasi wisata baru untuk memperkuat promosi dan mengembangkan potensi produk kulit Garut khas Sukaregang yang sudah dikenal luas hingga mancanegera.
“Saya berharap Piazza Firenze tidak hanya menjadi tempat di mana tradisi dan inovasi tapi juga bisa mendongkrak kunjungan wisatawan ke Garut, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian masyarakat,” harap Menpar Widiyanti.
Menpar Widiyanti juga mendukung industri fesyen dan kuliner agar terus berkembang. Menurutnya produk-produk lokal Indonesia memiliki kualitas yang tidak kalah bagusnya dengan produk luar negeri.
“Saya mengapresiasi dan mengundang wisatawan berkunjung ke Garut untuk berbelanja produk kulit buatan Indonesia. Belanja di Indonesia aja dan jalan-jalan di Indonesia aja,” ujarnya.
Menpar menjelaskan, fesyen dan kuliner adalah industri yang akan didukung sebagai event.
“Kami ingin membuat event-event MICE yang mengundang wisatawan luar negeri untuk datang ke Indonesia, untuk menikmati kuliner Indonesia dan berbelanja produk-produk Indonesia,” kata Widiyanti.
Sementara itu, Wakil Menteri Koperasi, Ferry Joko Juliantono, menyampaikan bahwa Garut menyumbang 25 persen penghasil produk kulit secara nasional. Oleh karena itu, Ferry berharap dengan diresmikannya Piazza Firenze bisa lebih banyak memberdayakan masyarakat dalam menghasilkan kerajinan kulit.
“Kementerian Koperasi juga mendukung industri artisan kulit Indonesia. Kami telah sepakat untuk berkontribusi pada pengelolaan limbah, ini yang akan membantu proses pengelolaan supaya hasil limbahnya tidak mencemari sungai, sehingga turut mendukung ecotourism,” kata Ferry.
Pendiri Yayasan Poppy Dharsono, Poppy Dharsono, menyampaikan bahwa Garut memiliki warisan budaya berupa keahlian kerajinan kulit yang telah turun-menurun lebih dari 100 tahun dan menjadi daya tarik kunjungan wisata domestik maupun mancanegara.
Sebagai bentuk inisiatif Yayasan Poppy Dharsono dan Korem 62 Tarumanagara, didukung oleh mitra developer Spinindo Group untuk membangun Garut kembali, maka dibangunlah Piazza Firenze Garut yang merupakan sentra kulit bergaya Piazza Italia melalui kerja sama dengan pengrajin kulit Garut untuk menghasilkan produk fesyen berkualitas international setara Firenze.
“Kami juga pernah mendatangkan ahli-ahli artisan kulit ternama di dunia ke sini untuk melatih agar meningkatkan kualitas dari produk yang dihasilkan,” jelas Poppy.
Terdapat total 56 kios yang ditempati para pengrajin kulit yang telah dikurasi di antaranya kios Food and Beverages yang ada di Piazza Firenze.(Fikri Husaini-Olpah Sari).
