Uenak Poll! Wisata Kuliner di Surabaya, Ketemu “Setan dan Balapan”
Wisatawan lagi icip-icip Kuliner Jawa Timuran "Rawon Setan".
Kunjungan yang kesekian kali ke Surabaya, saya sempatkan berburu kuliner khusus di Kota Pahlawan. Maklum sering berpergian ke Jawa Timur, baru kali ada waktu luang untuk menyempatkan diri icip-icip khusus menu-menu spesial.
Maklum saja Surabaya itu bisa dibilang surganya wisata kuliner. So pasti kita akan menemukan beragam makanan khas dan selalu ramai dikunjungi orang termasuk wisatawan seperti saya ini. Dengan berjalan kaki dekat-dekat hotel kita bisa menemukan sensasi lain dari makanan khas Jawa Timuran.
Memburu kuliner memang salah satu hobbi yang saya lakukan sejak SMA. Maklum saya termasuk pria yang sangat doyan dengan masakan Jawa dan Melayu serta Banjar tentunya. Karenanya hampir setiap kota yang dikunjungi, minimal pernah merasakan kuliner khasnya.
Nah pertengahan Nopember ini, saya pun diajak teman-teman dari Forum Pimpred Kalselteng menyusuri malam di kawasan Tunjungan Surabaya. Konon katanya sebagian wilayah kota ini banyak ditemukan warung dan rumah makan yang masih melestarikan masakan tradisional.
Perburuan pertama adalah ke kawasan Embong Malang, Surabaya, yang hanya ditempuh sekitar limabelas menit jalan kaki dari Swissbelhotel Tunjungan tempat saya menginap. Lumayan juga jalan kaki sembari cuci mata dengan pemandangan kota Surabaya di waktu malam.
“Nah tempat yang paling dicari orang adalah Rumah Makan Rawon Setan. Pengunjungnya tak hanya orang Surabaya namun ada pula dari kota lainnya di Indonesia, termasuk malam ini ada bule-bule Spanyol dan Inggris,” cerita Kadarisman, Humas Adaro Indonesia, yang menjadi Guide dadakan.

Benar saja apa yang diceritakan Bang Risman sapaan pria yang juga Motivator Kesehatan. Tak begitu sulit menemukan rawon terenak Surabaya dan legendari, Rawon Setan. Kami disambut alunan lembut penyanyi jalanan yang menyuguhkan nomor-nomor hits dan populer Indonesia. Saya pun sempat terbawa suasana dengan lagu romantis seperti Komang, Hati-Hati di Jalan hingga titels Hits Republik “Sandiwara Cinta”.
“Dagingnya empuk dan rasa khas Rawon Jawa Timur terasa banget. Nasinya dihidangkan bersama tauge pendek plus sambal terasi di sisi samping. Wah! Aroma gurih semerbak dari rawon bikin kita meleleh tak tahan tidak mencicipi,” seru Kurnadi “Coach” Pranata, Ketua PWI Balangan.
Nampaknya Coach Nadi benar-benar ketemu “setan”. Karena sempat nambah dua porsi dan harus menenggak teh manis panas, karena sambal terasi yang bikin pedas. Hem, memang ada benarnya juga, racikan menu ini tersohor sejak tahun 1952.
Meskipun dibandrol harga satu porsi dikisaran Rp,40 ribu plus minuman teh manis, namun pas dan sesuai dengan cita rasa yang ditawarkan. Karena ternyata banyak kawan-kawan serombongan saya, seperti Julius Sinaga (Ketua PWI Barito Selatan) dan Denny (Jurnalis Media Indonesia), Toto Fachrudin (Wakil Direktur Radar Banjarmasin), hingga Firdaus (staf Bang Kadarisman), menambah lagi karena saking eunak poll!.

Perburuan kuliner Jilid 2 pun dilanjutkan keesokan harinya. Meskipun masakan hotel enak dan berstandar internasional, namun urusan mencari rasa yang berbeda membuat teman-teman saya memutuskan mencoba salah satu makanan populer “Lontong Balap Surabaya”.
Sekedar diketahui Lontong balap adalah makanan khas Surabaya yang terbuat dari lontong, tahu, kecambah, dan lentho, disiram dengan kuah manis dan sambal petis. Nama lontong balap berasal dari kebiasaan para pedagang yang menjualnya dengan cara dipikul, sehingga terlihat seperti sedang berlomba.
“ Nah ciri-ciri kuliner yang satu ini adalah Kuah lontong segar dan tidak menggunakan santan dan Lentho merupakan kacang tolo atau kacang tunggal yang direndam semalaman, lalu dibersihkan, ditumbuk, dan digoreng. Saus kacang yang digunakan biasanya terbuat dari kacang tanah, petis udang, bawang putih, cabe merah, gula merah, dan air. Biasanya disajikan dengan sate kerang,” terang Yunani, salah satu teman semasa SMA yang bermukim di Surabaya.
Kebetulan siang itu saya bertemu Yunani, teman semasa sekolah di SMA Negeri 5 Banjarmasin. Sejak lulus sekolah dia menikah dan menetap di kota Surabaya. Yunani pun bercerita banyak tentang kuliner Surabaya yang satu ini. Karenanya dia mengasih jempol begitu saya menemukan Rumah Makan yang menjual Lontong Balap Surabaya.
Rupanya Bang Kadarisman lagi-lagi menemukan lokasi yang tepat. Karena salah satu penjual lontong balap legendaris Kota Pahlawan adalah Lontong Balap Pak Gendut. Warung lontong balap ini sudah ada sejak lebih dari 50 tahun yang lalu. Hebatnya tetap dikunjungi orang-orang penting termasuk artis. Itu terlihat dari foto-foto yang terpampang di dinding rumah makan yang sederhana di Jalan Embong Malang Surabaya ini.

Sejarah ternyata mencatat usaha Lontong Balap Pak Gendut diawali pada tahun 1956 dan dibangun dengan semangat seorang Pak Gendut. Konon Lontong Balap Pak Gendut kini diteruskan sang anak lelakinya, karena Pak Gendut sendiri sudah meninggal dunia. Namun warisan kuliner Pak Gendut ini membuat nama Surabaya terus menggema di Indonesia.
“Meskipun tak sedahsyat Garuda Indonesia mengalahkan Saudi Arabia 2-0 tadi malam, tapi popularitas Lontong Balap Pak Gendut tetap terjaga. Mereka sangat ramah terhadap pelanggan dan menghargai sekali dengan pelanggan dengan beragam status tanpa membeda-bedakan.Ini kelebihan Lontong Balap yang satu ini,” kata Teguh Winarto, Ketua DPD ASPPI Kalsel.
Teguh yang merupakan Arek Suroboyo namun sudah jatuh cinta dengan Kalsel, menyebutkan kalau lontong balap yang satu ini berbeda dengan lontong balap yang lain. Karena ada pembeda di lentho gorengnya. Lentho sekilas mirip dengan perkedel, namun warnanya lebih gelap dan teksturnya lebih padat.
Hem, nampaknya dua menu jajanan Surabaya ini cukup membuat saya mengasih bintang lima karena cita rasa dan hospitality pelayanannya. Namun bukan itu esensinya, karena sejatinya melestarikan kuliner nusantara adalah terpenting demi menjaga sebuah marwah warisan leluhur “Kuliner Indonesia “ yang membanggakan Indonesia.

Ahli Pers Dewan Pers – Dosen STIE Pancasetia
