Pasar Digital Kalsel Makin Menarik, Indosat Tancap Gas dengan 5G
Persaingan industri telekomunikasi tidak lagi semata-mata soal siapa yang menawarkan kuota internet lebih besar atau tarif lebih murah.
Kualitas jaringan, kemudahan memperoleh layanan, dan kemampuan memahami kebutuhan pelanggan semakin menentukan daya saing operator di tengah pertumbuhan ekonomi digital.
Strategi itu terlihat dari langkah Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) memperkenalkan layanan 5G di Banjarmasin dan Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Bersamaan dengan pengembangan konektivitas, perusahaan juga memperkuat akses pelayanan melalui gerai terpadu yang menggabungkan produk IM3 dan Tri dalam satu tempat.
Dua langkah tersebut memperlihatkan arah bisnis telekomunikasi yang semakin terintegrasi.
Pengembangan jaringan menjadi fondasi untuk memenuhi kebutuhan data, sedangkan perluasan layanan langsung menjadi sarana menjaga hubungan dengan pelanggan.
Bagi Indosat, pasar Banjarmasin dan Banjarbaru memiliki peluang yang menarik seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap internet untuk bekerja, belajar, menikmati hiburan digital, hingga mengembangkan usaha.
Perusahaan berupaya menjawab perubahan tersebut melalui layanan yang tidak hanya berorientasi pada komunikasi, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Kehadiran 5G menjadi bagian dari strategi itu. Teknologi generasi kelima menawarkan potensi kapasitas jaringan lebih besar dan latensi lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya, sehingga dapat mendukung beragam aktivitas digital, termasuk konferensi video, permainan daring, produksi konten, dan penggunaan aplikasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Head of Circle Kalisumapa Indosat, Eric Wilyanto, dalam kegiatan Media Update dan pengenalan layanan 5G di Duta Mall Banjarmasin, Sabtu (17/10/2026), menjelaskan bahwa kebutuhan internet masyarakat terus berkembang.
Ponsel kini tidak sekadar menjadi alat komunikasi, tetapi telah menjadi perangkat utama untuk menjalankan berbagai kegiatan sehari-hari.
“Kondisi tersebut membuka ruang pertumbuhan bagi industri telekomunikasi. Ketika masyarakat semakin bergantung pada layanan digital, kebutuhan terhadap jaringan yang andal ikut meningkat. Namun, peluang bisnis itu juga membawa tuntutan agar operator mampu menjaga kualitas layanan secara konsisten,” ujar Eric.
Pengalaman pelanggan, misalnya, tidak hanya ditentukan oleh kecepatan internet yang ditawarkan. Kestabilan koneksi saat jaringan padat, ketersediaan sinyal di lokasi aktivitas, kompatibilitas perangkat, serta kemudahan mengakses layanan juga berpengaruh terhadap kepuasan pengguna.
Bagi pelaku usaha, konektivitas yang baik dapat membantu pemasaran melalui media sosial, transaksi digital, komunikasi dengan pelanggan, hingga pengelolaan operasional. Sementara bagi pekerja dan mahasiswa, jaringan yang memadai mendukung rapat virtual, pembelajaran daring, serta pemanfaatan berbagai perangkat produktivitas berbasis internet.
Di sektor kreatif, perkembangan ini juga membuka peluang bagi pembuat konten lokal untuk memproduksi dan mendistribusikan karya melalui platform digital.
Potensi tersebut relevan bagi Banjarmasin dan Banjarbaru yang memiliki aktivitas perdagangan, pendidikan, jasa, serta komunitas kreatif yang terus berkembang.
Meski demikian, nilai ekonomi 5G tidak cukup diukur dari kecepatan unduh atau banyaknya perangkat yang dapat terhubung. Manfaatnya akan lebih nyata apabila teknologi tersebut mampu meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, dan membantu masyarakat menciptakan sumber pendapatan baru.
Gerai terpadu mendekatkan layanan
Penguatan jaringan juga diikuti upaya memperluas akses pelayanan kepada pelanggan. Indosat mengembangkan gerai terpadu yang menggabungkan layanan IM3 dan Tri agar kebutuhan pengguna kedua produk dapat ditangani dalam satu lokasi.
Head of Circle Kalisumapa Indosat, Eric Wilyanto, mengatakan pembukaan gerai di Kalimantan Selatan merupakan bagian dari upaya mendekatkan perusahaan kepada pelanggan, terutama dengan mempertimbangkan jarak antardaerah yang cukup jauh.
“Intinya perjalanan memang cukup jauh dari sisi jarak, jadi kita mau lebih mendekatkan diri. Tentunya ke depan akan ada lagi gerai yang mencakup IM3 dan 3,” kata Eric.
Salah satu gerai terpadu tersebut telah diresmikan di Banjarbaru pada 5 Oktober 2026. Gerai ini melayani kebutuhan pelanggan, termasuk penggantian kartu yang hilang dan pembelian kartu SIM baru. Indosat juga merencanakan pengembangan layanan serupa di Banjarmasin dan Batulicin.

Rencana ekspansi tersebut memiliki arti strategis bagi perusahaan. Secara geografis, Kalimantan Selatan memiliki pusat-pusat aktivitas ekonomi yang tersebar di sejumlah kota dan kabupaten. Jarak perjalanan dapat menjadi pertimbangan tersendiri bagi pelanggan yang membutuhkan bantuan secara langsung.
Dengan menempatkan layanan IM3 dan Tri dalam satu gerai, perusahaan berupaya menyederhanakan akses pelayanan sekaligus membuka peluang untuk menjangkau pelanggan dari dua merek dalam satu titik layanan.
Dari perspektif bisnis, keberadaan gerai fisik masih memiliki fungsi penting di tengah pertumbuhan layanan digital. Tidak semua kebutuhan pelanggan dapat diselesaikan melalui aplikasi atau pusat bantuan jarak jauh. Penggantian kartu, konsultasi produk, dan penyelesaian persoalan tertentu tetap membutuhkan interaksi langsung.
Namun, efektivitas strategi ini akan bergantung pada lokasi gerai, jam operasional, kualitas pelayanan, dan kemampuan perusahaan mengelola biaya operasional.
Perluasan gerai perlu disertai evaluasi terhadap jumlah pengunjung, kebutuhan layanan, serta kontribusinya terhadap kepuasan dan retensi pelanggan.
“Saya kira ini potensi bagus bagi sebuah industri yang mengedepankan layanan dan kualitas jaringan. Yang diinginkan konsumen adalah bagaimana jaringan mampu memberikan rasa nyaman berkomunikasi dalam menunjang aktivitas apa pun. Dan Indosat menjawab dengan baik keinginan masyarakat dan konsumen setianya,” kata pemerhati ekonomi dari STIE Pancasetia Banjarmasin, Tina Lestari SE MM.
Mendorong ekonomi digital daerah
Pengembangan konektivitas juga memiliki dimensi yang lebih luas daripada kepentingan bisnis operator. Infrastruktur digital dapat menjadi salah satu penunjang kegiatan ekonomi daerah, terutama ketika pelaku usaha semakin membutuhkan akses internet untuk memasarkan produk dan menjangkau konsumen.
Indosat sebelumnya juga memperkenalkan Program Masjid Berdaya yang menyediakan konektivitas melalui layanan HiFi Air.
Program tersebut dilaporkan menjangkau 160 masjid di lima provinsi di Kalimantan sejak Juni 2026. Inisiatif ini menunjukkan bahwa pengembangan konektivitas perusahaan juga menyentuh ruang komunitas dan kegiatan edukasi masyarakat.

Di Kalimantan Selatan, peluang serupa dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, komunitas, dan pelaku UMKM. Edukasi pemanfaatan AI, pemasaran digital, serta keamanan transaksi daring dapat membantu masyarakat menggunakan konektivitas untuk kegiatan yang lebih produktif.
Bagi UMKM, misalnya, internet berkecepatan tinggi tidak otomatis meningkatkan penjualan. Pelaku usaha tetap membutuhkan kemampuan membuat konten, memahami kebutuhan pasar, mengelola transaksi, dan menjaga kepercayaan konsumen. Teknologi baru akan memberikan manfaat lebih besar ketika diikuti peningkatan keterampilan penggunanya.
“Alhamdulillah kehadiran Indosat 5G sangat bermanfaat bagi kami pelaku usaha yang tak hanya mengandalkan marketing offline tetapi juga online. Dan jaringan yang kuat ini menambah kemudahan kami berkomunikasi dan berinteraksi kepada masyarakat, termasuk untuk promosi produk UMKM kami seperti Saluang Goreng Crispy,” tutur Dhevy Megawati, salah satu UMKM asal Banjarbaru.
Hal yang sama berlaku bagi pendidikan dan pelayanan publik. Jaringan 5G dapat membuka peluang pengembangan layanan digital, tetapi implementasinya membutuhkan perangkat yang sesuai, sistem yang terintegrasi, keamanan data, serta kesiapan sumber daya manusia.
Karena itu, keberhasilan pengembangan bisnis telekomunikasi di daerah perlu dilihat dari dua sisi. Perusahaan membutuhkan pertumbuhan pelanggan dan pendapatan yang berkelanjutan, sedangkan masyarakat membutuhkan layanan yang berkualitas, terjangkau, dan memberikan manfaat nyata.
Di tengah persaingan industri telekomunikasi, penguatan jaringan 5G dan perluasan gerai terpadu menjadi dua instrumen yang saling melengkapi bagi Indosat. Jaringan menjawab kebutuhan konektivitas, sementara gerai mendekatkan pelayanan kepada pelanggan.
Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa kedua strategi tersebut mampu meningkatkan kualitas pengalaman pelanggan sekaligus memperluas pemanfaatan ekonomi digital di Kalimantan Selatan.
Ukurannya bukan semata-mata teknologi yang diperkenalkan atau jumlah gerai yang dibuka, melainkan seberapa baik layanan itu menjawab kebutuhan masyarakat dan menciptakan nilai ekonomi secara berkelanjutan.(Olpah Sari).
