Mahasiswa S2 STIPRAM Gandeng EconomicTravelling.com
Siapkan Seminar Nasional Tourism Resilience 2027
Mahasiswa Program Magister Pariwisata Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta Batch 15 menyiapkan Seminar Nasional Tourism Resilience yang direncanakan berlangsung pada Januari 2027 di Yogyakarta.
Menggandeng EconomicTravelling.com dan sejumlah mitra media, kegiatan ini diarahkan untuk memperluas diskusi publik mengenai penguatan ketahanan pariwisata Indonesia di tengah berbagai tantangan dan ketidakpastian.
Seminar ini mengangkat isu strategis tentang kemampuan destinasi dan industri pariwisata dalam mengantisipasi risiko, beradaptasi terhadap perubahan, serta memulihkan diri dari berbagai gangguan.
Tantangan tersebut mencakup bencana alam, perubahan iklim, krisis ekonomi, transformasi teknologi, hingga pergeseran perilaku wisatawan.
Ketua Panitia Seminar Nasional Tourism Resilience, Muhammad Nur Assiddiq, S.A.N., M.I.Kom., mengatakan penguatan ketahanan pariwisata membutuhkan pendekatan yang melampaui orientasi pada pertumbuhan kunjungan wisatawan.
Destinasi juga harus memiliki kesiapan menghadapi krisis, menjaga keberlangsungan usaha, serta melindungi kepentingan masyarakat lokal.
“Pariwisata tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan. Kita juga perlu membangun kapasitas destinasi agar mampu menghadapi risiko, beradaptasi terhadap perubahan, dan menjaga keberlanjutan ekonomi, sosial, budaya, serta lingkungan,” ujarnya.
Menurut Muhammad Nur Assiddiq, tourism resilience tidak sekadar berbicara tentang kemampuan destinasi untuk bangkit setelah krisis. Lebih dari itu, ketahanan pariwisata menuntut kesiapsiagaan sejak dini, penguatan sumber daya manusia, inovasi, manajemen risiko, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Perluas Diskusi melalui Kolaborasi Media
Sebagai bagian dari persiapan seminar, panitia menggandeng EconomicTravelling.com dan sejumlah media untuk memperluas jangkauan informasi sekaligus mendorong keterlibatan publik dalam membicarakan masa depan pariwisata Indonesia.
Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk menjembatani dunia akademik, industri pariwisata, dan masyarakat.
Melalui peran media, gagasan mengenai ketahanan destinasi diharapkan tidak berhenti dalam forum ilmiah, tetapi berkembang menjadi diskusi yang relevan bagi pelaku usaha, komunitas pariwisata, dan pengambil kebijakan.
“Kami memandang media sebagai mitra strategis dalam membangun kesadaran publik mengenai pentingnya ketahanan pariwisata. Melalui kolaborasi ini, gagasan dan rekomendasi yang muncul dari seminar diharapkan dapat menjangkau audiens yang lebih luas serta mendorong percakapan yang konstruktif tentang masa depan pariwisata Indonesia,” katanya.
Bagi panitia, keterlibatan media juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pengetahuan pariwisata. Informasi yang terarah dan diskusi yang terbuka diharapkan dapat membantu masyarakat memahami pentingnya membangun destinasi yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Mendorong Pariwisata yang Tangguh dan Berkelanjutan
Seminar Nasional Tourism Resilience 2027 direncanakan menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, praktisi industri, dan pemangku kepentingan terkait.
Forum ini akan membahas penguatan kapasitas destinasi, manajemen risiko, strategi adaptasi, serta keberlanjutan sektor pariwisata.
Bagi mahasiswa Magister Pariwisata STIPRAM Batch 15, kegiatan tersebut merupakan bagian dari kontribusi akademik untuk merespons tantangan nyata industri. (Olpah Sari).
