Merah Putih Semarak di Gang-Gang Banjarmasin
Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, suasana berbeda mulai terlihat di sejumlah kampung di Kota Banjarmasin.
Gang-gang yang sehari-hari menjadi jalur warga beraktivitas kini dihias dengan warna merah putih, lukisan, bendera dan berbagai kreativitas yang dikerjakan secara bersama-sama.
Semangat itu terlihat dalam persiapan Lomba Kampung Merah Putih 2026 yang digelar di sejumlah lingkungan permukiman Kota Banjarmasin. Warga tidak hanya berlomba mempercantik kampung, tetapi juga berusaha menghadirkan sesuatu yang memiliki cerita dan makna bagi lingkungan mereka.
Salah satunya di Kelurahan Belitung Utara, RT 01, Gang Muslim, Banjarmasin Barat.
Di mulut gang yang lebarnya hanya sekitar dua meter, warga memanfaatkan dinding yang cukup panjang sebagai media untuk membuat mural.
Dinding dengan tinggi sekitar dua meter dan panjang lebih dari 20 meter tersebut kini dihiasi lukisan yang mengangkat sejarah Kerajaan Banjar.
Pilihannya cukup menarik. Ketika banyak kampung memilih menghias lingkungan dengan ornamen kemerdekaan, warga Gang Muslim justru memasukkan cerita sejarah daerah ke dalam dekorasi kampung mereka.
Gang yang setiap hari dilewati warga itu akhirnya tidak hanya menjadi tempat orang keluar dan masuk rumah. Dindingnya berubah menjadi ruang yang bercerita tentang masa lalu Banjar.
Pembuatan mural tersebut juga lahir dari inisiatif warga. Dengan ruang yang terbatas, mereka berusaha memanfaatkan bagian lingkungan yang ada agar tetap bisa memberikan kesan berbeda ketika masyarakat maupun tim penilai datang melihat persiapan kampung.

Semangat gotong royong juga terlihat dari sejumlah rumah warga yang dicat dengan warna merah putih. Pengecatan dilakukan secara swadaya, menggunakan biaya dan tenaga warga sendiri.
Tidak ada kesan menunggu semuanya tersedia lebih dulu. Warga bergerak sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang membantu menyediakan cat, ada yang ikut mengecat, sementara warga lainnya ikut memikirkan bagaimana lingkungan mereka bisa terlihat lebih menarik.
Suasana serupa juga terlihat di Kelurahan Teluk Tiram, RT 29.
Di lingkungan ini, semangat menyambut kemerdekaan bahkan terlihat dari rumah Ketua RT. Bukan satu, tetapi tiga bendera Merah Putih dipasang sekaligus.
Pemandangan sederhana tersebut menjadi salah satu bentuk antusiasme warga menyambut Lomba Kampung Merah Putih tahun ini. Bendera-bendera itu berkibar di lingkungan permukiman, berdampingan dengan aktivitas warga yang tetap berjalan seperti biasa.
Ketua Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) Banjarmasin, Bambang Budiyanto, mengapresiasi antusiasme warga dalam memeriahkan Lomba Kampung Merah Putih 2026.
Menurutnya, semangat yang ditunjukkan masyarakat menjadi bagian penting dari tujuan kegiatan tersebut. Lomba tidak semata-mata mencari kampung yang paling banyak memasang hiasan atau paling meriah, tetapi juga mendorong masyarakat membangun kebersamaan dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan.
Apalagi kegiatan tersebut digelar bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-500 Kota Banjarmasin.
Bagi warga, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang mungkin sederhana, tetapi dikerjakan bersama.
Di Gang Muslim, warga memilih bercerita melalui mural sejarah. Rumah-rumah dicat merah putih dengan biaya sendiri. Sementara di Teluk Tiram, tiga bendera sekaligus berkibar dari rumah Ketua RT sebagai bentuk kegembiraan menyambut bulan kemerdekaan.
Yang menarik, semangat itu tidak muncul karena kampung memiliki fasilitas yang serba lengkap. Justru dari keterbatasan ruang dan kemampuan itulah kreativitas warga terlihat.

Gang yang sempit tetap bisa dihias. Dinding yang sebelumnya biasa saja bisa menjadi mural sejarah. Rumah warga yang sederhana bisa berubah lebih semarak hanya dengan sentuhan warna merah putih.
“Bagi warga, persiapan lomba ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memperbaiki lingkungan tempat mereka tinggal. Rumah dicat, gang dihias, dinding dimanfaatkan dan bendera dipasang,” terang salah satu Juri Lomba Kampung Merah Putih 2026.
Anak-anak pun bisa melihat langsung kegiatan yang dilakukan orang-orang di sekitar mereka. Sejarah Kerajaan Banjar tidak hanya dibaca dari buku, tetapi juga hadir dalam gambar yang bisa dilihat setiap hari ketika melewati gang.
Begitu pula dengan bendera Merah Putih. Menjelang peringatan kemerdekaan, bendera kembali memenuhi halaman dan sudut-sudut permukiman.
Lomba Kampung Merah Putih memang akan menghasilkan pemenang. Namun sebelum penilaian dilakukan, warga sudah lebih dulu melakukan sesuatu untuk kampungnya masing-masing.
Ada tenaga yang dikeluarkan, ada uang yang disisihkan, dan ada waktu yang digunakan untuk mengecat serta menghias lingkungan.
Dari Gang Muslim hingga Teluk Tiram, persiapan menyambut kemerdekaan berlangsung dengan cara yang sederhana. Tetapi justru dari hal-hal sederhana itu terlihat bagaimana warga ikut mengambil bagian dalam merayakan kemerdekaan dan ulang tahun kotanya.(Ridzky Husna).
