Sekolah Lansia, Menjaga Semangat Belajar di Usia Senja

0
DOSEN ABDUL MUNIR SEKOLAH LANSIA

Oleh: Abd Munir

Ada pemandangan menarik di sebuah ruang belajar.

Bukan anak-anak muda dengan seragam sekolah dan tas di punggung yang memenuhi ruangan. Bukan pula mahasiswa yang sibuk membuka laptop dan buku kuliah.

Yang terlihat justru wajah-wajah penuh pengalaman hidup.

Rambut yang mulai memutih, langkah yang tidak lagi tergesa, tetapi mata mereka masih menyimpan rasa ingin tahu. Mereka datang dengan senyum, saling menyapa, bercanda, bahkan bernyanyi bersama.

Ada yang bercerita tentang masa muda. Ada yang mengenang perjalanan hidup puluhan tahun yang telah dilewati. Ada pula yang sekadar ingin bertemu teman dan menikmati suasana kebersamaan.

Tempat itu bernama Sekolah Lansia. Sebuah ruang sederhana yang memberikan pesan besar: belajar tidak pernah mengenal kata selesai.

Sebab manusia tidak berhenti membutuhkan ilmu, pergaulan, dan ruang untuk dihargai hanya karena usia bertambah.

 

Penulis bersama sahabat di Sekolah Lansia di Banjarmasin.

Indonesia Menuju Era Penduduk Menua

Kehadiran Sekolah Lansia tidak bisa dipisahkan dari perubahan besar dalam struktur penduduk Indonesia.

Bangsa ini sedang memasuki fase aging population atau penduduk menua. Suatu wilayah dikategorikan sebagai penduduk tua apabila jumlah penduduk lanjut usia telah mencapai sekitar 10 persen dari total populasi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan kesehatan dan meningkatnya angka harapan hidup membawa konsekuensi baru. Masyarakat hidup lebih lama, tetapi tantangannya adalah bagaimana memastikan mereka tetap menjalani kehidupan yang berkualitas.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sejumlah provinsi di Indonesia telah memasuki fase penduduk menua. Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi wilayah dengan proporsi lansia tertinggi, disusul Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Tahukah kiya di balik angka itu ada jutaan manusia yang memiliki cerita, pengalaman, dan harapan untuk tetap aktif di tengah masyarakat.

Jika dahulu pembangunan sering berbicara tentang bonus demografi dan kekuatan generasi muda, maka kini perhatian juga harus diarahkan kepada bagaimana menciptakan bonus usia panjang.

Karena umur panjang akan menjadi berkah apabila seseorang tetap sehat, mandiri, dan bahagia.

Ada satu hal yang sering luput dari perhatian.

Ketika seseorang memasuki usia lanjut, kebutuhan mereka bukan hanya pemeriksaan kesehatan atau obat-obatan. Mereka juga membutuhkan ruang untuk berbicara.

Mereka membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa masih memiliki arti.

Banyak lansia menghadapi persoalan kesepian (loneliness), terutama ketika anak-anak mulai memiliki kehidupan sendiri, sementara aktivitas pekerjaan berhenti karena memasuki masa pensiun.

Hari-hari yang sebelumnya penuh rutinitas perlahan menjadi lebih sunyi.Tak salah memang Sekolah Lansia hadir dengan konsep yang menarik.

Sekolah ini bukan sekadar tempat menambah pengetahuan, tetapi menjadi ruang pertemuan sosial.Bisa dibayangkan kalau lansia ini kembali tersenyum dan tertawa.

Mereka berbagi pengalaman dan menemukan menemukan kembali semangat hidup.Sebuah tempat yang nantinya juga bisa kita temui tatkala usia kita tak lagi muda.

 

Belajar dengan Bahagia, Bukan Karena Kewajiban

Sekolah Lansia memiliki pendekatan berbeda dibandingkan sekolah formal. Tidak ada ujian yang membuat cemas, apalagi ada nilai yang menentukan seseorang pintar atau tidak.

Di tempat ini dari sudut pandang saya seorang pengajar adalah proses belajar yang menyenangkan.

Metode yang digunakan mengacu pada pendekatan andragogi, yaitu pembelajaran bagi orang dewasa dengan menghargai pengalaman hidup sebagai bagian penting dari proses pendidikan.

Para lansia tidak diposisikan sebagai orang yang tidak tahu. Justru pengalaman puluhan tahun mereka menjadi sumber pembelajaran.

Dalam kegiatan Sekolah Lansia, berbagai aktivitas dilakukan secara santai namun bermakna.

Mulai dari membangun keakraban, berbagi cerita kehidupan, mengingat kembali kenangan masa lalu (recalling memory), permainan edukatif, penguatan spiritual, hingga memperluas wawasan.

Materinya pun tidak terbatas pada kesehatan.

Ada pembelajaran tentang psikologi, keluarga, agama, kreativitas, kemandirian, hingga bagaimana tetap produktif di usia lanjut.

Pengajarnya pun berasal dari berbagai latar belakang, mulai tenaga kesehatan, psikolog, dosen, guru agama, tokoh masyarakat hingga relawan.

Karena mengajar lansia bukan hanya soal menyampaikan materi. Tetapi juga tentang memberikan penghargaan dan perhatian.Itu saja dan memang kita lakukan.

Saya pernah melihat langsung kegiatan Sekolah Lansia di Kota Bogor. Pengalaman itu memberikan kesan tersendiri.

Para peserta yang sebagian besar sudah berusia lanjut tampak penuh energi. Mereka bernyanyi, menari, berpidato, mengikuti terapi kesehatan, dan berinteraksi dengan penuh kegembiraan.

Tidak terlihat wajah yang menyerah kepada usia.Hem, yang terlihat adalah manusia-manusia yang masih ingin menikmati kehidupan.

Di Bogor itu saya semakin memahami bahwa masa tua bukanlah masa berhenti. Masa tua adalah fase kehidupan yang tetap memiliki ruang untuk tumbuh.

Perjalanan Baru Mengajar di Sekolah Lansia Banjarmasin

Pengalaman panjang saya sebagai pengajar Bahasa Inggris, guru SMP dan SMA, dosen perguruan tinggi swasta, serta pelatih di Balai Pelatihan dan Pengembangan BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan membawa saya pada pengalaman yang berbeda.

Saya dipercaya oleh Ketua Juken Kota Banjarmasin, Ibu Dra. Dahliana, untuk ikut mengajar di Sekolah Lansia Siti Hajar Kencana. Di tempat ini saya bertemu dengan peserta yang luar biasa.

Usia mereka beragam, mulai dari 60 tahun hingga 82 tahun.

Namun ada satu kesamaan yang saya lihat mereka datang bukan karena kewajiban, tetapi karena keinginan untuk tetap belajar dan bersosialisasi.

Duh, suasana belajar berlangsung sederhana, tetapi penuh keakraban. Tidak ada biaya pendidikan yang dibebankan kepada peserta. Bahkan tersedia makanan ringan dan makan siang sebagai bentuk kepedulian.

Kegiatan tidak dilakukan setiap hari, melainkan secara berkala.

Hal ini disesuaikan dengan kondisi peserta, sebab sebagian masih memiliki aktivitas lain, termasuk menjalankan usaha kecil untuk membantu ekonomi keluarga.

Sekolah Lansia memahami bahwa setiap peserta memiliki cerita dan kehidupan masing-masing.

Tujuan utama Sekolah Lansia bukan hanya menambah pengetahuan. Lebih jauh, sekolah ini ingin menjaga agar para lansia tetap memiliki kualitas hidup yang baik.

Pada tahap awal pembelajaran, peserta diarahkan untuk menjaga fungsi kognitif, melakukan aktivitas fisik, memperkuat spiritualitas, serta mengelola emosi.

Tahap berikutnya dikembangkan melalui kegiatan pengembangan hobi, kreativitas, rekreasi, kemandirian, dan produktivitas.

Sederhana, tetapi memiliki makna besar.

Sebab setiap manusia, berapa pun usianya, tetap membutuhkan kesempatan untuk berkontribusi.

Dalam tulisan ini saya hanya memberikan pandangan, bahwa Lansia bukan beban, mereka adalah warisan pengalaman

Para lansia bukan kelompok yang harus dilihat sebagai beban pembangunan. Mereka adalah sumber pengalaman dan penjaga penjaga nilai keluarga, yang telah melewati berbagai zaman dan memiliki banyak cerita untuk diwariskan.

Sekolah Lansia menjadi salah satu jalan agar mereka tetap hadir di tengah masyarakat. Karena kualitas hidup tidak hanya diukur dari panjangnya usia.

Tetapi dari seberapa bermakna perjalanan usia tersebut dijalani.

*Penulis adalah seorang Demografer, Linguis, dan Sekretaris Juken Kalsel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!