Es Lilin dan Denyut Ekonomi Rakyat

0
DOSEN HASDI ES LILIN

Oleh : Hasdi Suryadi
Di bawah terik matahari siang, seorang anak kecil berlari kecil menghampiri sebuah gerobak sederhana di pinggir jalan.

Di tangannya tergenggam beberapa lembar uang receh.

Matanya berbinar melihat deretan es lilin berwarna-warni yang tersusun rapi di dalam kotak pendingin. Setelah memilih rasa kesukaannya, ia menyerahkan uang tersebut kepada sang penjual.

Sang pedagang tersenyum. Sebatang es lilin berpindah tangan. Transaksi kecil pun terjadi.

Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin hanya cerita biasa di sudut kampung. Tidak ada angka besar. Tidak ada nilai transaksi jutaan rupiah. Tidak ada gedung tinggi atau aktivitas ekonomi yang terlihat megah.

Namun, jika dilihat lebih dalam, di balik sebatang es lilin tersimpan cerita besar tentang perjuangan ekonomi rakyat.

Sebuah cerita tentang kerja keras, ketekunan dan tentang keluarga yang menggantungkan harapan dari usaha sederhana.

Ketika berbicara tentang ekonomi, banyak orang langsung membayangkan pasar modal, investasi besar, industri raksasa, atau angka pertumbuhan ekonomi nasional.

Semua itu memang penting. Namun, ekonomi sesungguhnya juga hidup di tempat-tempat sederhana.

Ekonomi itu ada di dapur rumah seorang ibu yang membuat es lilin sejak pagi.Dan juga ada pada kayuhan sepeda pedagang keliling yang menyusuri gang demi gang.

Bahkan ada pada warung kecil, pedagang kaki lima, petani, nelayan, dan jutaan pelaku usaha mikro yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan keluarga.

Es lilin menjadi salah satu contoh sederhana bagaimana ekonomi rakyat bekerja.

Modalnya tidak besar dan teknologinya tidak rumit. Bahan bakunya mudah ditemukan.

Namun dari usaha kecil itu, ada pemasukan yang membantu membayar kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah anak, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebuah usaha kecil mungkin terlihat kecil dari sisi angka, namun bagi sebuah keluarga, usaha itu bisa berarti sangat besar.

Pertumbuhan Ekonomi yang Harus Dirasakan Semua Orang

Pemerintah sering mengumumkan berbagai indikator ekonomi, termasuk pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), inflasi, investasi, dan berbagai ukuran lainnya.

Angka-angka tersebut tentu penting untuk melihat kondisi perekonomian suatu negara. Namun, bagi pedagang es lilin, pertanyaan ekonominya sangat sederhana.

Apakah dagangan hari ini habis? Apakah harga gula masih terjangkau? Dan apakah biaya produksi meningkat? Apakah masih banyak pembeli yang datang?

Maka kita melihat perbedaan antara ekonomi makro dan ekonomi yang dirasakan langsung masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu otomatis membuat semua orang merasa lebih sejahtera.

Bagi masyarakat kecil, ekonomi bukan hanya tentang angka. Bagi mereka ekonomi itu bicaranya adalah dapur yang tetap menyala.Yang terpenting adalah anak yang yang bisa tetap sekolah.Disisi lain adalah usaha kecil yang masih mampu bertahan

Usaha Mikro, Kekuatan Besar yang Sering Terlupakan

Indonesia memiliki jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Mereka menjadi bagian penting dalam struktur ekonomi nasional karena menyerap tenaga kerja dan menciptakan aktivitas ekonomi di berbagai daerah.

Sebagian besar dari mereka bergerak di sektor informal yang bekerja dengan kemampuan sendiri.Hebatnya lagi mereka membangun usaha sedikit demi sedikit.Dan tak jarang dimulai dari rumah dengan modal terbatas. Seperti halnya pedagang es lilin.

Banyak usaha kecil dibangun bukan karena memiliki modal besar, tetapi karena memiliki keberanian untuk mencoba.

Ada semangat pantang menyerah yang menjadi modal utama. Mereka mungkin tidak memiliki laporan keuangan yang rumit, apalagi memiliki kantor besar.Mereka tidak memiliki banyak karyawan, namun memiliki sesuatu yang sangat penting dalam ekonomi yaitu daya tahan.

Perjalanan pelaku usaha kecil tentu tidak selalu mudah. Harga bahan baku sering berubah. Biaya listrik meningkat kemudian persaingan semakin ketat.

Kondisi ini ditambah selera konsumen juga terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.

Dulu orang cukup membeli es lilin dari penjual keliling. Kini konsumen mulai mencari produk dengan kemasan menarik, pilihan rasa lebih banyak, dan pelayanan yang lebih cepat.

Namun menariknya, banyak pelaku UMKM tidak menyerah.

Mereka belajar beradaptasi. Es lilin yang dulu hanya dikenal sebagai jajanan tradisional kini mulai tampil lebih kreatif.

Ada yang menghadirkan berbagai rasa baru dan menggunakan kemasan modern.

Ada pula yang memasarkan produknya melalui media sosial dan layanan pesan antar.

Inilah bukti bahwa usaha kecil bukan berarti usaha yang tidak berkembang. Dengan kesempatan yang tepat, usaha mikro mampu bertransformasi mengikuti perubahan zaman.

Membeli Es Lilin, Membeli Sebuah Perjuangan

Kadang kita lupa bahwa keputusan kecil yang kita lakukan memiliki dampak besar bagi orang lain.Eloknya ketika membeli es lilin dari pedagang kecil, kita bukan hanya membeli makanan.

Kita sedang membantu sebuah keluarga mempertahankan penghasilan dan ikut menghidupkan ekonomi lingkungan sekitar.

Kita sedang memberi ruang bagi seseorang untuk terus bermimpi. Satu transaksi kecil mungkin tidak mengubah dunia. Tetapi ribuan transaksi kecil yang dilakukan bersama-sama dapat menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Penulis adalah Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin & Akuntan Publik

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!