Membaca Shadow Work, Shrinkflation, dan Social Media Deflation
Oleh: Rayyan
Mahasiswa STIE Pancasetia Banjarmasin
“Suatu kebenaran ada karena adanya kesepakatan.”
Perubahan ekonomi tidak selalu hadir dalam bentuk kenaikan harga, gejolak nilai tukar, atau melemahnya pertumbuhan ekonomi. Sering kali, perubahan justru datang secara perlahan, nyaris tanpa disadari, melalui kebiasaan sehari-hari yang kita anggap biasa.
Kita merasa hidup berjalan seperti biasa, padahal cara bekerja, berbelanja, hingga memandang kehidupan telah berubah secara fundamental.
Inilah wajah ekonomi modern. Perubahannya tidak selalu terdengar keras, tetapi dampaknya nyata terhadap perilaku masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul berbagai istilah baru yang mencoba menjelaskan fenomena tersebut. Tiga di antaranya adalah Shadow Work, Shrinkflation, dan Social Media Deflation.
Ketiganya lahir dari perubahan teknologi, strategi bisnis, serta dinamika sosial yang membentuk cara manusia mengambil keputusan ekonomi.
Tulisan ini mencoba menjelaskan ketiga istilah tersebut dengan bahasa yang sederhana namun tetap berpijak pada logika ekonomi.
Materi ini disusun dari berbagai referensi yang dirangkum menjadi satu kesatuan. Apabila terdapat kekeliruan dalam penyampaian maupun penafsiran, penulis terbuka terhadap berbagai pandangan. Sebab ilmu pengetahuan selalu berkembang melalui diskusi dan pembelajaran.
Shadow Work Ketika Konsumen Ikut Bekerja
Teknologi memang membuat hidup lebih cepat. Namun di balik kemudahan itu, terdapat sebuah fenomena yang sering luput dari perhatian, yaitu Shadow Work.
Istilah ini menggambarkan pekerjaan yang dahulu dilakukan oleh pegawai perusahaan, tetapi kini secara perlahan dialihkan kepada pelanggan tanpa adanya kompensasi.
Ketika kita melakukan check-in penerbangan sendiri melalui aplikasi, memindai barcode saat memasuki gedung, menggunakan mesin self-checkout di supermarket, mengisi formulir digital rumah sakit, atau memesan makanan tanpa melalui kasir, sesungguhnya kita sedang melakukan pekerjaan yang sebelumnya menjadi tanggung jawab perusahaan.
Bagi dunia usaha, pola ini menghadirkan efisiensi biaya operasional sekaligus meningkatkan kecepatan pelayanan. Namun di sisi lain, konsumen tanpa sadar ikut mengambil sebagian beban pekerjaan tersebut.
Fenomena ini tidak sepenuhnya buruk. Digitalisasi memang meningkatkan efisiensi. Persoalannya muncul ketika semua layanan dipaksa menjadi serba mandiri tanpa mempertimbangkan kelompok masyarakat yang belum akrab dengan teknologi, seperti lansia maupun masyarakat di daerah dengan literasi digital yang masih terbatas.
Karena itu, seperti kata Dosen saya, Muhammad Risanta, bahwa digitalisasi seharusnya tidak menghilangkan sentuhan pelayanan manusia. Teknologi semestinya menjadi alat yang mempermudah, bukan menggantikan seluruh interaksi sosial.
Shrinkflation, Harga Tetap, Nilai Menyusut
Pernahkah Anda merasa sebungkus makanan ringan lebih cepat habis dibandingkan beberapa tahun lalu? Bukan perasaan Anda yang keliru.
Fenomena tersebut dikenal sebagai Shrinkflation, yaitu strategi perusahaan mengurangi isi atau ukuran produk tanpa menaikkan harga secara mencolok.
Kemasan terlihat sama. Harga di rak juga tampak tidak berubah. Namun berat bersihnya perlahan menyusut.
Sebungkus keripik yang dahulu berisi 80 gram kini menjadi 65 gram. Minuman kemasan yang dahulu 250 mililiter kini tinggal 220 mililiter. Sabun mandi menjadi lebih kecil, kopi instan semakin ringan, sementara harga tetap dipertahankan.
Mengapa perusahaan melakukan hal tersebut?
Lagi-lagi Dosen saya yang berlatar belakang Jurnalis ini, menyebutnya itu sederhana. Biaya produksi terus meningkat. Harga bahan baku, energi, distribusi, hingga upah tenaga kerja naik dari waktu ke waktu. Mengurangi isi produk dianggap lebih aman dibandingkan menaikkan harga secara langsung yang berisiko mengurangi minat beli konsumen.
Dari sudut pandang bisnis, langkah tersebut dapat dipahami sebagai strategi mempertahankan pasar. Namun bagi konsumen, shrinkflation sesungguhnya mengurangi daya beli secara diam-diam.
Karena itu, masyarakat perlu menjadi konsumen yang lebih cermat. Harga bukan lagi satu-satunya ukuran. Berat bersih, volume, dan nilai yang diperoleh harus menjadi pertimbangan sebelum memutuskan membeli suatu produk.
Social Media Deflation, Ketika Media Sosial Menggerus Kepuasan Hidup
Ekonomi tidak hanya dipengaruhi oleh uang, tetapi juga oleh psikologi manusia.
Di era media sosial, muncul fenomena yang dapat disebut sebagai Social Media Deflation, yaitu kondisi ketika seseorang merasa kualitas hidupnya menurun karena terus-menerus membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain di ruang digital.
Setiap hari media sosial dipenuhi foto liburan mewah, kendaraan baru, rumah impian, promosi jabatan, hingga kesuksesan bisnis. Yang jarang terlihat adalah perjuangan, kegagalan, tekanan finansial, atau proses panjang di balik semua pencapaian tersebut.
Akibatnya, banyak orang mulai merasa tertinggal.
Rasa kurang itu kemudian mendorong perilaku konsumtif. Demi terlihat berhasil, seseorang rela membeli barang yang sebenarnya belum dibutuhkan, memanfaatkan fasilitas paylater, atau berutang hanya untuk mengikuti gaya hidup yang sedang populer.
Dalam ilmu behavioral economics, keputusan semacam ini disebut sebagai keputusan yang lebih dipengaruhi emosi dibandingkan pertimbangan rasional.
Padahal, kesejahteraan ekonomi tidak pernah diukur dari seberapa mewah kehidupan seseorang terlihat di media sosial, melainkan dari kemampuan mengelola keuangan secara sehat dan berkelanjutan.
Media sosial memang memberi inspirasi. Namun jika tidak disikapi secara bijak, ia juga dapat menciptakan tekanan sosial yang melemahkan kesehatan mental sekaligus kondisi finansial seseorang.
Ketiga fenomena tersebut memperlihatkan bahwa tantangan ekonomi masa kini tidak lagi sesederhana persoalan harga atau pendapatan.
Teknologi mengubah cara kita bekerja. Dunia usaha mengubah strategi mempertahankan keuntungan. Media sosial mengubah cara kita memandang kesuksesan.
Di tengah perubahan itu, masyarakat dituntut memiliki literasi ekonomi yang lebih baik. Menjadi konsumen cerdas bukan sekadar mencari harga termurah, tetapi memahami bagaimana perusahaan bekerja, bagaimana teknologi mengubah perilaku, dan bagaimana psikologi memengaruhi keputusan finansial.
Sebagaimana ungkapan yang menjadi pengantar tulisan ini, “Suatu kebenaran ada karena adanya kesepakatan.” Demikian pula dalam ekonomi.
Nilai, harga, bahkan persepsi tentang kesejahteraan lahir dari kesepakatan yang dibangun masyarakat.
Tugas kita bukan sekadar mengikutinya, melainkan memahaminya secara kritis agar setiap keputusan ekonomi yang diambil benar-benar membawa manfaat, bukan sekadar mengikuti arus.

