Khuzaimi Menjaga Peradaban Budaya dan Wisata Susur Sungai
Bintang Podcast Journalis+, Khuzaimi, Penggiat Pariwisata dan Arsitek Banua (Kaos Merah) bersama Host Anang Fadillah, Riswan Irfani dan Muhammad Risanta. (Foto - Irfani).
Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggeser orientasi masyarakat dari sungai ke daratan, Khuzaimi atau akrab disapa Pak Jimi memilih tetap berdiri di tepian sungai dan mendorong menjadi wisata berkelanjutan.
Bagi arsitek sekaligus pegiat budaya ini, sungai bukan sekadar bentang alam, melainkan jantung peradaban masyarakat Banjar yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Pandangan itu ia sampaikan dalam Podcast Jurnalist+ bersama host Anang Fadillah, Muhammad Risanta, dan Riswan Irfani.
Dalam perbincangan tersebut, Pak Jimi mengajak masyarakat melihat sungai bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi sebagai ruang hidup yang menyimpan sejarah, identitas, dan masa depan Kalimantan Selatan.
“Kalau kita kehilangan budaya sungai, sesungguhnya kita sedang kehilangan identitas sebagai orang Banjar. Sungai adalah peradaban yang membentuk cara hidup, ekonomi, arsitektur, hingga karakter masyarakat kita,” ujarnya.
Menurutnya, membangun wisata susur sungai tidak cukup hanya menghadirkan perahu wisata atau mempercantik tepian sungai. Yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan, di mana budaya, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat tumbuh secara seimbang.
Sungai, Ruang Hidup Orang Banjar
Bagi masyarakat Banjar, sungai telah menjadi pusat kehidupan sejak ratusan tahun silam. Jauh sebelum jalan raya berkembang, sungai merupakan jalur transportasi utama yang menghubungkan kampung-kampung, pasar, hingga pusat pemerintahan.
Dari sungailah lahir tradisi Pasar Terapung, tempat para pedagang menjajakan hasil bumi dan kuliner tradisional di atas jukung. Sungai juga melahirkan arsitektur khas seperti Rumah Lanting dan rumah panggung yang dirancang menyatu dengan ritme pasang surut air.

Tidak hanya menjadi urat nadi ekonomi, sungai juga menjadi ruang interaksi sosial, tempat masyarakat bermusyawarah, merayakan tradisi, hingga menjaga nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan lintas generasi.
“Banyak daerah memiliki sungai, tetapi tidak semua memiliki peradaban sungai seperti Banjar. Inilah kekuatan yang harus kita rawat sebagai identitas daerah,” tutur Pak Jimi sembari menyeruput kopi hitam panas.
Pak Jimi menilai, wisata susur sungai memiliki potensi besar menjadi daya tarik kelas dunia apabila dikembangkan dengan pendekatan berbasis heritage atau warisan budaya.
Menurutnya, wisatawan modern tidak lagi sekadar mencari pemandangan yang indah. Mereka ingin merasakan pengalaman otentik, mengenal budaya lokal, mencicipi kuliner tradisional, hingga berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Karena itu, ia mendorong agar pengembangan wisata sungai tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur semata, tetapi juga memperkuat narasi sejarah, pelestarian budaya, pemberdayaan pelaku UMKM, serta peningkatan kualitas pelayanan masyarakat di sepanjang bantaran sungai.
“Kalau sungai hanya menjadi jalur transportasi wisata, nilainya terbatas. Tetapi ketika sungai menjadi panggung budaya, pusat ekonomi kreatif, dan ruang edukasi, maka manfaatnya akan dirasakan oleh masyarakat secara berkelanjutan,” jelas pria yang sempat menjabat sebagai Kabid Pengembangan Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Kota Banjarmasin.
Pak Jimi menegaskan bahwa keberhasilan wisata sungai tidak dapat dipisahkan dari kualitas lingkungan. Sungai yang bersih merupakan syarat utama lahirnya destinasi wisata yang berdaya saing.
Karena itu, pelestarian sungai harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, dan masyarakat.
Ia meyakini, ketika sungai terjaga, manfaat ekonomi akan mengalir kepada masyarakat melalui berkembangnya usaha transportasi air, kuliner, kerajinan tangan, homestay, jasa pemandu wisata, hingga ekonomi kreatif lainnya.
“Pariwisata yang baik bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan dan budaya,” tambahnya lagi.

Merajut Persaudaraan Banjar–Malaysia
Komitmen Pak Jimi terhadap pengembangan pariwisata juga diwujudkan melalui gagasan Borneo Malaysia Community, sebuah inisiatif yang bertujuan mempererat hubungan masyarakat Banjar dengan komunitas serumpun di Malaysia melalui jalur budaya dan pariwisata.
Menurutnya, masyarakat Banjar memiliki ikatan sejarah yang panjang dengan kawasan Borneo dan Malaysia. Hubungan tersebut dapat diperkuat melalui pertukaran budaya, promosi wisata, pendidikan, hingga kolaborasi ekonomi kreatif.
“Pariwisata mampu menjadi jembatan persaudaraan. Ketika budaya saling diperkenalkan, maka hubungan antarmasyarakat akan semakin kuat dan saling menguntungkan,” katanya.
Di tengah perubahan zaman, Pak Jimi percaya bahwa sungai akan tetap menjadi masa depan Kalimantan Selatan apabila dikelola dengan visi yang tepat.
Baginya, menjaga sungai berarti menjaga sejarah, memperkuat identitas, sekaligus membuka peluang ekonomi baru yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Perjuangan membangun wisata susur sungai memang tidak mudah. Dibutuhkan kolaborasi, konsistensi, dan keberanian untuk menempatkan budaya sebagai fondasi pembangunan.
Namun, dari sungai yang terus mengalir itulah, Pak Jimi melihat harapan agar Banjar tetap dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kemampuannya menjaga peradaban yang telah diwariskan selama berabad-abad.
“Peradaban yang besar selalu lahir dari sungai. Tugas kita hari ini bukan menciptakan sejarah baru, melainkan memastikan warisan budaya sungai Banjar tetap hidup, memberi manfaat bagi masyarakat, dan dikenang oleh generasi yang akan datang.”(M.Irfani).
