Piala Dunia, Sepak Bola Menyatukan Umat Manusia

0
RISANTA PIALA DUNIA

Oleh: Muhammad Risanta

Empat tahun. Bagi sebagian orang, itu hanya rentang waktu pergantian pemerintahan, siklus ekonomi, atau masa kuliah seorang mahasiswa.

Namun bagi pecinta sepak bola, empat tahun adalah masa penantian panjang untuk menyaksikan peristiwa yang mampu menghentikan sejenak denyut dunia, yakni Piala Dunia FIFA.

Ketika turnamen ini digelar, batas-batas negara seakan menghilang. Mungkin Orang Argentina menangis bersama jutaan warga negaranya ketika meraih tropi juara dunia.

Demikian Pendukung Brasil menari di jalanan Rio de Janeiro begitu sederet bintangnya memberikan kemenangan saat berlaga di Piala Dunia.

Atau Warga Jerman memadati alun-alun kota menyaksikan timnas mereka. Bahkan di sudut kampung Indonesia, orang rela begadang demi menyaksikan pertandingan yang dimainkan ribuan kilometer jauhnya.

Inilah kekuatan Piala Dunia.

Turnamen yang dicetuskan oleh Jules Rimet pada tahun 1930 itu bukan sekadar kompetisi sepak bola. Ini adalah panggung terbesar yang mempertemukan bangsa-bangsa dari lima benua dalam satu bahasa yang sama, sepak bola.

Saat itu, Presiden FIFA Jules Rimet memiliki mimpi besar. Ia ingin menciptakan turnamen internasional yang berdiri sendiri di luar Olimpiade. Sebuah ajang yang dapat mempertemukan negara-negara anggota FIFA dalam kompetisi yang sportif sekaligus mempererat persaudaraan dunia.

Mimpi itu kemudian menjadi kenyataan ketika Uruguay menjadi tuan rumah Piala Dunia pertama pada tahun 1930. Hanya 13 negara yang berpartisipasi.

Tidak ada yang menyangka, hampir satu abad kemudian turnamen tersebut berkembang menjadi perhelatan olahraga paling populer di muka bumi.

FIFA sendiri, singkatan dari Fédération Internationale de Football Association, didirikan pada tahun 1904.

Saat ini organisasi tersebut memiliki 209 negara anggota, jumlah yang bahkan lebih banyak dibandingkan anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Bayangkan saja. Mengelola kompetisi sepak bola dunia dengan ratusan negara anggota tentu bukan pekerjaan sederhana.

Namun FIFA berhasil menjadikan Piala Dunia sebagai produk olahraga paling bernilai dan paling banyak ditonton di planet ini.

 

Foto Ilustrasi – Piala Dunia Sepanjang Masa. (Foto – Dok Economic Travelling.Com).

Lalu mengapa Piala Dunia tidak digelar setiap tahun? Pertanyaan ini sering muncul. Jawabannya memang sederhana sekaligus kompleks.

Pertama, proses kualifikasi membutuhkan waktu yang sangat panjang. Negara-negara dari Asia, Afrika, Eropa, Amerika Selatan, Amerika Utara, hingga Oseania harus melalui pertandingan berjenjang untuk memperebutkan tiket menuju putaran final.

Kedua, negara tuan rumah membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun stadion, jaringan transportasi, akomodasi, hingga sistem keamanan yang memenuhi standar FIFA.

Ketiga, FIFA ingin menjaga prestise turnamen ini. Jika digelar terlalu sering, nilai eksklusifnya akan berkurang. Jeda empat tahun membuat Piala Dunia selalu dinanti dan terasa istimewa.

Karena itu, setiap edisi Piala Dunia selalu menjadi peristiwa global yang luar biasa.

Sejarah juga mencatat bahwa turnamen ini pernah berhenti akibat perang. Edisi 1942 dan 1946 batal dilaksanakan karena Perang Dunia II yang melanda berbagai negara.

Sepak bola pun tak berdaya menghadapi dentuman senjata dan faktor keamanan membuat terhenti.

Namun ketika perang berakhir, Piala Dunia kembali hadir sebagai simbol bahwa dunia bisa bersatu melalui olahraga.

Tak lengkap berbicara tentang Piala Dunia tanpa menyebut trofinya.

Awalnya, trofi tersebut bernama “Victory”. Pada tahun 1946 namanya diubah menjadi Jules Rimet untuk menghormati sosok yang berjasa melahirkan turnamen ini.

Brasil kemudian menjadi negara pertama yang berhak menyimpan trofi Jules Rimet secara permanen setelah meraih gelar ketiga pada tahun 1970.

Sayangnya, trofi bersejarah itu dicuri dari Brasil pada tahun 1983 dan hingga kini tidak pernah ditemukan kembali.

Sebagai gantinya, FIFA memperkenalkan trofi baru pada Piala Dunia 1974. Trofi yang digunakan hingga sekarang terbuat dari emas 18 karat atau sekitar 75 persen emas murni. Tingginya 36,5 sentimeter dengan berat mencapai 6,175 kilogram.

Trofi tersebut bukan sekadar benda berharga, namun merupakan simbol mimpi miliaran manusia.

Sepanjang sejarah, Brasil menjadi negara tersukses dengan lima gelar juara dunia, disusul Jerman dan Italia yang masing-masing mengoleksi empat gelar.

Brasil juga mencatat rekor unik sebagai satu-satunya negara yang selalu tampil di setiap putaran final sejak Piala Dunia pertama tahun 1930.

Sementara itu, Jerman menjadi salah satu negara paling konsisten dengan jumlah pertandingan dan gol terbanyak dalam sejarah turnamen.

Jika pada tahun 1930 hanya diikuti 13 negara, maka edisi 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan diikuti 48 negara. Ini menjadi format terbesar sepanjang sejarah.

Tak hanya sepak bola putra.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Amerika Selatan akan menjadi tuan rumah Piala Dunia Wanita FIFA 2027 yang akan digelar di Brasil. Delapan stadion di Negeri Samba disiapkan untuk menyambut para pesepak bola perempuan terbaik dunia.

Perjalanan hampir satu abad Piala Dunia membuktikan bahwa sepak bola lebih dari sekadar permainan sebelas lawan sebelas.

Sepakbola itu adalah cerita tentang harapan, kebanggaan nasional, persahabatan, air mata, dan mimpi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Mungkin itulah sebabnya dunia rela menunggu empat tahun, termasuk saya dan masyarakat Indonesia di mana saja. Karena Piala Dunia bukan sekadar turnamen.

Tetapi adalah perayaan terbesar umat manusia yang kebetulan dimainkan dengan sebuah bola.

Maka dari itu siap-siap begadang menyaksikan perhelatan terbesar ini, nonton bareng teman-teman atau keluarga.

*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN & Akademisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!