BSI Kalimantan Santuni Anak Yatim Rp50 Juta

0
BANSOS ANAK YATIM

Regional CEO BSI RO IX Kalimantan, Sefudin Suria Hidayat bersama sejumlah anak yatim. (Foto - Humas BSI).

Di tengah laju pertumbuhan bisnis perbankan yang semakin kompetitif, ada pesan sederhana yang ingin dijaga PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Regional Office (RO) IX Kalimantan.

BSI menegaskan pertumbuhan tidak boleh berjalan sendirian, tetapi harus menghadirkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.

Semangat itu diwujudkan melalui program sedekah serentak dan santunan anak yatim, dengan total bantuan mencapai Rp50 juta yang disalurkan kepada anak-anak yatim di berbagai wilayah Kalimantan.

Program ini bukan sekadar kegiatan berbagi, melainkan ikhtiar menghadirkan kebermanfaatan sosial di tengah masyarakat.

Yang menarik, kegiatan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan layanan QRIS sebagai kanal sedekah digital.

Cara ini memungkinkan insan BSI menyalurkan kepedulian secara lebih mudah, cepat, dan transparan membuktikan bahwa transformasi digital tidak hanya bicara transaksi bisnis, tetapi juga bisa menjadi jembatan kebaikan.

Di balik angka bantuan yang disalurkan, tersimpan pesan yang lebih besar, kepedulian sosial tetap memiliki ruang penting di tengah dunia usaha yang bergerak cepat.

Regional CEO BSI RO IX Kalimantan, Sefudin Suria Hidayat, menegaskan  keberhasilan perusahaan tidak seharusnya berhenti pada capaian bisnis semata.

Baginya, pertumbuhan yang sehat adalah pertumbuhan yang ikut membawa dampak bagi masyarakat.

“BSI RO IX Kalimantan ingin memastikan bahwa setiap pertumbuhan bisnis yang kami raih juga menghadirkan keberkahan dan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. Santunan anak yatim ini bukan hanya bentuk rasa syukur, tetapi juga pengingat bahwa masih banyak tangan yang perlu dirangkul bersama,” ujarnya.

Sefudin menilai, anak-anak yatim merupakan bagian dari kelompok yang membutuhkan perhatian bersama.

Dukungan terhadap mereka, kata dia, bukan semata bantuan material, tetapi juga bentuk kepedulian moral agar mereka merasa tidak berjalan sendiri menghadapi masa depan.

Dalam konteks yang lebih luas, langkah seperti ini menjadi penting ketika kesenjangan sosial masih menjadi tantangan di banyak daerah.

Program kemanusiaan tidak selalu harus hadir dalam skala besar, tetapi bisa dimulai dari tindakan sederhana yang konsisten dan tepat sasaran.

BSI melihat kepedulian sosial sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari semangat ekonomi syariah, yakni menghadirkan keseimbangan antara pertumbuhan usaha dan kebermanfaatan sosial.

Hal itu sejalan dengan tren pertumbuhan positif BSI secara nasional pada Triwulan I 2026. Jumlah nasabah tercatat mencapai 23,7 juta, bertambah sekitar 0,5 juta nasabah dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 18 persen menjadi Rp376,8 triliun, dengan dana murah (CASA) meningkat 21,36 persen menjadi Rp236,2 triliun.

Namun bagi BSI RO IX Kalimantan, angka pertumbuhan tidak cukup menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Ada nilai yang ingin terus dijaga bagaimana kehadiran institusi keuangan juga bisa memberi rasa dekat, manfaat, dan harapan bagi masyarakat.

“Pertumbuhan BSI harus bisa dirasakan manfaatnya oleh umat dan masyarakat. Kami ingin hadir bukan hanya sebagai lembaga keuangan, tetapi juga menjadi sahabat masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih baik dan penuh keberkahan,” pungkas Sefudin.

Di tengah dinamika ekonomi yang terus bergerak, langkah kecil seperti berbagi kepada anak yatim mungkin tampak sederhana.

Namun justru dari kepedulian semacam itulah, nilai kemanusiaan tetap menjadi spirit hidupnya BSI. (Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!