Dolar Melambung, Siapa Lindungi Rakyat?

0
HARGA SEMBAKO NAIK

Foto Ilustrasi - Dok Economic Travelling.Com.

Oleh: Apippudin Adnan

Ketika nilai tukar Dolar Amerika Serikat terus menanjak dan Rupiah melemah, pertanyaan paling mendasar yang layak diajukan sebenarnya sederhana adalah siapa yang melindungi rakyat?

Sebab dalam setiap gejolak ekonomi, selalu ada kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya.

Bukan mereka yang duduk di ruang rapat berpendingin udara, melainkan masyarakat biasa yang hidup dari hitungan harian.

Pedagang kecil, petani, buruh, pengemudi ojek, pegawai bergaji tetap, hingga ibu rumah tangga yang setiap hari harus memastikan dapur tetap mengepul.

Banyak orang berpikir kenaikan Dolar hanya urusan investor, bank sentral, atau pelaku ekspor-impor.

Seolah persoalan itu terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari warga kampung. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Dolar yang melambung perlahan masuk ke ruang hidup masyarakat lewat jalur yang sering tidak disadari yakni harga pangan, biaya transportasi, ongkos produksi, hingga tarif kebutuhan sehari-hari.

Kedelai naik karena impor dibayar Dolar. Gandum naik, harga tepung ikut bergerak.

Energi dan bahan bakar ikut terpengaruh karena pasar minyak dunia menggunakan mata uang asing sebagai acuan. Ketika ongkos distribusi naik, harga barang di pasar ikut terdorong.

Akibatnya, rakyat kecil kembali berada di posisi paling rentan. Pendapatan tetap, tetapi pengeluaran diam-diam membesar.

Yang paling menyakitkan dari situasi ini sering kali bukan sekadar harga yang naik, melainkan rasa bahwa keresahan masyarakat tidak cukup dianggap serius.

Ketika publik mulai cemas terhadap nilai tukar dan daya beli, mereka berharap hadirnya negara bukan hanya lewat angka statistik atau pidato penenang, tetapi melalui langkah nyata yang terasa dampaknya.

Karena rakyat tidak sedang meminta janji besar. Mereka hanya ingin kepastian bahwa harga kebutuhan pokok tidak terus merangkak naik, pekerjaan tetap tersedia, dan penghasilan mereka tidak semakin kehilangan nilai.

Di tengah tekanan ekonomi global, tentu tidak adil menyalahkan pemerintah atas seluruh situasi.

Gejolak mata uang adalah persoalan kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, mulai konflik geopolitik, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, kondisi perdagangan global, hingga ketidakpastian pasar internasional.

Namun justru karena situasinya sulit, negara dituntut lebih peka.

Kepekaan itu penting. Sebab ekonomi bukan sekadar grafik pertumbuhan atau angka kurs di layar monitor.

Ekonomi adalah kehidupan nyata, tentang uang sekolah anak, harga minyak goreng, ongkos ke sawah, biaya listrik, dan kebutuhan rumah tangga yang terus dihitung dengan cermat.

Bagi sebagian kalangan, melemahnya Rupiah mungkin sekadar angka. Tetapi bagi rakyat kecil, itu bisa berarti pilihan sulit, untuk mengurangi belanja, menunda kebutuhan penting, atau mencari penghasilan tambahan hanya untuk bertahan.

Dan pertanyaan itu kembali relevan, ketika Dolar melambung, siapa yang benar-benar melindungi rakyat?

Jawabannya semestinya bukan sekadar retorika.

Perlindungan itu harus hadir dalam kebijakan yang menjaga harga tetap terkendali, memperkuat daya beli masyarakat, mengamankan stok kebutuhan pokok, serta memastikan kelompok rentan tidak menjadi korban pertama setiap kali badai ekonomi datang.

Sebab sejarah mengajarkan satu hal, krisis ekonomi selalu lebih cepat terasa di dapur rakyat dibanding di meja kekuasaan.

Dan ketika dapur mulai sepi, keresahan biasanya tidak lagi berbicara lewat angka, melainkan lewat kenyataan hidup sehari-hari.

Penulis adalah Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!