Apakah Bersekolah di Pariwisata Itu Menjanjikan?
Foto Ilustrasi - Foto Risanta (Model : Aulia & Farah).
Oleh : Muhammad Risanta
Pertanyaan ini cukup sering muncul dalam obrolan ringan saya bersama teman-teman jurnalis, pelaku industri wisata, hingga pegiat pariwisata di Banua. Apakah sekolah di jurusan pariwisata benar-benar menjanjikan masa depan?
Maklum saja, sampai hari ini masih ada sebagian masyarakat yang memandang sekolah pariwisata dengan sebelah mata. Pertanyaan klasiknya hampir selalu sama: “Kalau sekolah pariwisata, nanti lulus jadi apa?”
Saya memahami cara pandang seperti itu. Sebagai orang tua, tentu wajar bila ingin anaknya memiliki masa depan yang jelas, pekerjaan yang layak, dan peluang hidup yang baik. Tidak ada yang salah dengan kekhawatiran tersebut.
Namun, menurut saya, terlalu cepat menyimpulkan bahwa sekolah pariwisata tidak menjanjikan juga kurang tepat.
Sebab sesungguhnya, masa depan seseorang bukan semata ditentukan jurusan sekolahnya, tetapi oleh kemauan belajar, kreativitas, mental kerja, kemampuan beradaptasi, dan kecintaan terhadap profesi yang digeluti.
Termasuk di sektor pariwisata.
Masalahnya, kita sering memandang pariwisata terlalu sempit. Seolah-olah lulusannya hanya akan bekerja menjadi pegawai hotel atau pelayan restoran. Padahal, dunia pariwisata jauh lebih luas dari itu.
Pariwisata hari ini telah berkembang menjadi industri besar yang menyentuh banyak sektor, mulai ekonomi kreatif, transportasi, event, digital marketing, kuliner, budaya, hingga komunikasi publik.

Seorang lulusan pariwisata bisa bekerja di maskapai penerbangan, kapal pesiar, biro perjalanan wisata, event organizer, pemandu wisata profesional, travel consultant, industri MICE (meeting, incentive, convention, exhibition), pengelola destinasi wisata, hingga instansi pemerintah dan konsultan pariwisata.
Bahkan di era media sosial seperti sekarang, profesi di sektor wisata makin berkembang. Ada travel content creator, pengelola destinasi digital, fotografer wisata, videografer perjalanan, hingga spesialis promosi destinasi berbasis digital.
Yang menarik, industri hospitality juga bersifat global. Artinya, peluang kerja tidak hanya terbuka di Indonesia, tetapi juga di luar negeri. Banyak lulusan sekolah pariwisata bekerja di resort internasional, hotel berbintang, hingga kapal pesiar dengan jenjang karier dan penghasilan yang kompetitif.
Karena itu, saya pribadi cukup mengapresiasi langkah para praktisi pendidikan yang serius membangun kualitas SDM pariwisata di daerah.
Salah satunya adalah Dewi Setiawati, seorang praktisi pendidikan sekaligus pegiat pariwisata Banua yang konsisten menghadirkan talenta-talenta muda berkualitas melalui pendidikan kepariwisataan.

Sebab membangun pariwisata tidak cukup hanya membangun destinasi. Yang jauh lebih penting adalah menyiapkan sumber daya manusianya.
Di Banjarmasin sendiri, kita mengenal salah satu kampus yang fokus mencetak tenaga profesional bidang hospitality dan perjalanan wisata, yakni Akademi Pariwisata Nasional Banjarmasin atau lebih dikenal dengan AKPARNAS Banjarmasin.
Kampus ini menawarkan pendidikan vokasi yang lebih banyak menekankan praktik langsung, magang industri, dan kesiapan kerja.
Program studinya meliputi Perhotelan serta Usaha Perjalanan Wisata, dua bidang yang masih memiliki peluang besar di tengah pertumbuhan sektor pariwisata nasional.
Bagi saya, sekolah pariwisata bukan soal tren atau sekadar ikut-ikutan. Ini soal kecocokan minat dan keseriusan membangun masa depan.
Jika seorang anak memang memiliki passion di bidang pelayanan, komunikasi, travelling, budaya, kuliner, atau industri kreatif, maka sekolah pariwisata justru bisa menjadi jalan karier yang menjanjikan.
Karena itu saya sependapat dengan anggapan tidak ada jurusan yang benar-benar menjamin masa depan, yang menjamin adalah kesungguhan orang yang menjalaninya.
Dan siapa tahu, dari sekolah pariwisata itulah lahir generasi muda Banua yang kelak memperkenalkan Kalimantan Selatan ke panggung dunia.

