Paman Anum, Merekam Banua Satu Cerita
Di tengah derasnya arus media sosial yang dipenuhi konten serba cepat, ada satu sosok sederhana di Banua yang memilih cara berbeda untuk bercerita.
Namanya Hasan Zainuddin, namun masyarakat lebih akrab memanggilnya Paman Anum,yang dalam bahasa Banjar berarti paman muda.
Belakangan, namanya mulai menjadi perhatian. Bukan semata karena kiprahnya sebagai pegiat lingkungan di Kalimantan Selatan, melainkan karena kebiasaan uniknya, yang bepergian ke berbagai tempat sambil merekam setiap perjalanan melalui kamera telepon genggam.
Bagi sebagian orang, aktivitas itu mungkin sekadar dokumentasi biasa. Namun di tangan Paman Anum, perjalanan berubah menjadi cerita.
Ia merekam kampung-kampung, menyusuri sudut kota, berbincang dengan warga, mengangkat kisah orang Banjar di perantauan, hingga membahas persoalan lingkungan dan dinamika kota dengan gaya bertutur ringan namun menghibur.
Tak jarang, hal-hal sederhana yang luput dari perhatian justru menjadi menarik ketika disampaikan lewat celoteh khasnya. Mulai dari sejarah kampung tua, suasana mawarung selepas salat Subuh, cerita warga, hingga sisi-sisi kecil kehidupan masyarakat Banjar yang perlahan tersimpan dalam arsip video digitalnya.
Tanpa disadari, apa yang dilakukan Paman Anum menjadikannya seperti ensiklopedia berjalan tentang Banua,menyimpan potongan sejarah, kebiasaan masyarakat, hingga perubahan sosial lewat dokumentasi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Yang menarik, semua itu dilakukan tanpa peralatan mahal atau produksi rumit. Cukup dengan telepon genggam di tangan dan rasa ingin tahu yang besar, Paman Anum menjadikan setiap perjalanan sebagai ruang berbagi cerita.
Baginya, membuat video bukan soal mencari popularitas. Aktivitas tersebut lebih sebagai cara menikmati hidup, menjaga pikiran tetap aktif, sekaligus berbagi pengetahuan dengan orang lain.
“Ini hobi untuk mengisi waktu. Dengan bercerita setidaknya bisa membuat orang tidak pikun. Hidup ini kita syukuri, dinikmati, sekaligus berbagi,” ujar Paman Anum dengan gaya santainya.
Di era ketika banyak orang berlomba menjadi kreator konten demi angka dan algoritma, Paman Anum justru hadir dengan kesederhanaan. Tidak dibuat-buat, tidak penuh sensasi. Hanya seorang lelaki yang senang berjalan, merekam, lalu bercerita tentang kehidupan di sekitarnya.
Barangkali, di situlah daya tariknya. Sebab lewat kisah-kisah sederhana itu, Paman Anum tidak hanya sedang travelling, tetapi juga sedang menjaga ingatan kolektif tentang Banua, satu video demi satu cerita.(Risanta).
